
Washington DC
Danish sedang memimpin rapat perusahaan, setelah acara resepsi pernikahan Darren dan Candy mereka memutuskan untuk langsung kembali ke Washington DC karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.
Lula yang berada di samping Danish sedari tadi menahan lapar, dia memegang perutnya yang terasa keroncongan itu.
Entah kenapa dia merasa lapar sekali, Lula berbisik pada Danish dia izin untuk keluar sebentar.
"Mau kemana sayang?" tanya Danish.
"Mau ke pantry sebentar," jawab Lula.
"Baiklah, sebentar saja ya?" jawab Danish mengelus pipi Lula.
Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa melihat keromantisan dari CEO mereka.
Dulu Danish terkenal kejam dan dingin pada semua kolega bisnisnya, tapi setelah kembali bersama Lula pria itu berubah menjadi pria yang lembut dan penuh cinta.
Lula tersenyum menatap Danish dan mengangguk, lalu dia pergi keluar dari ruang rapat itu.
Lula berjalan ke arah lift dan masuk ke dalam, Pantry ada di lantai dua gedung itu. Setelah beberapa saat pintu lift terbuka.
Lula sedikit terburu-buru dengan berjalan agak cepat, setiap karyawan yang melihat Lula langsung menunduk dan menyapanya.
Sepertinya sekarang para karyawan Danish sudah bisa menerima Lula sebagai istri dari CEO mereka.
Tapi ada satu orang yang masih belum bisa menerimanya, dia adalah Peter, pria yang sejak pertama bertemu Lula langsung mengagumi wanita cantik itu.
Pria itu melihat Lula yang berjalan ke arah pantry dengan tergesa.
"Kenapa Lula tergesa-gesa sekali?" gumam Peter.
Pria itu memutuskan mengikuti Lula yang datang hanya sendiri saja tanpa ada Danish yang biasanya selalu mengekor di belakangnya.
Lula mengambil cemilan dan membuat segelas susu hangat untuknya, dia tidak menyuruh office boy karena memang Lula ingin membuat sendiri.
"Selamat siang Nona Lula?" tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggilnya.
Lula menoleh dan melihat pria yang di kenalinya itu berjalan ke arahnya.
"Peter, selamat siang juga," jawab Lula tersenyum.
"Kenapa tidak menyuruh office boy saja kalau mau minuman?" tanya Peter.
"Tidak, aku ingin membuat nya sendiri, apa kamu tidak sibuk Peter?"
"Aku baru saja selesai mengecek hasil penjualan produk kita, dan aku juga sedang haus makanya ke sini," jawab Peter.
Pria itu begitu senang bisa mengobrol leluasa dengan Lula seperti ini, biasanya akan ada Danish di sampingnya, jadi Peter tidak berani untuk berbicara dengan Lula mengingat begitu posesif nya suami Lula itu, dia memang begitu mengagumi kecantikan Lula, menurut nya Lula tipe wanita yang sempurna, cantik, baik dan sangat pengertian.
__ADS_1
Mata Peter tidak pernah terlepas menatap wanita cantik itu. Sungguh dia begitu menyukai Lula sampai jantungnya berdetak kencang saat berada sangat dekat dengan Lula seperti ini.
Mereka pun mengobrol ringan karena Lula juga tipe wanita yang humble kepada siapa saja.
Danish merasa Lula sudah keluar begitu lama, sedari tadi dia merasa tidak tenang kala sang istri tidak kembali ke ruang rapat.
Danish memutuskan untuk mencari Lula ke pantry, karena istrinya itu mengatakan bahwa dia akan kesana.
Di sisi lain Lula tampak tertawa saat Peter menceritakan lelucon padanya.
"Itu tidak mungkin Peter, aku tidak percaya kalau kamu bisa manjat pohon," jawab Lula tergelak.
Danish melihat sang istri bersama pria lain sambil tertawa bersama.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat, Danish tidak suka melihat Lula yang sedekat itu dengan Peter, dia merasa cemburu saat ini.
"Sayang, kenapa kamu lama sekali?" tanya Danish.
Lula menoleh kala mendengar suara yang sudah sangat familiar itu.
"Danish?"
Peter yang tahu atasannya datang mencari sang istri langsung berdiri dari duduknya yang lumayan dekat denga Lula itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Danish menghampiri istrinya sambil menatap ke arah Peter yang sudah menunduk.
