
Happy Reading 😊
"Aku bersedia."
Aland shock, jantung nya seakan berhenti sepersekian detik. Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan saking senangnya mendengar jawaban dari Regina membuat pria itu hampir saja pingsan.
Untung saja kakinya masih bisa menopang berat tubuhnya dan tersadar seketika setelah mendengar sorak-sorai dari semua orang yang berada di tempat itu.
"Apa apa??, aku tidak dengar, sepertinya di sini terlalu ramai, bisakah kamu mengulanginya lagi, sayang?" Ucap Aland mencoba menggoda Regina.
"Tidak ada siaran ulang!" Jawab Regina cepat.
"Ayolah, please!" Mohon Aland memperlihatkan wajah yang memelas.
Regina menahan senyum ketika melihat wajah Aland yang seperti itu. "Baiklah, akan aku ulangi." Aland langsung tersenyum lebar. Tidak lupa dia mengambil ponsel untuk mengabadikan jawaban dari Regina.
"Sebentar sayang, aku akan merekamnya, biar jadi kenang-kenangan untuk di tunjukkan pada anak-anak kita kelak." Regina melotot tidak percaya dengan ucapan Aland.
Menikah saja belum, kenapa sudah kepikiran tentang anak.
__ADS_1
"Sudah siap, ayo cepat kakatan lagi jawabannya, sayang."
Regina benar-benar di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah Aland yang selama ini tidak pernah dia lihat itu, karena Aland memang hampir tidak pernah menunjukkan sikap konyolnya di hadapan Regina.
"Baiklah, akan ku ulangi tapi hanya sekali saja, jangan menyuruhku mengulangi lagi." Aland mengangkat jempolnya.
"Aku Regina, bersedia menikah denganmu, menjadi istrimu, setia sampai maut memisahkan kita, Aland."
Mata Aland memanas, entah kenapa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Regina membuatnya jadi terharu. Wanita yang begitu di cintainya itu akhirnya menerima lamarannya dan berucap secara lantang bahwa ia bersedia menjadi istrinya.
"Terima kasih, sayang." Aland langsung memeluk Renina dan mencium bibir merah itu lama. Berciuman di bawah terang rembulan dan ribuan bintang vyang menghiasi cerahnya langit malam ini.
"Aaa,, bahagia banget ya, akhirnya lamaran Om ku di terima sama Rere." Seru Sherena yang masih tidak sadar dengan posisinya yang masih memeluk Zarco, tangannya di kalingkan ke leher dan wajahnya berada di bahu Zarco masih dengan suasan bahagia.
Zarco ikut merasakan kebahagiaan itu, diapun langsung melingkar kan tangannya pada pinggang Sherena erat.
"Kamu bahagia ya? aku juga bahagia, apalagi kalau aku dan kamu yang berada di sana." Bisik Zarco di telinga Sherena.
Seketika gadis itu tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? jangan harap aku akan menerima mu kalau kamu melamar ku dengan cara seperti itu, akan ku buat kamu malu karena ku tolak mentah-mentah." Ucap Sherena.
"Baiklah, kamu mau lamaran yang seperti apa, sayang?" Zarco menaik turunkan alisnya.
"Aku gak mau di lamar sama kamu," Sherena melengos.
"Benarkah? kalau begitu aku akan melamar gadis lain saja, percuma selama ini menjaga hati untuk wanita yang kita cintai, namun ternyata ia tidak membalas perasaan kita." Ucap Zarco merubah wajahnya menjadi sendu.
Sherena membelalakkan matanya, apa tadi yang Zarco katakan, akan melamar gadis lain untuk di jadikan istrinya? oh apakah Sherena harus bahagia? atau sebaliknya dia harus bersedih.
"Kenapa malah melamar gadis lain?" Seru Sherena sambil berkacak pinggang saat melihat Zarco membalikan badannya bersiap pergi untuk meninggalkan Sherena.
Zarco menghentikan langkahnya dan berbalik. "Lalu aku harus melamar siapa? wanita yang ku cintai tidak mau aku lamar." Jawab Zarco lesu.
"Siapa bilang, tadi aku hanya bercanda!" Sherena memalingkan wajahnya, membuat Zarco tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Tapi aku mau lamaran yang spesial." Lirih Sherena.
Zarco menarik gadis itu ke dalam dekapannya. "Aku akan membuat kejutan untuk mu, sayang."
__ADS_1
Bersambung.