
Happy Reading 😊
Tok, tok, tok!!
"Regina, sayang!"
Terdengar suara Mimi Daniella berteriak di depan pintu.
Aland dan Regina begitu terkejut. Regina langsung melepaskan diri dan mendorong tubuh Aland yang sedang memeluknya. "Aland, ada Mimi, bagaimana ini!" Regina panik.
Aland nampak biasa saja tanpa gugup sama sekali, sedangkan Regina sudah bingung harus bdrbuat apa. Regina begitu takut kalau orang tuanya tahu ada seorang pria yang ada di dalam kamarnya.
"Tenanglah sayang, jangan panik,, kita tinggal buka pintunya kan?" Jawab Aland yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya oleh Regina.
"Kamu gila ya! kalau sampai Mimi tahu ada seorang pria di dalam kamarku nanti berakibat fatal! kamu tidak tahukan kalau Pipi sudah marah?" Ucap Regina bergidik membayangkan kemarahan Pipi Zack.
Selama ini Regina di didik menjadi gadis yang berpendidikan dan baik. Zack dan Daniella sangat disiplin dan memberi pengawasan ketat untuk putrinya. Jadi sampai sekarang Regina juga tidak memiliki banyak teman bergaul, hanya beberapa orang yang dulu di kampus sering jalan bersama.
Bagaimana jadinya kalau Pipi dan Miminya melihat Aland berada didalam kamarnya.
"Aland, ayo cepat sembunyi." Regina menarik Aland ke arah kamar mandi.
Tok, Tok, Tok!!
"Sayang, apa kamu melihat Aland?" Seru Mimi Daniella kembali.
"Mimi mencarimu, bagaimana ini!!" Ucap Regina.
Aland berusaha tenang, berbeda dengan Regina yang sudah panik luar biasa. "Tenanglah sayang, jangan panik seperti ini," ucap Aland menenangkan Regina.
"Tidak panik bagaimana? Mimi berada di depan kamar dan sedang mencari mu, ayo cepat sembunyi, Aland!" Regina terus menarik Aland untuk bersembunyi.
Aland memegang tangan Regina dan mendekatkan dirinya. Pria itu terlihat membisikkan sesuatu di telinga Regina.
"Nah, ide yang bagus." Ucap Regina tersenyum lebar. Sepertinya Aland telah memberinya ide untuk menjawab pertanyaan dari Mimi Daniella.
"Cepat sana bilang sama Aunty." Regina mengangguk.
"Aland sepertinya sedang jalan-jalan Mi, Rere gak bisa bukain pintu, lagi gak pake baju ini." Teriak Regina dari dalam kamar.
__ADS_1
Mimi Daniella hanya ber-oh saja. Tetapi ada sesuatu yang janggal menurutnya.
"Sayang, coba kirim chat ke Aland, sepertinya jam tangannya jatuh di depan kamarmu." Seru Daniella menatap jam tangan merk Rolex di tangannya.
Aland yang mendengar ucapan Aunty Daniella, dia langsung melihat ke arah pergelangan tangannya dan ternyata jam tangan kesayangan sudah tidak ada.
"Iya, itu jam tanganku! lihatlah, di lenganku tidak ada." Bisik Aland.
Daniella menggangguk.
"Iya Mi, sepertinya itu memang jam tangan milik Aland. Aku ingat jam tangannya bermerek Rolex." Teriak Regina.
Aland terkekeh melihat Regina yang sedang berusaha membohongi Miminya.
"Astaga, memangnya kemana anak itu? kenapa tidak pamit tadi, ya sudah,, Mimi mau kembali ke kamar dulu, janga lupa suruh Aland cepat kembali." Seru Daniella kembali berjalan menuju kamarnya.
Regina menempelkan telinganya ke arah pintu. "Sepertinya Mimi sudah pergi, sekarang kamu bisa keluar dari dalam kamarku." Ucap Regina.
Aland mengangguk dan mengambil kunci di sakunya.
"Baik sayang, aku akan keluar, besok kita bertemu lagi dan kita akan keluar sebentar?" Ucap Aland membuka kunci itu.
