
Happy Reading 🥺
Danish melihat Jimmy yang sedang menggendong Lula itu, matanya melotot sempura dan tentu saja dia shock melihat siapa yang pingsan itu.
"Sial! LULA!!" teriak Danish berlari ke arah Jimmy yang sudah menggendong Lula.
Franklin juga sangat terkejut melihat siapa orang yang pingsan itu yang ternyata adalah istri dari bosnya.
"Gawat, bakal ada perang dunia ke tiga ini!" ucap Franklin yang ikut berlari menghampiri Lula.
Kedua wanita yang semeja dengan Danish saling memandang dan belum mengerti apa yang terjadi, mereka adalah klien Danish dan juga Asistennya.
"Memangnya siapa orang itu?" tanya wanita berambut pendek.
"Entahlah Nona Gabriella, mungkin istrinya Tuan Danish, setahuku dia sudah menikah," jawab wanita itu.
"Sepertinya Tuan Danish sangat mencintai istrinya, aku melihat raut kekhawatiran di wajahnya itu Britney," ucap Gabriella.
"Iya Nona, maaf tidak memberitahu mu kalau Tuan Danish sudah memiliki istri," ucap Britney merasa tidak enak pada atasannya itu karena Britney bisa melihat tatapan mata Gabriella yang menatap kagum pada Danish.
"Tidak apa-apa Britney, aku tidak akan menaruh hati pada pria yang sudah beristri, ya meskipun aku memang sudah menyukai Tuan Danish dari sejak pertama kali bertemu," jawab Gabriella.
"Sepertinya asisten Franklin menyukai mu Nona, lihatlah dia membelikan gaun khusus untuk mu untuk menghadiri acara pesta perusahaan Alvares," ucap Britney.
Gabriella tersenyum, dia memang di undang dalam acara perayaan di perusahaan Danish tersebut. Itu pun yang mengusulkan adalah asisten Franklin.
"Entahlah Britney, aku tidak tahu, asisten Franklin memang baik sih tapi dia bukan tipe ku," jawab Gabriella.
Sedangkan Danish terlihat begitu panik melihat Lula yang pinsan itu.
"Brengsek, jangan sentuh istriku!!" seru Danish mengambil Lula dari gendongan Jimmy.
"Maaf tuan, tadi Nona Lula pingsan dan saya akan membawanya ke rumah sakit," jawab Jimmy.
Danish menatap tajam ke arah Jimmy.
"Lain kali jangan pernah mencoba menyentuh Lula-ku, jaga matamu juga, jangan pernah berani menatapnya!" seru Danish.
Kemudian dia langsung membawa Lula keluar dari dalam restoran sambil menggendong Lula ala bridal style.
__ADS_1
Banyak pasang mata melihat adegan di mana seorang CEO terkenal sedang membawa wanita hamil dengan mata yang memerah. Tentu saja Danish menahan segala rasa yang berkecamuk saat ini.
Antara sedih, khawatir, panik dan rasa marah untuk dirinya sendiri, Danish merasa sangat bersalah terhadap istrinya karena dia tidak bisa menjaga Lula dengan baik.
Apalagi dengan kondisi Lula yang tengah hamil calon 3 anaknya itu, membuat Danish tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lula.
"Franklin, siapkan mobil!!" teriak Danish memenuhi seluruh Mall.
Bisa di lihat bagaimana paniknya dia saat ini.
"Baik bos!" Franklin langsung berlari ke arah parkir yang ada di Mall tersebut.
"Sayang, bertahanlah, tolong jangan membuatku takut," ucap Danish.
Dia begitu khawatir dengan keadaan Lula yajg pingsan itu. "Lula sayang, ada apa denganmu? kenapa kamu bisa di sini!" Danish masih terus mengajak Lula berbicara sambil berjalan keluar dari Mall.
Banyak orang yang menatap kagum pada CEO muda yang terkenal angkuh dan arogan bisa terlihat kacau hanya karena sang istri yang pingsan itu.
"Lihatlah, itu kan CEO muda yang sedang terkenal itu, dia terlihat sangat mencintai istrinya ya? ahh baper deh lihat mereka."
"Namanya juga istrinya, tentu saja dia begitu mencintainya, tapi aku juga mau menjadi istri dari CEO Danish."
Itulah komentar dari beberapa orang yang melihat pemandangan Danish dan Lula.
Franklin sudah bersiap di pintu keluar dan langsung membukakan pintu belakang ketika melihat bosnya yang sudah datang.
