
Happy Reading 😊
Rigen memutuskan untuk bersembunyi di dalam mobil sampai acara amal itu selesai. Pria itu masih belum siap kalau Emma sampai tahu identitasnya.
"Maafkan aku, Emma." Batin Rigen.
Dia memang pengecut, Rigen sangat menyadari itu. Rigen tidak mau mengangkat telepon dari Emma juga karena masih belum siap mendapatkan kemarahan dari gadis itu.
Sedangkan di sisi lain, Emma terlihat kesal karena sedari tadi dia tidak bisa menghubungi nomor Rigen. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya begitu kalut, apalagi saat Bibi Mia tidak jadi memberitahu nama putranya yang dia curigai adalah Rigen.
"Apa aku samperin ke rumah di Rigen aja, ya?" Gumam gadis itu.
Ya sepertinya dia akan mendatangi rumah Rigen malam ini, karena Emma juga merasa sedikit khawatir dengan keadaan kekasihnya yang tidak menjawab teleponnya sama sekali.
"Belum terlalu larut,, Aku akan pergi ke rumah Rigen terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah." Mia melihat jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul 9 malam.
Emma langsung keluar dari gedung itu dan menuju ke arah parkiran mobil. Rigen yang masih berada di dalam mobil menunggu Mommy Mia melihat Emma berjalan memasuki mobilnya.
"Emma mau kemana? bukankah acaranya belum selesai?" Batin Rigen masih mengamati gerak gerik kekasihnya itu.
Emma terlihat melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
"Sial, jangan-jangan Emma pergi ke rumahku?" Rihen melotot tidak percaya.
Bisa jadi memang kekasihnya itu pergi mendatangi rumahnya, karena Rigen sama sekali tidak membalas pesan ataupun mengangkat telepon darinya. Pasti Emma saat ini sedang menghawatirkan nya.
"Kenapa aku bodoh sekali, seharusnya aku membalas pesan dari Emma agar dia tidak khawatir." Rigen menarik rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Dia harus berpikir,, Bagaimana caranya agar Emma tidak mencarinya di rumah sederhana itu.
Ah, sial! Rigen mengumpat berkali-kali merutuki kebodohannya sendiri yang berhasil menciptakan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Ternyata berbohong itu tidak enak, tak bisa menyelamatkannya dari satu masalah, tetapi malah menciptakan masalah yang lain, apalagi saat posisinya seperti ini.
Sebenarnya bisa saja saja Rigen mengatakan kepada Emma bahwa dirinya sedang pergi keluar rumah. Tetapi entah kenapa nyalinya menciut dan dia merasakan takut yang luar biasa kalau sudah menyangkut Emma.
Rigen terlalu pengecut, bahkan dia merasa tidak seperti dirinya yang dulu, takut kalau Emma menghindar darinya, takut kalau Emma akan meninggalkannya saat tahu bahwa diriknya telah membohongi gadis cantik tersebut.
Rigen memutuskan untuk langsung pergi menuju ke rumahnya yang sederhana itu, tetapi sebelumnya Rigen sudah menghubungi sopir pribadi keluarganya untuk menjemput Mommy-nya di lokasi tersebut.
Bisa di hukum tidak boleh keluar kamar selama seminggu oleh Mommy Mia, kalau sampai dirinya meninggalkan sang Mommy sendirian di tempat.
Akhirnya Rigen memacu mobilnya dengan secepat kilat untuk langsung pergi ke rumahnya agar tidak didahului oleh sang kekasih.
"Ku harap Rigen tidak apa-apa, aku hanya takut kalau dia sakit atau terjadi apa-apa,
Rigen melewati beberapa mobil dan sampai di halaman depan rumahnya. Terlihat dia menghela napas lega karena mobil Emma belum ada di sana.
"Sepertinya aku harus segera masuk ke dalam rumah." Rigen keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya itu.
Emma baru saja sampai di depan rumah sederhana milik sang kekasih. Sepertinya Rigen ada di dalam.
Tok, tok, tok!
Emma memutuskan untuk langsung mengetuk pintu dan setelah beberapa saat akhirnya pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok lelaki yang yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Rigen!! apa yang terjadi? apa kamu sakit?" Emma langsung masuk ke dalam dan menubruk tubuh Rigen yang berbalut jaket tebal.
"Sayang, aku tidak bisa bernapas!" Emma yang mendengar rintihan dari Rigen langsung melepaskan pelukannya yang sangat erat itu.
Rigen pura-pura terbatuk dan menggigil, membuat Emma langsung merasa cemas.
"Kalau kamu sakit, kenapa tidak mengatakan padaku! aku kan bisa mengurusmu, sayang!" Rigen menggeleng.
"Aku tidak apa-apa sayang, sudah terbiasa." Jawab Rigen.
Emma menuntun Rigen untuk duduk di sofa. "Sudah di bawa ke dokter?" Rigen menggeleng.
"Kalau begitu aku akan merawatmu?"
"Tidak perlu sayang, nanti kamu di cari oleh keluargamu." Jawab Rigen tersenyum.
"Tapi aku khawatir, kamu di sini cuma sendiri dan tidak ada siapa-siapa." Emma menatap Rigen dengan tatapan sayu.
Maaf sayang, aku berbohong dan membuatmu khawatir seperti ini! Batin Rigen.
"Sayang, aku baik-baik saja, besok pasti sudah baikan, aku juga sudah terbiasa sendiri, jadi tidak perlu khawatir seperti itu, aku akan sangat merasa bersalah loh." Rigen mengelus pipi sang kekasih lembut, kemudian mencium bibirnya sekilas.
"Baiklah, tapi kamu janji akan baik-baik saja ya?" Tatap sendu Emma.
"Iya sayang, aku janji!"
Bersambung.
__ADS_1
Maaf othor lagi tidak enak badan 🙏🙏🤧