
Happy Reading 😊
"Emma, apa kamu percaya padaku, kalau aku beneran orang miskin?" Tanya Rigen menatap mata Emma.
Pria itu ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan gadis itu. Emma memiliki wajah yang cantik alami. Gadis itu memang tidak suka berdandan, tetapi kecantikan alaminya sudah terpancang kuat dari aura yang keluar dari dalam dirinya.
Visual Emma Watson
Emma tersenyum melihat Rigen yang begitu terlihat serius. "Ehmmm, aku tidak mau menebak-nebak, yang penting kamu baik padaku dan tidak memanfaatkan ku, itu saja sudah cukup." Jawab Emma.
Rigen berdehem sebentar untuk menetralkan detak jantungnya yang bertalu kencang. "Lalu bagaimana kalau aku ternyata memanfaatkan mu?"
Emma terlihat berfikir. "Aku lebih baik di manfaatkan olehmu yang orang biasa, daripada di manfaatkan oleh orang kaya tapi di berikan untuk wanita lain, mending membantu orang susah daripada orang kaya yang punya apa-apa tapi tidak mau mengeluarkan hartanya melainkan hanya bergantung pada kita." Jawab Emma serius.
Rigen menatap senyum Emma dengan dada yang berdetak kencang. Entah kenapa dia sangat menyukai senyum manis gadis itu.
Ada apa dengan jangungku?? apa ada masalah kronis? kenapa hanya melihat senyum Emma membuat jantung ini berdebar-debar.
"Emma, bolehkah aku bertanya?"
Emma terlihat berfikir dan mengangguk.
"Boleh, silakan bertanya, aku akan menjawabnya misal aku tahu."
Sebenarnya Rigen sudah dari kemarin ingin menanyakan hal ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk dia bertanya pada Emma.
"Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya? maksudku apa kamu tidak tinggal di kota ini sebelumnya?" Tanya Rigen.
Emma memalingkan wajahnya menatap ke arah lukisan yang tergantung di dinding.
"Sebenarnya aku baru setahun pindah dari San Fransisco dan mulai bekerja di perusahaan papaku di sini. Bahkan mungkin aku belum terlalu dikenal oleh orang-orang di perusahaan Papa, karena aku anak terakhir. Orang-orang juga lebih mengenal kakak-kakak ku sebagai putra dari keluarga Watson." Jawab Emma.
__ADS_1
Memikirkan kisah hidupnya yang tidak begitu menyenangkan, membuat Emma terkadang merasa sedih. Gadis cantik itu saat ini hanya ingin fokus untuk bisa di akui oleh kedua kakaknya kalau dia juga bisa. Saudara Emma hanya menganggapnya sebagai gadis manja yang tidak bisa di andalkan. Ya wajar mungkin karena dia terlahir paling akhir.
"Pantesan, setahuku keluarga Watson hanya memiliki dua orang putra dan putri saja." Batin Rigen.
Rigen baru paham sekarang, kenapa dia merasa tidak familiar dengan wajah dari Emma yang notabene adalah putri dari keluarga terpandang Watson.
Ternyata Emma memang belum lama menetap di Washington DC. Mungkin ia dulu tinggal di rumah nenek kakeknya atau entah siapa. Rigen tidak tahu.
Sebenarnya Rigen juga tidak terlalu suka memperlihatkan siapa dirinya ke khalayak umum, dia juga jarang ikut ke acara-acara besar yang menghadirkan para pewaris dari beberapa nama konglomerat besar di Amerika Serikat.
Putra Kenzo dan Mia itu lebih suka berkumpul dengan orang-orang biasa pada waktu di kampus dulu, meskipun begitu tetap saja banyak orang yang mengetahuinya, kalau Rigen adalah cucu dari Danish Alvares.
"Ehm,, apakah kamu mengenal keluarga Alvares?" Tanya Rigen.
Emma langsung mengangguk. "Tentu saja, keluarga Alvares termasuk keluarga konglomerat yang sangat di segani, siapa yang tidak mengenal Alvares GROUP, sudah ada beberapa cabang perusahaan yang tersebar di Negara bagian Amerika serikat. Mereka juga memiliki pewaris-pewaria yang hebat. Perusahaan Daddy juga termasuk saingan dengan Perusahaan Alvares." Jawab Emma.
