Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
(Season 3) Mulai Bertingkah


__ADS_3

Washington DC.


Regina kembali ke kota kelahirannya dengan perasaan kacau, sungguh banyak hal yang dia lalui ketika berkunjung ke rumah sepupunya di Florida kali ini.


Dari mulai merasa patah hati, di lecehkan bahkan hampir melakukan hal yang akan membuat hidupnya hancur berantakan.


Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah datang ke Florida lagi kalau tidak ada acara penting di sana.


Lagian dulu tujuannya ke Florida karena ingin bisa bertemu dan dekat dengan Aland.Tetapi setelah kejadian yang di alaminya bersama Aland di Miami waktu itu, membuat Regina merasa marah, malu, dan juga dia tidak ingin menampakan batang hidungnya lagi di depan Aland.


Regina akan fokus untuk mulai bekerja di perusahaan Dimitri Grup. Karena setelah lulus kuliah gadis cantik itu selalu disuruh oleh orang tuanya untuk segera bekerja di perusahaan sang pipi Washington DC.


Regina ingin menjadi wanita karir tanpa harus memikirkan tentang masalah laki-laki, baginya sudah cukup harus selalu menjadi gadis bodoh tidak berguna hanya karena Aland.


Dari mulai merasa patah hati, di abaikan, di acuhkan bahkan terkadang sengaja di hindari sudah pernah dia rasakan.


"Sayang, kenapa wajahmu sembab seperti itu?" Tanya Daniella ketika melihat putrinya yang baru saja pulang dari rumah saudaranya Arshel.


"Tidak apa-apa Mimi, aku hanya kelelahan kemarin juga habis liburan ke Miami, jadi rasanya lelah dan capek." Jawab Regina tidak berbohong.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja dulu nak," Regina mengangguk sekilas kemudian pergi berlalu menuju lantai atas.


Gadis langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya.


Beberapa hari kemudian.


Regina melakukan aktivitas seperti biasanya, tetapi hari ini dia sangat malas pergi ke kantor, karena masih belajar menekuni bisnis gadis itu belum terlalu fokus dan terkadang masih ingin belajar hal lain.


Jam menunjukkan pukul 10 siang, Regina hanya rebahan seperti orang pengangguran yang banyak uang, tentu saja banyak uang, warisan keluarga nya tidak akan habis tujuh turunan bahkan ke sepuluh turunan.


Ada pesan masuk di ponselnya, gadis itu melihat nama Aland yang mengirimnya pesan. Entah kenapa sekarang ia merasa sangat malu pada Aland. Bukankah seharusnya dia berterima kasih karena Aland telah menyelamatkan dari Edward, tapi Gadis itu tidak bisa melakukannya. Hanya Malu dan marah pada dirinya sendiri.


'Lagi apa, Re?'


'Apa kamu masih marah padaku?'


Regina meremas ponselnya kesal, Padahal dia sudah bertekad untuk melupakan perasaannya kepada Aland yang tidak pernah menganggapnya sama sekali. Di saat dia sudah berhasil menata hati, pria yang bernama Aland itu berbalik menjadi sangat peduli dan perhatian.


Regina harus melupakan perasaannya pada Aland karena pria itu juga sudah memiliki kekasih.


'Ayolah Re, kenapa gak di bales?'

__ADS_1


Sebuah pesan kembali masuk.


Regina saat ini sudah merasa sangat malas untuk menanggapi Aland.


'Aku tidak marah.'


Tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan pesan dari pria itu.


'Aku senang kalau kamu beneran tidak marah, Re.. maafkan aku.'


Lagi-lagi Regina merasa ada yang aneh, dipermainkan oleh Aland, ya kenapa baru sekarang Aland berubah seperti ini.


Regina ingat bagaimana dulu Aland tidak peduli padanya, kenapa sekarang Aland selalu mengirim pesan terlebih dahulu dan menanyakan bagaimana keadaannya.


'Aku takut kalau kamu marah.'


