
Happy reading 🥰
Franklin mengajak Fanny ke suatu tempat, dia harus menanyakan tentang menghilangnya Fanny setelah malam itu. Apalagi saat ini dia tahu kalau Fanny ternyata berada di Florida bersama Harry.
"Franklin lepaskan tanganku, kenapa kamu mengajak ku ke kamar?" seru Fanny.
Franklin memang sengaja membawa Fanny ke kamarnya, dia harus mengatakan semua perasaan yang selama ini berkecamuk di hatinya itu.
"Fanny, kenapa kamu menghidariku?" Franklin memegang bahu wanita di hadapannya itu.
"Aku tidak menghindarimu, aku hanya pergi menjauh dari semua masa laluku, maaf Franklin kalau kamu hanya ingin mengatakan hal tidak penting seperti ini sebaiknya aku kembali pada Harry saja," jawab Fanny serius.
"Alasan apa ini? menjauh dari masa lalumu? kenapa kamu melakukan hal itu?" Franklin menatap manik mata Fanny yang berwarna coklat itu.
"Kenapa? aku tidak ingin terbelenggu dengan semua itu, aku hanya ingin hidup bahagia bersama kekasihku saat ini?" jawab Fanny.
"Kekasih, aku tidak suka mendengar hal itu Fanny," Franklin menahan emosinya.
Entah kenapa mendengar Fanny mengatakan hal itu Franklin sangat tidak suka.
"Fanny tatap mataku, mata ini sangat merindukanmu, tubuh ini seakan tidak berdaya melihat mu bersama pria lain, aku mengaku salah padamu, tolong maafkan aku," ucap Franklin masih memegang bahu Fanny.
__ADS_1
"Lalu kenapa?" tanya Fanny.
"Kenapa? Fanny hatiku terasa hancur melihat sikapmu yang seperti ini, aku benar-benar merasa patah hati karenamu," jawab Franklin menahan sesak di dadanya.
"Patah hati? kenapa patah hati?"
"Aku akan jujur padamu Fanny, aku baru menyadari semua ini, perasaan ini dan juga semua rindu yang nyata ku rasakan, aku mencintaimu, " ucap Franklin masih menatap wajah cantik di depannya itu.
Fanny sedikit terkejut mendengar ucapan pria casanova satu ini, apa tadi yang dia ucapkan, adalah sebuah kalimat untuk menghibur? kata-kata cinta yang mustahil keluar dari mulutnya itu.
"Apa tadi kamu bilang? cinta?" Fanny memicingkan matanya
"Iya, ternyata selama ini aku mencintaimu Fanny, kenapa aku baru sadar setelah kepergian mu, maafkan aku," Franklin berusaha memeluk wanita itu tapi Fanny mengelak.
Franklin begitu terkejut mendengar ucapan wanita di depannya ini.
"Menikah?"
"Ya, aku dan Harry sebentar lagi akan menikah, jadi semuanya sudah terlambat, kamu tidak pernah paham dengan diriku, kamu sama sekali tidak pernah menghargai ku sebagai seorang wanita, maaf Franklin, semuanya sudah cukup sampai di sini!" Fanny melepaskan tangan Franklin dari bahunya.
Kemudian dia pergi dari kamar Franklin dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Air matanya luluh sudah, sedari tadi dia menahan agar tidak terjatuh apalagi di hadapan Franklin.
__ADS_1
"Hiks, hiks kenapa kamu melakukan semua ini padaku, kenapa harus mengatakan kata-kata itu, padahal aku sudah bersusah payah menata hatiku kembali agar tidak sedih, tapi hatiku begitu rapuh Franklin, melihat matamu yang menyiratkan kesedihan itu membuat hatiku serasa di sayat belati tajam, tolong jangan mengobrak abrik perasaan ku!!" Fanny memukil dadanya berkali-kali karena merasa sesak.
Dia menyandarkan tubuhnya di tembok sambil berusaha menetralkan rasa sakit dan sesak di hatinya.
"Aku sudah menerima Harry dan memutuskan untuk memilihnya, menerima lamarannya dan akan menikah, aku punya sebuah impian rumah tangga yang bahagia, suami yang mencintai ku seperti Harry, itulah impian setiap wanita si dunia ini, maaf Franklin, sudah ku kubur dalam-dalam rasa cinta ku padamu, aku harap kamu bisa benar-benar berubah dan menemukan wanita lain yang juga menerima mu apa adanya, aku sudah tidak sanggup lagi harus menahan semua ini," Fanny menghapus air mata di wajahnya dengan kasar.
Dia sudah memilih menghindar dan pergi meninggalkan masa lalu, dia sudah menemukan pria sebaik Harry yang tulus mencintai nya. Fanny tidak akan menyakiti hati Harry yang benar-benar baik dan mencintai Fanny apa adanya.
###
Franklin memukul tembok berkali-kali, seakan melupakan segala emosi yang mendera jiwanya, rasa sakit itu semakin besar saat mengetahui bahwa Fanny benar-benar sudah menyingkirkan dirinya dari hati Fanny.
"Fanny!!! Aakk maafkan aku!! aku menyesal telah menyia-nyiakan ketulusan cintamu selama ini, Fanny apakah keputusan mu tidak bisa di rubah lagi, aku akan memperbaiki nya," Franklin berteriak di dalam kamar hotel dengan mata yang sudah basah.
Apakah ini akhir dari kisah sang Casanova, ditinggalkan pas sayang-sayangnya, mulai menyadari perasaan tapi semua sudah terlambat.
Fanny sudah memiliki tambatan hati lain, apakah hidup Franklin bisa menjadi seperti dulu saat masih bersama Fanny.
Apakah semuanya benar-benar akan menjadi kenangan terindah??
Bersambung.
__ADS_1
Maaf partnya cuma pendek, othor udah gak kuat ngetiknya.
Mudah-mudahan bisa ngena di hati ya akak Reader 🥰🥰