
Happy Reading ๐
"Aku masih polos dan tidak tahu apa-apa," Daniella menjulurkan lidahnya.
Zack yang melihat Ell mengejeknya segera meraih pinggang kekasihnya itu dan langsung menggelitiknya.
"Zack, hentikan! hahahaha, geli Zack!" Daniella meronta menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri karena tangan Zack yang bergerilya di perutnya.
Bruukk!!
Daniella terjatuh terlentang dengan Zack berada di atasnya.
Nafasnya sudah ngos-ngosan karena berusaha menangkis tangan Zack yang menggelitik nya kuat.
"Apa kamu mau ku bikin bersuara aneh seperti suara yang kamu dengar dari kamar saudaramu sayang?" Zack menatap manik hazel Ell.
"Minggir Zack, nanti Daddy lihat kita bisa di gantung di pohon ketela!" Daniella mendorong dada Zack yang langsung terhempas ke belakang.
"Iya-iya aku tahu sayang, nanti Daddy Danish memisahkan kita lagi gak mau aku!" Zack menyingkir dan duduk.
"Hoaamm!!" Daniella menutup mulutnya menguap. Sepertinya dia sudah merasa mengantuk.
Zack melihat calon istrinya itu mulai mengantuk, perlahan Daniella menutup matanya.
"Dasar kamu sayang, katanya mau nonton film, eh akhirnya tertidur juga," Zack mengangkat tubuh Daniella dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Zack menidurkan Daniella di ranjang king size-nya mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuh Daniella hingga batas dada.
Cup.
"Mimpi indah My Love," Zack mengusap bibir Ell yang baru saja di ciuman-nya itu. Kemudian dia keluar dari kamar Ell dan masuk ke dalam kamar tamu yang di peruntukan untuknya.
###
Arshel mengajak Evelyn ke sebuah tempat yang bernama taman pelangi, sebuah taman yang di hiasi berbagai macam bunga dari berbagai dunia.
__ADS_1
Mata Evelyn berbinar kala melihat pemandangan yang indah itu, di tengah taman ada sebuah kolam cantik dengan air mancur di tengahnya.
"Sayang, ayo ke sana," Arshel menggandeng tangan Evelyn menuntun nya ke sebuah gazebo di pinggir taman.
"Terima kasih sayang, sudah mengajakku ke sini," ucap Evelyn tersenyum.
"Dulu pada waktu masih kecil kita pernah ke sini, apa kamu sudah lupa sayang?" tanya Arshel.
"Aku ingat tapi samar-samar, itu dulu kita masih kecil sekali, jadi belum begitu bisa mengingat jelas," Arshel merapikan rambut Evelyn.
"Sayang, kalau aku pergi nanti jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan dan selalu rindukan aku," Evelyn menatap Arshel yang berubah sendu.
"Tentu saja, aku akan selalu merindukanmu dan akan selalu menunggumu, berjanjilah padaku hanya aku satu-satunya wanita yang ada di hatimu, jangan berpaling dengan yang lain," Arshel menggenggam tangan Evelyn dan mencium nya.
"Selama belasan tahun aku menjaga hatiku untukmu, bahkan pernah berusaha melupakan mu karena setahuku kamu membenci ku sayang, jadi jangan ragukan aku," ucap Arshel serius.
Evelyn tersenyum. "Tentu saja aku tidak akan pernah meragukan mu, tidak akan ada pria lain yang bisa menggantikan mu di sini," tunjuk Evelyn pada dadanya.
Mengatakan bahwa Arshel akan selalu di hatinya. Pria tampan itu tersenyum, dia benar-benar mencintai gadis di hadapannya ini.
"Aku juga akan selalu mencintaimu Arshel," Kedua mata itu saling memandang.
Arshel mendekat kan bibirnya dan mencium bibir Evelyn, sama-sama menyelami perasaan masing-masing dengan ciuman itu.
Arshel merasa bibirnya basah dan terasa asin.
"Sayang kenapa menangis?" Arshel melepaskan tautan mereka dan menatap Evelyn yang sudah luluh air matanya.
