
Happy Reading 😊
Rigen menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar bergaya eropa. Pria itu mendapatkan alamat dari seseorang yang mengirimkan pesan di ponselnya dan mengatakan bahwa Emma dalam bahaya. Tentu saja hal itu membuat Rigen langsung panik dan khawatir, apalagi ini menyangkut dengan Emma, kekasihnya. Rigen sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan Emma yang sedang dalam bahaya.
Pria itu keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan cepat ke arah pintu gerbang yang sangat tinggi. Tempat itu sunyi seperti tidak berpenghuni, tetapi tidak bisa di pungkiri bahwa rumah itu adalah milik orang kaya, melihat bagaimana megahnya bangunan itu
Pada saat Rigen akan membuka pintu gerbang itu, tiba-tiba dia berhenti dan melihat ponselnya, sebenarnya Rigen merasa curiga, dari mana orang itu tahu nomernya, apa benar Emma dalam masalah?
"Mungkin saja memang Emma dalam bahaya, iya benar, tidak ada yang tahu hubungan ku dengan nya bukan? Kalau ada orang yang menghubungiku, Itu artinya memang beneran Emma dalam bahaya!" Gumam Rigen mengepalkan tangannya.
Pria itu mendorong gerbang dan langsung masuk begitu saja. Rigen telah berada di depan pintu berwarna coklat yang menjulang tinggi. Tangannya terulur menyentuh handle, pikiran nya saat ini benar-benar kalut tidak menentu.
Ceklek!
Pintu itu tidak di kunci, Rigen masuk dan melihat suasana yang begitu gelap dan sunyi, seperti tidak ada tanda-tanda orang di dalam sana.
"EMMA!!" Rigen berteriak memanggil kekasihnya.
"Emma, kamu di mana!" Lagi, pria itu berteriak sambil terus masuk ke dalam. Matanya menelisik setiap sudut ruangan yang berada di dalam rumah itu.
Rigen masih berteriak kencang memanggil wanita yang sangat di cintainya itu, takut terjadi apa-apa dengan nya, padahal baru tadi sore mereka masih telepon. Dan setelah itu dia meminta izin pada Emma untuk pergi mengantarkan sepupunya.
__ADS_1
Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu yang basah, di dalam ruangan itu gelap sekali, hanya ada cahaya dari lampu pijar yang menggantung di langit-langit, meskipun begitu Rigen masih bisa melihat sekeliling.
"Apa ini?" Pria itu berjongkok dan melihat sesuatu di lantai, entah kenapa seperti nya dia menginjak sesuatu genangan air.
Deg! Jantung nya berdegup kencang.
"Cairan ini berwarna merah!" Gumam Rigen saat menatap genangan yang berada di bawah kakinya. Pikiran nya mulia kacau, tapi Rigen masih berusaha tenang.
"Tapi tidak berbau amis!' Gumamnya.
Setelah mencium lantai yang menggenang itu.
Pria itu seperti mendengar sebuah suara seorang wanita tengah menangis. "Emma!! Kau kah itu!!"
"Hiks, hiks, tolong!" Rigen mendengar suara wanita lagi dan kali ini suara itu terdengar jelas dan meminta tolong.
Pria itu langsung berlari menuju ke lantai atas, di mana suara tangisan itu semakin terdengar. Napas Rigen memburu, sepertinya dia begitu takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan Emma. Rigen melihat sebuah pintu di sisi ujung di mana suara tangisan itu semakin terdengar dekat.
Rigen segera membuka pintunya dan matanya langsung membelalak sempurna kala melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.
"SURPRISE!"
__ADS_1
Tiba-tiba lampunya menyala, Rigen begitu shok dan terkejut melihat di dalam kamar itu.
"Happy birthday, my lovely!" Emma berdiri dengan membawa sebuah kue tart yang sudah ada lilinnya.
Di sana juga ada beberapa orang yang Rigen sendiri sudah sangat kenal.
"Mommy? Daddy? Kalian ada di sini?" Tanya Rigen fokus kepada orang-orang yang berada di dalam kamar, bukannya merasa terharu dengan Emma yang sudah berdiri di hadapannya sambil membawa kue tart itu.
"Iya sayang, kami ada di sini. Selamat ulang tahun ya, putra Mom dan Dad sudah besar ternyata." Ucap Mia tersenyum.
"Sayang, apa kamu sudah tahu semuanya?" Tanya Rigen menatap Emma.
Gadis itu mengangguk. "Tante Mia dan Paman Kenzo adalah orang tuamu dan kamu bukan orang miskin, aku sudah tau semuanya." Ucap Emma tersenyum.
"Jadi semuanya ini..!"
"Kita mau bikin kejutan buat kamu, nak.. Mommy mu ini yang punya ide." Ucap Kenzo.
Rigen menatap dua orang sebaya dengan Mom dan Daddy nya. "Perkenalkan sayang, mereka adalah orang tuaku," Ucap Emma yang mengetahui apa yang ada di pikiran kekasihnya.
"Astaga,, sayang,,!!"
__ADS_1
Rigen langsung memeluk Emma erat. Semua orang yang berada di sana pada tertawa. Sepertinya kekhawatiran Rigen bahwa Emma akan marah karena dia berbohong tidak terbukti.
Bersambung.