"Aku tadi lapar sekali, jadi aku makan cemilan ini, eh tiba-tiba Peter juga mau ke sini untuk bikin minum, ya jadinya kita mengobrol sebentar," jawab Lula sambil memasukkan kacang polong ke dalam mulutnya.
"Ayo kembali ke ruang rapat, kita belum selesai sayang," ucap Danish merangkul bahu Lula.
"Peter, sampai jumpa ya?" seru Lula pada Peter.
Pria itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum, dia paham situasi nya sama sekali tidak menguntungkan, Lula adalah istri atasannya, untuk berteman dengannya saja pasti akan sangat sulit.
"Tidak usah menyapanya sayang, aku tidak suka," ucap Danish.
"Kenapa sayang? dia kan karyawan mu, ingat Danish kita tidak boleh sombong."
"Bukan maksudnya sombong sayang, pria itu menatap mu dengan tatapan yang berbeda, dia menyukaimu, aku bisa melihat nya," jawab Danish.
Lula terkekeh mendengar ucapan suaminya itu.
"Itu tidak mungkin, lagian aku juga tidak akan tertarik dengan Peter, tenang saja sayang, karena aku sudah mempunyai suami yang begitu tampan dan sangat menyayangiku," Lula mencubit hidung Danish.
Sedangkan Danish langsung menarik pinggang Lula agar lebih mendekat, pemandangan seperti itu banyak di lihat oleh para pegawainya. Semua memang sudah mengakui bahwa Danish sangat mencintai Lula sehingga kelewat posesif.
Malam harinya.
Setelah bekerja seharian dan juga lembur karena banyak sekali pekerjaan membuat Danish sudah terlelap sedari tadi.
Lula masih belum bisa tidur, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia merasa ingin makan sesuatu, tapi Lula kali ini tidak ingin masak sendiri.
__ADS_1
Lula sangat ingin kalau Danish yang memasaknya, tapi setelah melihat sang suami yang begitu lelap membuat Lula menjadi tidak tega.
Wanita itu hanya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan sambil menggigit kukunya. Danish terbangun dan mendapati Lula yang sedang gelisah itu.
"Sayang, kenapa belum tidur juga?" tanya Danish.
"Aku ingin makan daging panggang saus barbeque, tapi aku ingin kamu yang memasaknya," ucap Lula lirih.
Danish duduk dan berdiri, kemudian dia mendatangi istrinya itu.
"Ini sudah malam sayang, kenapa kamu ingin makan itu, besok saja ya, pasti aku buatkan itu?" ucap Danish memegang bahu Lula.
Danish begitu terkejut saat melihat mata Lila yang berusaha menahan air matanya
Ya Tuhan, ada apa Dengan istriku ini?
"Baiklah sayang, akan buatkan daging panggang saus barbeque, sudahlah jangan sedih ya?" ucap Danish mengelus kepala Lula.
"Benarkah sayang?" seru Lula dengan mata yang berbinar.
Danish tersenyum dan mencium kening Lula.
"Ayo kita buat apa yang kamu inginkan sayang."
Akhirnya pria itu membuat kan makanan yang di minta sang istri.
Setelah beberapa menit akhirnya dading panggang yang di minta Lula telah siap. Lula begitu senang melihatnya.
Danish memang bisa memasak. "Ini istriku sayang, makanlah steak yang spesial ini," ucap Danish menyuruh Lula untuk makan.
Lula pun langsung memotong daging itu dan memasukan ke dalam mulutnya.
Setelah ketiga potongan Lula tidak melanjutkan lagi makaknya.
"Sayang, kenapa gak di habiskan?"
"Aku sudah kenyang, makanlah sayang kamu pasti juga laparkan?"
"Tapi kamu baru makan tiga potong loh, tadi katanya pengen?"
"Iya tadi memang pengen banget, tapi sekarang aku mau jus Strawberry yang buah Strawberry nya di beli oleh Franklin tadi sore, tidak mau yang lain," ucap Lula.
Danish menepuk jidatnya, entah kenapa akhir-akhir ini Lula selalu minta yang aneh-aneh apalagi tengah malam seperti ini.
"Kalau jus Strawberry akan ku buatkan sayang," jawab Danish.
"Tidak mau, aku mau Franklin yang membuatkan, karena aku mau Strawberry punya Franklin yang tadi sore di belinya," jawab Lula dengan mengeluarkan jurus pupy eyes-nya.
Danish melongo mendengar itu.
Bersambung.
__ADS_1
Hai akak reader yang paling baik hati dan tidak sombong, aku mau gift bunganya donk🥰🥰🥰