Hati wanita mana yang tidak sedih apabila akan di tinggal pergi sang pujaan hati, bahkan dia sudah menyerahkan segalanya untuk pria itu.
Jujur hati Evelyn begitu sakit saat ini, baru merasakan cinta dari pria yang di cintai nya selama ini. Butuh waktu belasan tahun untuk bisa mendekap tubuh itu.
Bahkan sekarang bisa merasakan setiap sentuhan nya, tapi sebentar lagi Evelyn akan di tinggalkan oleh Arshel dia harus menguatkan hati berpisah dengan kekasihnya.
"Aku menangis karena akan di tinggal pergi, aku masih ingin kamu di sini Arshel, bagaimana hidupku setelah ini tanpamu, hiks!" Arshel membawa Evelyn ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Dia juga merasa begitu sedih harus meninggalkan Evelyn dan akan berpisah cukup lama.
"Sayang, bukan hanya kamu yang sedih, tapi aku juga sangat sedih dan sakit, kamu gadis yang selalu berada di dalam hati dan pikiran ku, bisa bersamamu membuat hidup ku semakin bersemangat, tunggu aku sayang, mu mohon jangan bersedih," Arshel mencium rambut Evelyn berkali-kali.
"Rasanya sangat berbeda ketika kita di tinggalkan dari pada yang meninggal kan, tapi aku janji akan selalu menunggumu, cintaku hanya untukmu Ashel," ucap Evelyn tersenyum meski matanya berlinang.
Arshel lansung mencium bibir mungil itu kembali, mengeluarkan segala rasa yang mendera hatinya. Dia berjanji akan segera membawa Evelyn ke Camp dan tinggal bersama.
Tapi hal itu tidak mudah, banyak syarat untuk bisa membawa pasangan ke tempat khusus itu, hanya yang bertitel komandan dan jabatan tinggi yang bisa membawa keluarga nya.
Itupun jauh dari markas, mungkin hanya bisa pulang setiap hari dan malamnya bisa bersama. Tapi paginya harus kembali lagi ke markas untuk bertugas.
Setelah itu Arshel mengajak Evelyn memberi makan ikan di kolam, dia tidak ingin bersedih hati hanya karena hal itu, waktu dua hari akan dia pergunakan dengan sebaik-baiknya dengan momen kebahagiaan.
Sedangkan di sisi lain.
Mia menatap tubuhnya di cermin, dia memakai baju tertutup dengan kerah model turtle neck, tubuhnya penuh bekas merah akibat ulah Kenzo.
"Ayo sayang kita segera turun, Daddy sudah menunggu kita di ruang keluarga." Mia mengangguk dan mengikuti langkah suaminya menuju sang mertua.
Danish dan Lula duduk sambil membaca berkas-berkas penting. Mereka melihat kedatangan kedua pasangan yang baru menikah itu.
"Siang Dad, ada apa?" Kenzo duduk menghadap sang Daddy dan Mia ikut duduk di sampingnya.
"Putraku Kenzo dan menantuku Mia, sekarang kalian sudah resmi menjadi menjadi pasangan suami dan istri, sekarang tanggung jawab kalian sudah banyak, Kenzo karena kamu kuliah menekuni bidang bisnis jadi aku akan mengajakmu ke perusahaan daj mengajari mu bagaimana caranya mengelola bisnis besar, dan untuk Mia yang juga terjun di dunia yang sama maka kamu juga harus mulai belajar membangun bisnis bersama suamimu," Mia dan Kenzo menatap sang Daddy dan mengangguk.
Memang benar yang di katakan sang Daddy bahwa sekarang Kenzo dan Mia sudah mempunyai tanggung jawab yang besar dan harus mulai bekerja demi masa depan mereka.
"Baik Dad, kami mengerti, di sela jam kuliah nanti aku dan Mia akan ke perusahaan," jawab Kenzo mantap.
Danish dan Lula tersenyum mendengar ucapan sang putra itu, dia memang tahu sifat Kenzo yang memiliki tanggung jawab yang besar.
Bersambung.
Maaf bila masih banyak typo ๐๐ป
__ADS_1
Jangan lupa like, bunga, dan kopinya๐นโ