
Happy Reading ☺
Suara decitan ranjang dan bunyi penyatuan itu masih berlanjut, Zack semakin tergila-gila dengan dengan Daniella karena kenikmatan tubuh sang istri.
Ternyata rasanya luar biasa, Zack tidak pernah menyangka akan senikmat ini, dia bersyukur bisa melakukan semua ini dengan gadis yang sangat di cintainya.
Penantian panjangnya terbayar sudah dengan menyemburkan amunisi di rahim Daniella berkali-kali.
Hingga suara erangan di sertai suara indah Daniella meluluh lantakan seluruh otak dan tubuhnya.
Ini sudah yang ke tiga kalinya Zack menanam bibit unggul. Berharap bisa segera hadir calon baby yang tidak akan mereka tunda.
Sedangkan di rumah Danish.
Arshel membereskan seluruh pakaiannya yang ada di lemari dan memasukkan ke dalam koper, entah apa yang di pikirkan pria itu, dia berencana kembali ke markas dan izin untuk keluar dari akademi militer.
Keputusannya sudah bulat, Arshel tetap bertekad akan melangkahi perintah dari sang Daddy yang melarang nya untuk keluar dari akademi militer.
Dia merasa sudah tidak betah bila harus berjauhan dari Evelyn, apalagi yang di inginkan nanti terjadi dan dia belum bisa mengikat Evelyn di sampingnya.
Malam ini Arshel banyak memikirkan sesuatu yang berkecamuk di hatinya. Setelah meminta izin keluar dari akademi militer, Arshel tidak akan pulang ke Washington DC lagi.
Dia memutuskan untuk pergi ke Florida agar bisa selalu bersama Evelyn, tidak sanggup rasanya bila harus berjauhan dengan kekasihnya itu.
Sepertinya semuanya sudah siap, setelah acara pesta pernikahan Daniella dan Zack Arshel selesai malam ini, esok hari dia akan segera berangkat ke markas.
"Arshel, koper sebesar itu untuk apa?" Arshel sedikit terkejut ketika Mommy-nya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Eh, Mommy, besok pagi-pagi aku akan langsung berangkat ke markas, jadi semuanya sudah aku siapkan dari sekarang Mom," jawab Arshel gugup.
Lula mendekati sang putra dan membingkai wajahnya dengan kedua tangan.
"Sayang, ada apa? apa kamu punya masalah?" Lula bertanya dengan tatapan sendu.
Sepertinya naluri seorang ibu memang sangat peka, Lula bisa merasakan bahwa Arshel seakan menyembunyikan masalah besar.
"Mom, sebenarnya aku ingin bercerita pada Mommy."
__ADS_1
"Ceritakan lah sayang," Lula tersenyum dan mengajak Arshel duduk di sofa yang berada di kamar itu.
"Mom, aku ingin keluar dari akademi militer," ucap Arshel menatap sang Mommy.
Lula nampak tidak terkejut, diapun tersenyum dan mengangkat tangannya menyentuh kepala Arshel dan membelainya.
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba ingin keluar dari akademi militer? Apakah kamu bermasalah dengan sahabatmu di sana?" Arshel menatap manik mata sang Mommy kemudian menggeleng pelan.
"Bukan masalah itu Mom, sebenarnya dari awal aku ikut pelatihan akademi militer ini karena menghindari sesuatu!" Lula mengerutkan keningnya.
"Maksudnya sayang? Menghindari apa?"
"Mom, aku sangat mencintai Evelyn, dulu aku memilih akademi militer karena ingin melupakannya, tapi ternyata dia juga mencintai ku Mom, cintaku tersambut dan sekarang aku hanya ingin bersama Evelyn," curahan hati Arshel.
"Nak, apa kamu merasa iri dengan dengan saudaramu karena mereka sudah menikah?" Arshel menggeleng cepat.
"Sebenarnya aku sudah membuatnya kehilangan keperawanan!"
"Apa!!" Lula tiba-tiba merasa pusing.
"Mom! ada apa?" Arshel memegang bahu sang Mommy.
Langkahnya sedikit terhuyung karena merasa kepalanya pusing tiba-tiba.
Arshel merasa sangat bersalah, kenapa tadi dia menceritakan hal besar dalam hidupnya itu kepada sang Mommy.
Sepertinya ucapannya tadi sangat mengejutkan Mommy-nya, tapi dia juga bingung harus bicara seperti apa kepada sang Mommy, Arshel dalam keadaan bimbang.
###
Sinar mentari pagi menyinari jendela yang tertutup korden putih. Daniella menggeliat di pelukan lengan kokoh seorang pria yang saat ini sudah menjadi suaminya itu.
"Zack, bangun! aku mau ke kamar mandi dulu!" Daniella menggoyangkan lengan suaminya.
"Apa sayang," gumam Zack masih dengan mata yang tertutup.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, kebelet!" Zack membuka matanya dan tersenyum.
__ADS_1
Cup, cup, cup.
Tiga kecupan di bibir sang istri membuat sesuatu di bawah mengeras lagi.
"Ayo aku gendong!" Zack bangkit duduk.
"Kenapa harus di gendong, aku bisa sendiri," Daniella menyibak selimut nya.
"Aaakkkk!! darah!"
"Sayang kamu kenapa?"
"Itu, ada noda merah kehitaman, darah kan? itu darah siapa?" Zack terkekeh melihat reaksi sang istri.
"Itu darahmu sayang, darah kesucian, artinya kamu memang masih perawan dan aku yang menjebolnya," ucap Zack memeluk Daniella yang merasa ngeri dan jijik itu.
"Pantas saja rasanya sakit sekali di awal!"
"Tapi setelah itu hanya ada kenikmatan kan?" Zack menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Teriak-teriak menyebutkan namaku, lebih cepat sayang, lebih cepat lagi!" Zack memperagakan mimik wajah Daniella.
Daniella mencubit perut Zack karena merasa malu, memang benar semalam Daniella berteriak menyebutkan nama Zack berkali-kali.
Zack juga merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa membuka segel perawan dengan sangat mudah masuk.
Mungkin karena dia melakukannya atas dasar nama cinta, cinta yang begitu menggelora di hatinya untuk Daniella.
Zack mengangkat tubuh sang istri yang masih polos itu, Daniella terpekik dan memukul pelan dada suaminya.
"Turunkan aku sayang!"
"Kalau aku turunkan nanti kamu tidak bisa berjalan istriku," Zack berjalan ke kamar mandi menggendong Daniella ala bride style sama-sama dalam keadaan tanpa sehelai benang.
Bersambung.
Hai akak Reader tercinta 🥰🥰🥰 jangan sampai lupa untuk dukungannya ya 🙏 dengan cara like, vote dan bunga🌹🌹🌹
__ADS_1
Agar othor lebih semangat lagi untuk up nya.
Terima kasih ❤️😘😘😘