
Happy Reading 😊
Arshel mengambil ponselnya di saku, dia akan mengabari calon istrinya bahwa sekarang dalam perjalanan menuju ke rumahnya.
Setelah kembali dari makam neneknya, Arshel langsung meluncur menuju ke rumah Evelyn untuk bertemu. Dia sudah sangat merindukan calon istri dan calon Babynya. Padahal baru kemarin mereka bertemu.
Ponsel Evelyn berdering tetapi sampai beberapa kali panggilan, Evelyn tidak menjawabnya.
Mungkin, Evelyn sedang istirahat, ah sudahlah aku langsung ke sana saja.
Arshel tidak berpikiran yang aneh-aneh, takutnya Evelyn masih tidak mau dekat-dekat dengannya karena faktor hamil muda yang menurut Arshel sangat tidak masuk akal.
Arshel bisa tersiksa di saat rindu ingin memeluk calon istri tapi Evelyn akan selalu mual dan berakhir dengan mengeluarkan semua isi perutnya hanya karena mencium bau Arshel.
Sedangkan di kediaman Darren.
Evelyn hanya bisa menunduk saat dokter Adam memeriksa keadaannya, niat hati ingin membohongi kedua orang tuanya tetapi dia tidak bisa karena ternyata sang Daddy malah masuk ke dalam kamarnya.
Darren menatap tajam Evelyn hingga tatapanya sampai menusuk. sepertinya Darren sudah sedikit curiga dengan keadaan putrinya itu.
Keluhan Evelyn seakan mengingatkan dia pada istrinya yang tengah hamil, bahkan hampir sama keluhan yang dialami oleh putrinya.
Jantung Evelyn berdegup dengan sangat kencang. Gadis itu takut apabila kedua orang tuanya mengetahui bahwa dia tengah hamil saat ini.
Padahal sebentar lagi dia juga akan menikah dengan Arshel tapi entah kenapa dia masih belum berani memberitahukan tentang kehamilannya itu.
Takut apabila Daddy dan Mommy-nya akan marah padanya, padahal selama ini Evelyn tumbuh menjadi sosok gadis yang baik dan juga tidak pernah berbuat hal yang aneh-aneh.
Mengingat dia adalah Putri dari salah satu CEO terkenal di kota Florida, meskipun sekarang semua orang sudah tahu bahwa dia memiliki calon suami tapi Evelyn tidak mau dicap sebagai gadis yang buruk.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" Evelyn terkejut saat Daddy-nya bertanya.
__ADS_1
Dokter Adam telah selesai memeriksa Evelyn kemudian dia membereskan alat medisnya ke dalam tas.
"Dari keluhan nona Evelyn, sepertinya saat ini Putri anda sedang hamil tuan," jawab dokter Adam to the point.
Evelyn hanya bisa menutup matanya ketika dokter Adam mengatakan hal tersebut, ia tidak ingin melihat ekspresi wajah sang Daddy yang pastinya akan sangat murka itu.
Pintu kamar terbuka ,Mommy Candy datang sambil tersenyum.
"Apa aku tidak salah dengar yang dikatakan oleh dokter Adam?" tanya sang Mommy.
"Nona Evelyn saat ini sepertinya tengah hamil nyonya Candy, tapi biar lebih jelasnya lagi sebaiknya kalian segera memeriksakan keadaannya ke dokter obgyn," ucap dokter Adam.
"Cepat telepon Arshel dan suruh dia langsung datang ke sini!" perintah Darren.
Evelyn langsung membuka matanya dan menatap ke arah kedua orang tuanya itu dengan tatapan sendu dan masih sedikit takut.
"Sayang memangnya kenapa? apa kamu marah kalau Evelyn ternyata tengah hamil?" Candy mendekat ke arah sang suami.
Mungkin saja tidak akan ada acara pertunangan terlebih dahulu dan mereka langsung menikah.
Darren menatap tajam kearah Sang Putri. Evelyn yang tahu tatapan dari sang Daddy langsung mengambil ponselnya di atas nakas yang sejak tadi memang telah bergetar.
