Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
(Season 2) Ancaman Candy


__ADS_3

Happy Reading 😊


Evelyn tidak berani menatap Daddynya dan hanya bisa menundukkan kepala, sebenarnya dia juga sangat takut kalau Daddy tidak akan setuju apabila dia mengatakan iya.


Candy yang melihat hal itu langsung menarik lengan Darren dan membisikkan sesuatu.


"Apa kamu mau tidur di luar malam ini sayang? atau memang sudah tidak ingin tidur dengan ku dan calon babymu ini?"


Darren menelan salivanya kala mendapatkan ancaman dari sang istri.


"Tentu saja aku tidak mau sayang," sepertinya Darren mengerti dengan situasi hati Candy.


Pasti Candy akan mengancamnya kalau memang Darren tidak menyetujui pernikahan putri mereka.


"Jadi kamu memang benar-benar sudah tidak mau tidur di kamarkan?" bisik Candy lagi.


Darren menghela napas panjang untuk mengurangi rasa emosinya, biar bagaimanapun semuanya harus di pikirkan matang-matang.


Tapi ketika mendengar bisikan dari sang istri yang mengancamnya seperti itu akhirnya Darren harus mengalah.


Dia tidak mau kalau konsekuensinya harus tidur di kamar tamu karena tidak di perbolehkan masuk oleh Candy, padahal Darren tidak akan bisa tidur kalau belum memeluk istrinya itu.


"Danish, aku akan menerima lamaran mu dari putramu Arshel untuk putriku Evelyn, aku harap semua keputusan ini bisa menjadi yang terbaik untuk kita semua." Ucap Darren lantang.


Danish dan Lula tersenyum mendengarnya. Sedangkan Evelyn langsung mengangkat wajahnya dan menatap sang Daddy yang tiba-tiba mensetujui pernikahan itu.


"Terima kasih sayang," Candy memeluk lengan Darren erat karena telah meluluhkan egonya demi semua orang.


"Baiklah Darren, nanti setelah Arshel sembuh aku akan mengadakan acara pertunangan dulu kemudian setelah semuanya siap kita akan melangsungkan acara pernikahan Arshel dan Evelyn," ucap Danish.

__ADS_1


"Iya, nanti kita akan mengatur waktu untuk perayaan pesta pernikahan Arshel dan Evelyn, sepertinya acara pernikahan yang akan di adakan ini lebih besar dan meriah dari kedua saudara kembarnya," Lula menambahi.


"Eve, bagaimana nak? kami sudah memberikan restunya untuk kamu dan Arshel, jadi kita tinggal menunggu Arshel sembuh dan dia akan segera melamarmu" ucap Daddy Darren.


Evelyn melihat tatapn sang Daddy yang sudah terlihat lebih hangat dari sebelumnya.


Sepertinya sang Daddy benar-benar sudah tulus dari hati untuk menerima Arshel.


"Baiklah Dad, aku sangat senang sekali, terima kasih Daddy, Mommy, Aunty Lula, dan Uncle Danish. Evelyn benar-benar tidak menyangka semuanya sudah setuju, nanti setelah ini aku akan menelpon Arshel untuk mengetahui keadaannya sekarang!" ucap Evelyn.


"Sepertinya aku yang akan mengatur segala persiapannya Lula, kamu dan Danish hanya duduk manis dan datang ke acara pertunangan itu sambil membawa Arshel," Candy berucap.


Lula tersenyum senang. "Baiklah, aku menurut saja Candy." Jawab Lula.


Tiba-tiba perut Evelyn terasa seperti di aduk-aduk, dia merasa ingin muntah.


"Evelyn merasa mual Dad, sejak tadi pagi rasanya seperti ini." Evelyn segera berdiri dan berlari ke arah dapur.


Lula dan Danish saling memandang, sepertinya kedua orang itu mempunyai pemikiran yang sama.


Terdengar suara Evelyn yang sedang muntah di wastafel dapur. "Apa Evelyn sedang sakit?" tanya Darren memandang istrinya.


"Aku tidak tahu sayang, tapi sepertinya dia masuk angin, coba aku lihat keadaannya." Candy berjalan ke arah dapur menghampiri sang putri yang masih muntah-muntah itu.


Darren juga terlihat khawatir, tapi yang lebih khawatir adalah Danish dan Lula, mereka berharap bahwa Evelyn tidak isi dulu, tapi mereka juga tidak bisa mencegahnya.


Candy menyentuh tengkuk Evelyn dan memijatnya. "Sudah baikan belum sayang? sejak kapan kamu muntah-muntah seperti ini?" tanya Candy.


Evelyn membasuh mulutnya dengan air kemudian mematikan keran.

__ADS_1


"Sejak tadi pagi Mom, tadi pada waktu berangkat kuliah sudah mendingan tapi entah kenapa sekarang rasanya mual lagi," jawab Evelyn.


"Apa mau periksa ke dokter?" Evelyn menggeleng.


"Tidak perlu Mom, Eve sudah biasa masuk angin, nanti di olesi minyak sudah mendingan."


Candy melihat wajah putrinya yang terlihat pucat itu. "Beneran tidak mau ke dokter? atau Mommy panggil dokter pribadi untuk kesini? lihatlah wajahmu pucat sekali sayang?"


"Tidak perlu Mom, sebaiknya aku istirahat saja, Mommy sedang ada tamu, sebaiknya aku ke kamar saja," ucap Evelyn yang kemudian berlalu dari hadapan Mommynya.


Gadis itu menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Evelyn menutup pintu dan menguncinya. Dia kemudian duduk di sofa dan meletakan tasnya di atas meja.


Evelyn membuka tas itu dan memasukan tangannya ke dalam. Evelyn mengeluarkan benda kecil dari dalam tasnya.


"Sebenarnya aku tidak ingin mencoba ini, tapi entah kenapa firasat ku mengatakan hal lain, mudah-mudahan hasilnya positif."


Evelyn menggenggam benda kecil itu dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu harap-harap cemas dengan keadaannya.


Bersambung.


Maaf masih banyak typo 🙏🏻🙏🏻


Hai akak Reader tercinta 🥰


jangan sampai lupa untuk dukungannya ya 🙏 dengan cara like, vote dan bunga🌹


Agar othor lebih semangat lagi untuk up nya.


Terima kasih ❤️😘

__ADS_1


__ADS_2