Akhirnya Franklin melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.
###
Di rumah sakit.
Lula sudah di bawa masuk ke dalam ruang UGD untuk di periksa.
Terlihat raut khawatir di wajah Franklin ketika melihat bosnya yang sudah terlihat kacau itu.
"Sialan, bodoh aku benar-benar bodoh!!" seru Danish.
Danish membanting ponselnya ketika melihat dua panggilan masuk dari Lula.
__ADS_1
"Bos, sabarlah, Nona Lula di dalam sana sedang di periksa, jangan sampai seisi rumah sakit menjadi heboh karena kemarahan dan emosimu bos, kendalikan diri," ucap Franklin berusaha menenangkan Danish.
"Franklin, tadi siang Lula meneleponku tapi ponselku tertinggal di mobil, pasti dia menyuruhku untuk menemaninya ke Mall itu, aku benar-benar ceroboh Franklin!!" seru Danish mencengkeram kerah asistennya itu.
"Iya bos, tenanglah dulu, saat ini jangan merasa bersalah karena itu, yang harus kita pikirkan adalah kondisi Nona Lula dan calon Baby kalian baik-baik saja," Franklin berusaha memberikan pengertian.
Danish mengepalkan tangan dan mengarahkan ke dinding, meluapkan segala emosi jiwanya yang merasa sangat kacau karena kecerobohannya itu, mungkin kalau ponsel Danish tidak lupa membawa ponsel-nya bisa di pastikan Lula tidak akan berada di rumah sakit seperti saat ini.
"Franklin, apa tadi Lula sempat melihat kita di restoran? apa dia merasa aku berselingkuh dengan wanita lain karena tidak menjawab panggilannya, kemudian Lula melihat kita sedang makan siang dengan Gabriella lalu akhirnya dia pingsan seperti itu?" tanya Danish menduga-duga.
"Bisa jadi bos, memang kalau orang cinta itu benar-benar peka ya terhadap pasangannya, sepertinya spekulasi mu benar semua bos," jawab Franklin semakin membuat Danish merasa bersalah.
Bukannya memberi jawaban yang menenangkan hati bosnya itu tapi malah semakin mengompori saja.
Danish hampir saja memukul Franklin kalau dia tidak mendengar dokter keluar dari ruang UGD itu.
"Tuan Danish, Nona Lula saat ini sudah sadar, kandungannya juga baik-baik saja, harus banyak istirahat agar kondisinya lebih stabil," ucap Dokter tersebut.
"Benarkah dok? lalu apa penyebab Lula pingsan?" tanya Danish penasaran.
"Nona Lula mengalami syok dan tekanan darahnya rendah, tapi sudah kami tangani dengan baik," jawab dokter tersebut.
"Terima kasih dokter, aku mau lihat kondisi istriku dulu," ucap Danish langsung masuk ke dalam ruang UGD.
Lula menatap kosong ke arah langit-langit, tubuhnya masih terasa lemah. Danish melihat sang istri yang terbaring di ranjang pasien dengan tatapan sedih dan terluka.
"Sayang, bagaimana keadaan mu?" tanya Danish mendekat ke ranjang dan menggenggam tangan Lula.
Lula hanya diam saja, dia masih merasa marah dengan Danish karena kejadian tadi siang.
"Lula, sayang aku sangat minta maaf karena tidak mengangkat panggilan darimu, tadi ponselku tertinggal di mobil dan aku sedang meeting bersama klien sekaligus makan siang di restoran itu, aku sama sekali tidak selingkuh dari mu sayang, jangan sampai kamu berpikiran bahwa aku menduakan mu sayang, itu tidak akan pernah terjadi, apalagi dengan hadirnya triplet Baby kita, aku benar-benar merasa bahagia akan menjadi Daddy dari tiga Baby, sayang jangan marah padaku, aku benar-benar mencintaimu," ucap Danish merasa sangat menyesal.
Lula masih diam tanpa menatap ke arah Danish, hatinya masih kalut dan pikirannya benar-benar tidak bisa berfikir.
Danish mencium tangan Lula berkali-kali, matanya bahkan sudah basah berlinang air mata. Danish tidak ingin kehilangan Lula lagi, hatinya begitu sakit melihat sang istri yang hanya diam saja tanpa mau menatap ke arahnya.
Bersambung.
Mohon dukungannya terus ya akak Reader 🥰🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺🥺
__ADS_1