Evelyn langsung memberi pesan pada Arshel bahwa dia harus segera datang ke rumahnya, Evelyn juga melihat beberapa panggilan dari Arshel tapi tidak sempat untuk mengangkat karena keadaan juga masih sangat tegang
Arshel melihat ada notif pesan di ponselnya, dia langsung buka pesan itu dan matanya pun berbinar kala membaca pesan dari Evelyn. Sepertinya keinginan untuk bertemu dengan sang calon istri terpenuhi karena dia juga ingin segera bertemu dengan Evelyn.
Padahal dia tidak tahu kalau sedang ada gejolak masalah besar yang dihadapi oleh Evelyn.
Setelah beberapa saat akhirnya Arshel tiba di kediaman Darren. Arshel langsung turun dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu utama rumah besar tersebut.
Kedatangan Arshel disambut oleh wajah tegang para penghuninya, Evelyn sudah terlihat mengeluarkan air mata dan terisak sambil berada di pelukan sang Mommy.
__ADS_1
"Uncle, Aunty, sebenarnya ada apa ini? kenapa Evelyn menangis?" tanya Arshel.
Darren berjalan ke arah Arshel yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Tiba-tiba Darren akan melayangkan pukulan ke wajah pria muda itu.
Arshel langsung refleks menutup matanya tapi setelah beberapa saat dia tidak merasakan apapun di pipinya. Pria itu membuka matanya kembali dan melihat Darren hanya menepuk pipinya pelan.
"Ternyata putra Danish dan Lula yang satu ini sungguh sangat berani ya? kalau kamu memang pria sejati seharusnya kamu tidak pernah melakukan ini kepada Evelyn, Arshel!"
Arshel sedikit paham dengan apa yang terjadi kali ini. Evelyn masih berada di pelukan Mommynya.
"Bukan dengan cara melangkahi batas hanya untuk mendapatkan gadis pujaanmu, sikapmu ini sebenarnya sangat tidak dibenarkan, tapi karena kedua keluarga besar kita sudah saling mengenal lama, sepertinya aku akan memaafkanmu!" ucap Darren yang membuat Arshel langsung mengembangkan senyuman.
Begitu juga dengan Evelyn yang langsung menatap kearah dua pria yang tidak jauh berdiri di sana itu dengan perasaan lega.
"Sebaiknya pernikahan kalian dipercepat saja, kalau bisa dalam minggu-minggu ini karena kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat Arsel." Ucap Darren.
Tentu saja itulah yang diinginkan Arshel selama ini, bisa bersama Evelyn dengan ikatan pernikahan meskipun dia harus melampaui batas dengan cara menghamili sang kekasih dan pura-pura amnesia, tapi akhirnya keluarga sang calon istri mengerti dan bisa menerimanya.
"Terima kasih Uncle Darren karena sudah mau menerimaku sebagai menantu di keluarga ini, aku sangat mencintai Evelyn dan rasanya tidak bisa kalau harus berjauhan dengannya, makanya aku nekat melakukan semua itu, hanya karena ingin bisa bersama dengan Putri anda."
"Baiklah kalau begitu suruh Daddy dan Mommymu kesini, mumpung mereka masih di kota ini, kalau perlu sekalian langsung dinikahkan saat ini juga, tanpa perlu adanya pesta mewah. Nanti setelah itu kita bisa pikirkan tentang resepsi pernikahan kalian." ucap Darren.
Evelyn sangat senang mendengar bahwa sang Daddy tidak marah dan malah akan mempercepat pernikahan mereka. Gadis itu berlari menghambur ke pelukan sang Daddy.
"Terima kasih Dad,"
Candy juga senang melihat sang suami yang tidak marah seperti itu. Mungkin saja kalau sampai Darren memarahi putrinya itu, dia bisa mengunci kamar seharian dan mogok makan.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, likenya mana nih 👍👍👍 LIKE karena biar masuk Ranking karya like ya akak reader. Terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk mengangkat dan menggoyang jempolnya 👍