Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
(Season 2) Kemarahan Sean


__ADS_3

Happy Reading 😊


Daniella dan Zack baru saja sampai di rumah setelah mengerjakan tugas kuliah seharian ini, pada saat Daniella akan naik ke lantai atas menuju kamarnya tiba-tiba dia terpeleset di tangga dan jatuh berguling ke bawah.


Semua orang yang melihat itu langsung terkejut, Mommy Lula berteriak melihat anak gadis nya yang jatuh itu. Zack segera berlari dan membawa Daniella duduk di sofa di mana sudah ada Daddy Danish dan juga Mommy Lula yang melihat nya dengan khawatir.


"Ya Tuhan sayang, lututmu bengkak!" seru Mommy Lula.


"Sini sayang, biar Daddy lihat!" Danish memegang kaki putrinya yang di pakai bertumpu saat jatuh tadi.


"Unckle, biar aku pijat kaki Ell!" Zack segera mengambil alih memegang kaki Daniella yang memang sedikit bengkak di bagian lututnya itu.


"Zack, aahh saakiitt!!"


"Iya aku akan pelan-pelan my love," Zack berusaha memijit lutut Ell agar tidak tambah membengkak.


"Tapi aku takut Zack!" Daniella merasa kesakitan ketika Zack memijit kakinya.


Karena merasa kurang nyaman mengurut kaki Ell tanpa minyak Zack menyuruh bibi Ellen untuk mencari minyak urut.


"Jangan di urut, ini sakit sekali!"


"Sudah menurutlah, nanti lama-lama juga akan terbiasa dan tidak sakit lagi, bentar ya aku cari pelumas dulu biar licin dan gakan sakit!"


Bibi Ellen datang dengan membawa sebotol minyak sejenis minyak gandapura dan di serahkan pada Zack.


"Pelan-pelan!" seru Daniella.


"Aku sudah tidak tahan lagi, sebaiknya bawa ke dokter saja!" ucap Mommy Lula.


"Biarkan Zack mengurut kaki Daniella sayang, nanti kalau semakin bengkak aku akan memanggil dokter pribadi untuk ke sini," jawab Daddy Danish menatap Zack yang bersikeras memijat kaki putrinya itu.


###.


Setelah puas menonton film bengenre dewasa di bioskop yang bisa merusak mata itu akhirnya Ke Empat orang itu memutuskan untuk pulang ke rumah.


Kenzo mengantarkan Mia terlebih dahulu karena rumah Mia berlawanan arah, sedangkan Arshel dan Evelyn langsung pulang ke rumah Papa Danish karena rencananya Evelyn mau menginap di sana.


Kenzo memberhentikan mobilnya di sebuah gang kecil di sisi jalan. Rumah Mia memang berada di tengah-tengah pemukiman padat, harus melewati sebuah gang kecil dulu dengan berjalan kaki.


"Terima kasih sayang, aku keluar dulu ya," ucap Mia.


Kenzo menunjuk pipinya dengan jari telunjuk. Mia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengerti kode yang di berikan oleh Kenzo.


Cup, cup, cup.


"Sudah, nanti Papa dan Mama mencariku, sampai jumpa besok," ucap Mia.

__ADS_1


"Besok ada jam kuliah, aku jemput ya? oh ya oleh-oleh buat Papa dan Mama jangan lupa di bawa," Kenzo mengambil dua paper bag di kursi belakang.


Pria itu memang selalu membelikan hadiah untuk kedua calon mertuanya, padahal Mia sudah sering menolak tapi Kenzo mengatakan bahwa dia juga menyayangi kedua orang tua Mia.


"Ken, kamu tidak perlu repot-repot selalu memberikan ...!"


"Ssttt! aku tidak suka penolakan kalau menyangkut Papa dan Mama!" Mia pun kalah kalau Kenzo sudah berucap seperti itu.


"Jangan tidur terlalu larut ya, jangan lupa berdoa dan mimpiin aku!" ucap Kenzo.


Diapun mencium bibir Mia sekilas dan mengelus lembut rambut Mia. Sekarang Mia sudah tidak memakai kacamata lagi, Kenzo sangat suka menatap mata bening gadisnya yang berwarna Hazel itu.


Kemudian Mia turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Lalu diapun langsung berbalik badan dan melangkah ke gang kecil itu dengan membawa dua paper bag besar.


"Kenzo memang pria yang baik, tapi sebenarnya aku tidak suka kalau dia selalu memberikan barang-barang seperti ini," gumam Mia sambil terus berjalan.


"Mia, tunggu dulu!" tiba-tiba dari arah depan Mia di hadang oleh pria yang sangat di kenalnya.


"Sean? kenapa kau ada di sini?" Mia sedikit terkejut dengan kehadiran Sean.


Pria itu menatap tajam ke arah Mia sambil bersedekap dada.


"Aku ingin bicara padamu!" Sean berjalan mendekat.


"Sean, besok saja bicaranya ya, ini sudah malam," jawab Mia masih tenang.


"Apa maksudnya Sean, aku tidak mengerti ucapan mu dan kamu tahu ucapan mu itu sangat melukai harga diriku Sean!" Mia menatap tajam ke arah sahabat nya itu.