Lagi dan lagi, Aland mengirim pesan lagi kalau Regina tidak membalasnya.


'Hemm'


Hanya itu balasan dari Regina.


'Kenapa singkat banget balesnya? padahal dulu kamu biasanya kirim pesan padaku sudah kaya kereta.'


Cih, dasar bodoh. Batin Regina.


Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri, kenapa juga dulu dia selalu melakukan hal memalukan seperti itu.


'Aku besok weekend akan ke Washington DC, ada sebuah proyek kerja sama dengan Alvares Group.'


'Oh,,,'


Hanya sesingkat itu, hal yang sama dulu pernah Regina rasakan saat masih mengejar Aland. Pria itu hanya membalas singkat pesan dari Regina. Bahkan kadang hanya satu huruf saja.


'Pendek banget? apa kamu tidak mau tanya aku sedang apa?'


Euhh, narsis banget!.


'Aku mau mandi.'


Pesan terkirim.

__ADS_1


'Aku ikut ya,,, heheh bercanda, nanti yang ada malah gak jadi mandi 😁😅'


Regina melotot tidak percaya, wajahnya memerah seketika, entah karena malu atau marah, yang jelas dia pasti sangat malu karena Aland sudah pernah melihat tubuhnya, bahkan sudah mencicipinya sebagian.


Regina tidak membalas pesan itu. Dia langsung meletakkan ponselnya di nakas dan kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Kenapa jadi semakin rumit seperti ini,, membuatku kesal saja." Gerutu Regina.


Sedangkan di sisi lain.


Aland sedang berada di kantor, pria itu terlihat tidak konsentrasi dalam bekerja. Sedari tadi matanya tidak fokus, antara layar laptop dan layar ponsel, dua-duanya dia lihat secara bergantian.


Aland mengambil ponselnya ketika merasa sudah tidak ada balasan dari seorang gadis yang beberapa hari ini selalu menganggu pikirannya.


"Kenapa tidak di bales? apa dia marah padaku?"


Sepertinya Aland merasakan karma atau semacamnya. Dulu saat Regina selalu mengganggunya, pria itu seakan tidak peduli. Tapi sekarang tidak mengirimkan pesan barang sehari saja rasanya sudah tidak tahan.


"Masa mandinya lama sekali, ini sudah tiga jam lebih." Gerutu Aland.


Sudah seperti orang yang sedang menunggu balasan pesan dari kekasihnya, layaknya pasangan kekasih, pria itu merasa gusar kalau Regina tidak membalas ponselnya.


"Re, jangan membuat ku menunggu lebih lama lagi, ya,, Meskipun aku tahu terkadang kamu tidak membalas pesan dariku, dan akan membalasnya di malam hari, tapi aku akan selalu sabar... Apakah ini yang dulu sering kamu rasakan pada saat aku selalu mengabaikan pesan darimu?"


Aland bahkan sudah tidak berhubungan dengan Susy lagi, semenjak di mana Sherena menceritakan tentang Susy yang menyembunyikan identitasnya, membuat Aland langsung mengintrogasi kekasihnya dan mendapati kenyataan bahwa Susy memang telah membohongi nya.


Tok, tok, tok!


"Masuk!"


Seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun masuk sambil membawa beberapa dokumen.


"Maaf Tuan, ini ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani." Wanita yang tidak lain adalah sekretaris pribadi Aland memberikan senyuman terbaiknya.


"Wilia, tolong mulai sekarang ganti baju kamu yang ketat itu, aku tidak suka melihatnya! bisa merusak potensi dan juga suruh office boy mengantarkan ku kopi hitam."


"Baik, Tuan." Wanita itu langsung pamit pergi karena mendapatkan tatapan tajam dari Aland.


Willia benar-benar merasa aneh dengan tingkah laku atasannya itu.


"Ada apa dengan Tuan Aland, biasanya dia tidak pernah meneliti caraku berpakaian? apa dia sedang patah hati?" Gumam sekretaris itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2