Rigen nampak mengerutkan kening. "Maksudnya saingan?" Rigen tidak mengerti.
"Ya dalam dunia bisnis memang seperti itu, saling bersaing untuk bisa menjadi yang nomer satu, sejak dulu Watson Corp selalu bersaing ketat sengan Alvares GROUP. Pada tabel data statistik kedua perusahaan itu selalu bersaing ketat, makanya aku mengatak bahwa itu saingan." Jawab Emma terkekeh.
"Ehmm, aku tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan mereka, tapi sepertinya para putra dan putri dari keluarga Alvarea memiliki beberapa daftar pewaris."
Rigen tampak menghela napas lega setelah mendapatkan informasi bahwa Emma sepertinya tidak mengenal dirinya.
"Bagus deh." Gumam Rigen.
"Apanya?"
"Eh, itu tadi,, keluarga Alvares dan Watson, mereka dua keluarga besar yang sedang bersaing, bagaimana kalau anak-anak mereka saling di jodohkan? pasti akan bertahan besar apabila kedua keluarga itu menjadi satu." Jawab Rigen menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Hampir saja aku keceplosan tadi, bisa gawat kalau sampai Emma tahu. Batin Rigen.
"Sudahlah kenapa membahas kedua keluarga itu, memang nya kamu kenal dengan keluarga Alvares?" Ucap Emma. Gadis itu bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur.
"Mau kemana?" Tanya Rigen yang juga mengikuti langkah gadis itu.
__ADS_1
"Aku haus, apakah tidak ada minuman di dalam kulkasmu, Rigen?" Tanya Emma membuka kulkas yang masih kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral saja.
Rigen yang mendengar hal itu langsung berinisiatif membuatkan minuman untuk Emma.
"Maaf, aku belum belanja, jadi masih belum di isi kulkasnya, lebih baik kita bikin cofee moca saja, aku masih ada persediaan."
"Boleh juga, aku suka coffe moca." Ucap Emma.
Akhirnya Rigen dan Emma memutuskan untuk membuat coffe moca setelah sebelumnya memanaskan air.
Pada saat Emma sedang mencari gelas tiba-tiba ada seekor kecoa yang terbang ke tangannya.
"Aaakkkk!!" Reflek Emma langsung memeluk Rigen erat.
Rigen sangat terkejut ketika Emma langsung menempel ketat di badannya. Bahkan dada Emma yang kenyal dan besar itu menyentuh dada bidang Rigen membuat pria itu sedikit menegang. "Aku takut kecoak!! singkirkan kecoak itu!" Seru Emma semakin kencang.
Rigen melihat ke arah yang di tunjuk oleh emma, tapi ia tidak menemukan apapun di sana.
"Tidak ada, Emma,, mungkin kamu salah lihat." Ucap Rigen membalas pelukan Emma. Masih merasakan sensasi kenyal dan lembut itu.
Emma tersadar telah memeluk Rigen erat. Gadis itu melepaskan pelukannya dan merasa agak canggung, dia merasa malu telah memeluk Rigen seperti itu. Emma takut kalau Rigen berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Maaf, Rigen. Aku jadi memelukmu." Ucap Emma merasa bersalah.
Aku malu sekali,,, mau di taruh di mana mukaku? mudah-mudahan Rigen tidak mengira bahwa aku modus. Batin Emma.
"Tidak apa-apa, Emma,, aku menyukai nya." Rigen tersenyum.
Bahkan aku menginginkan lagi.
"Apa?" Emma terkejut mendengar ucapan Darren.
Bersambung.
Untuk masalah panggilan Aland ke orang tuanya Regina yang notabene adalah sebagai kakak, di situ memang othor sengaja manggil dengan sebutan Uncle dan Aunty karena umur mereka yang sangat jauh. Jadi masalah panggilan gak usah bertanya dalam hati lagi ya.. ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1