"Heh, tapi itulah kenyataannya kan Mia, dulu kamu menolakku dan mengatakan masih ingin fokus kuliah, waktu itu aku mau menerima alasan mu Mia, tapi sekarang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu bersama pria kaya itu, selalu menggodanya bahkan berciuman di belakang restoran, apa itu namanya kalau bukan ja lang!" Mia mengepalkan kedua tangannya yang masih memegang tali paper bag itu.


"Aku bukan seperti itu Sean, aku memang mencintai Kenzo dan kami saling mencintai, jadi jaga bicaramu itu! aku kecewa padamu Sean!" Mia menahan sesak di dadanya.


Matanya memanas menahan cairan bening yang terasa akan keluar, sungguh tidak bisa di percaya kalau sahabat satu-satunya itu menuduhnya dengan tuduhan yang begitu kejam.


Mia tidak mau meladeni Sean lagi, dia terus melangkah melewati Sean yang sudah emosi itu. Tapi pada saat berseliringan, Sean mencengkram lengan Mia kuat, diapu menarik Mia ke dalam pelukannya.


"Sean, lepaskan brengsek!! aku benci padamu!!" Mia meronta.


Paper bag yang di bawahnya sudah jatuh ke tanah. Sean memeluk Mia erat, dia tidak rela kalau gadis itu memilih pria yang lebih kaya darinya.


"Aku tidak suka kamu bersama pria itu! memangnya selain harta apalagi yang kamu dapat darinya? sebuah kepuasan! akupun bisa melakukan nya Mia!" ucap Sean di telinga gadis itu.


Mia sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi, diapun menginjak kuat kaki Sean hingga pria itu merasa kesakitan dan akhirnya melepaskan pelukannya.


"Mia, kenapa kamu melakukan ini padaku!! oh aku tau ternyata benar ya kamu menjual tubuhmu hanya demi mendapatkan barang mewah dan uang yang banyak!"


PLAK!!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sean.


"Tutup mulutmu Sean, aku bukan gadis seperti itu!!" Luluh sudah air mata yang Mia tahan.


Dia sudah tidak kuat di katakan sebagai wanita ja lang. Tidak pernah di bayangkan bahwa Sean sangat tega mengejeknya seperti itu.


Sedangkan Sean juga sudah di bakar api cemburu, dia langsung menyerang Mia dan mencoba untuk menciumnya.


"Sean, brengsek lepaskan aku!!" teriak Mia.


Suasana di tempat itu sudah sepi, semua orang sudah terlelap sehingga tidak ada yang mendengar teriakan Mia.


Sean sudah seperti kerasukan setan, dia tidak menggunakan akal sehatnya lagi, yang dia mau adalah Mia, Sean selama ini begitu mengagumi Mia karena menyukai kepribadian gadis itu.


Pria itu masih berusaha mencium Mia yang selalu menoleh ke kiri dan kanan agar pria itu tidak berhasil menciumnya.


Merasa sangat marah akhirnya pria itu merobek baju yang di pakai Mia dari atas bahunya.


"Aaakk TOLONG!! TOLONG!!"


Mia berusaha mendorong tubuh Sean yang besar itu tapi tetap saja tenaga Mia yang kecil tidak bisa mengalahkan tenaga Sean.


Sean mengunci tangan Mia yang sedari tadi memukul dadanya dengan sedikit dorongan. Pria itu menurunkan wajahnya ke arah dada besar Mia dan ingin segera melahap habis benda kenyal yang masih tertutup sebagian baju itu.


Mia sudah merasa lemas karena sedari tadi melawan Sean, tenaganya terkuras habis dan Mia merasa tidak berdaya.


Pada saat Sean sudah merobek seluruh baju tipis Mia dan hanya menyisakan penutup berenda warna merah itu , mata Sean berbinar dan ingin segera membenamkan wajahnya di benda kenyal dan besar itu.


Wajah Sean sudah semakin dekat tiba-tiba ada sebuah tarikan kuat di rambutnya sampai kepalanya mendongak ke belakang.


Bugh! bugh! bugh!


"Baji ngan!! apa yang kau lakukan pada kekasih ku!! teriak Kenzo sambil memukul wajah Sean berkali-kali.


Mia langsung merosot duduk di jalan, seluruh tubuhnya sudah gemetar hebat, dia bisa melihat Kenzo yang sedang menghajar Sean membabi buta.


Kenzo mengumpat menyumpahi Sean sambil menendang pria yang sudah terkapar tak berdaya itu.


Kenzo tersadar saat melihat Mia yang tiba-tiba ambruk pingsan dengan keadaan yang sudah berantakan.


"MIA ... !!" Kenzo berlari menghampiri kekasihanya itu.


Hatinya begitu sakit melihat keadaan Mia yang sudah setengah tela njang. Kenzo langsung membopong Mia ke arah mobilnya. Dia akan mengabari orang tua Mia nanti. Saat ini yang dia pikiran adalah membawa Mia ke tempat yang lebih aman.


Bersambung.


Mohom kritik dan saran yang membangun 🙏🙏🥰😍

__ADS_1


__ADS_2