Aland langsung mencium bibir Regina dan memeluk kekasihnya sebentar sebelum akhirnya pria itu pergi keluar dari dalam kamar.
Daniella memicingkan matanya ketika melihat Aland baru saja keluar dari kamar Regina.
"Astaga, bukankah itu Aland, kenapa dia keluar dari kamar Regina? tadi kata Regina, Aland pergi keluar bukan?" Daniella menjadi semakin bingung.
"Apa Aland dan Regina baru selesai begituan? Ya Tuhan, ini tidak bisa di biarkan, aku harus ngomong pada Zack, kalau Aland dan Regina harus di interogasi."
###
Emma melambaikan tangan nya pada Rigen yang baru saja keluar dari rumah yang sangat sederhana.
"Apa itu beneran rumahmu?" Tanya Emma.
"Tentu saja, apa kamu tidak percaya?" Rigen menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, tentu saja aku percaya." Jawab Emma tersipu. Gadis itu terlihat sangat cantik malam ini.
__ADS_1
Rigen masih berperan sebagai seorang pria sederhana. Pria itu bahkan membeli sebuah rumah kecil di sudut kota agar Emma tidak curiga padanya.
Sebenarnya yang Rigen lakukan adalah sesuatu yang salah, tidak seharusnya dia berpura-pura menjadi miskin hanya untuk bisa kenal dan dekat dengan gadis canti itu.
Rigen tahu kalau Emma pasti akan menolak bersahabat dengannya, misal Emma tahu kalau Rigen adalah orang kaya, bahkan keturunan orang hebat. Rigen adalah putra dari Kenzo Alvare dan Mia Alvares.
Siapa yang tidak mengenal dua pasangan suami istri yang hebat itu. Apalagi kalau sampai Emma tahu bahwa dia adalah cucu dari Danish Alvares, sudah pasti Emma akan kecewa dan tidak mau bertemu dengan nya lagi.
Rigen memang tidak terlalu mencolok di bandingkan dengan cucu-cucu Danish yang lain. Kenzo dan Mia sudah memiliki tiga orang anak. Rigen adalah putra pertama, sedangkan dua adiknya lagi masih duduk di bangku High school (SMA).
Ya, Rigen memilih adik kembar perempuan. Tetapi saat ini adik-adiknya itu sedang bersekolah di asrama dan akab pulang seminggu sekali.
"Ayo kita segera berangkat, aku ingin melihat bagaimana kekasihmu itu akan bereaksi." Ucap Rigen.
Emma hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil milik Emma.
Emma dan Rigen bersiap untuk pergi ke acara pesta perusahaan keluarga Watson.
Rigen terlihat sangat tampan, dengan memakai setelan jas berwarna navy dan kemeja putih membuat Rigen benar-benar terlihat lebih dewasa.
"Apa kamu gugup, Emma?" Tanya Rigen.
"Tidak, aku tidak gugup, hanya saja aku tidak sabar melihat bagaimana reaksi Austin nati.
Akhirnya merekapun memutuskan untuk masuk ke dalam ballroom hotel yang akan di adakan acara pesta perusahaan keluarga Emma Watson.
Emma melihat sosok Auatin yang sedang tertawa dengan selingkuhannya, mereka tidak menyadari dengan kedatangan Emma yang saat itu sedang bejalan kearah Austin bersama Rigen.
"Hai, apa kabar?" Austin dan Vio menoleh. Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Emma bersama seorang pria tampan yang berdiri di sampingnya.
"Hai, sayang.. kamu sudah datang, tadinya aku mau menjemput, tapi kamu tidak mau," jawab Austin melangkah mendekati Emma.
Rigen menaikkan sebelah alisnya, pria itu menatap Austin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Sayang, siapa pria ini!" Tanya Austin menatap Rigen dengan tatapan yang tajam.
"Dia Rigen, kekasihku,, maaf Austin mulai saat ini kita putus saja, aku sudah tidak mencintaimu lagi, dan semua uang yang masuk ke dalam rekening mu aku tarik semua." Ucap Emma mengeratkan pelukannya pada lengan Rigen.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya tadi banyak typo karena othor ngetiknya gak konsentrasi 🙏🙏😭