Khilaf Terdalam

Khilaf Terdalam
(Season 2) Kebahagiaan Yang Di Nanti


__ADS_3

Happy Reading 😊


"My Love, Aahh.. sudah tidak tahan!"


"Sebentar sayang, belum keluar!"


"Aahhh, cepat keluarkan donk!"


"Iya, susah banget ini!"


"Sayang, cepetan!"


"Sebentar, sabar dulu, susah banget keluarnya!"


"Aaahhh, My Love buruan!"


"Kalau terburu-buru nanti sakit!"


"Tapi aku sudah tidak tahan ni!"


"Kalau kamu sudah tidak kuat, aku cabut paksa ya!"


"Eh jangan My Love, Aahhh keluarin ya!"


"Dalem banget soalnya, jadi susah kan mau keluar!"


"Aaahhh!!"


Arshel melemparkan bantal ke arah dua orang yang sedang berada di sofa itu.


Buggh!!


"Arshel! Kamu kenapa?" Daniella dan Zack memandang pria yang masih terbaring di ranjang pasien itu.


"Suara kalian mengganggu istirahat ku! Bisa tidak menggunakan kata-kata yang sewajarnya!"


"Memangnya kata-kata kita tidak wajar?" Tanya Daniella.


"Jangan pakai suara desah4n seperti itu, kalau orang lain yang mendengar pasti kalian di kira sedang berbuat aneh-aneh di ruangan ini! Apalagi tidak melihat kejadian yang sebenarnya."


Arshel yang akan memejamkan mata menjadi tidak bisa karena mendengar Zack yang berteriak seperti itu.

__ADS_1


Padahal saat ini Daniella sedang membantu sang suami mengeluarkan duri yang menancap di telapak kakinya karena bermain bola di taman rumah sakit tanpa menggunakan alas.


"Sepertinya otak Arshel menjadi mesum sekarang, gara-gara kecelakaan dan Amnesia otaknya jadi menggeser sedikit!" Ucap Zack.


"Iya betul!" Daniella mengangguk.


"Siapa yang mesum!"


"Lah tadi siapa yang berpikir aneh-aneh, padahal suaranya saja wajar kok, kamu sih belum pernah merasakan yang enak-enak, jadi mikirnya seperti itu!" Ledek Daniella.


"Siapa bilang belum pernah merasakan? Ups!!"


Daniella dan Zack saling memandang.


"Apa tadi yang Arshel ucap? Apa Jangan-jangan kamu sudah pernah Anu-anu sama Eve?" Tanya Zack.


"Atau Arshel hanya merindukan Evelyn atau kepalanya sakit lagi?" Daniella berjalan ke arah ranjang dan menyentuh kening Arshel dengan telapak tangannya.


"Apa sih Ell, memangnya kalian tidak!" Arshel menyentuh tangan Daniella dan menariknya duduk di sisi ranjang.


"Eh, malam pertama kami setelah menikah ya!"


Arshel memeluk saudara kembarnya itu dari samping.


"Arshel! lepaskan Ell, meskipun kalian saudara tapi dia sudah menjadi istriku," Seru Zack dan langsung menarik tangan sang istri.


"Mode cemburu! Hahaha!" Arshel tergelak ketika melihat Zack yang cemburu seperti ini.


Zack mendengus dan mengajak Daniella duduk kembali di sofa.


"Cepat ambilkan durinya sayang, rasanya sangat tidak nyaman!" Daniella mengangguk dan melakukan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.


Arshel menggelengkan kepalanya, dia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"Evelyn, aku merindukanmu," Batin Arshel.


Sedangkan di sisi lain.


Evelyn menutup matanya setelah mencelupkan alat itu ke dalam wadah. Dia harap-harap cemas dengan hasilnya. Setelah 10 menit kemudian Evelyn membuka matanya.


Evelyn menghembuskan nafas kasar setelah melihat satu garis merah sudah terlihat jelas, entah kenapa dia menjadi sedih dan tidak percaya diri.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba matanya membulat sempurna kala ada satu garis lagi yang timbul di samping garis satunya.


"Aakkk akhirnya!" Seru Evelyn senang.


Baru kali ini ada seorang gadis yang belum menikah sangat bahagia melihat hasil tes kehamilan yang positif.


Mungkin bagi Evelyn itu adalah sebuah anugrah yang terindah dari Tuhan. Sebagai seorang wanita bisa mengandung itu merasa paling sempurna.


Tok, tok, tok!


"Evelyn, ada apa nak? Kenapa berteriak!" Seru Candy di luar kamar mandi.


"Tidak apa-apa Mom!"


"Kamu yakin Eve."


Evelyn segera menyembunyikan alat itu di sakunya, kemudian dia membuka pintu itu.


Ceklek!


Candy menatap putrinya itu dari atas hingga ke bawah. "Apa ada yang kamu sembunyikan sayang?"


Evelyn sedikit terkejut dengan pertanyaan Mommy-nya itu.


"Eve tidak menyembunyikan apa-apa, Mommy kenapa masuk ke dalam kamar?"


"Uncle Danish dan Aunty Lula mau berpamitan denganmu, ayo kita ke bawah." Candy menarik tangan putrinya lembut.


Evelyn memberi pelukan kepada calon mertuanya itu. "Evelyn, jaga diri baik-baik sayang, nanti kalau Arshel sudah sembuh dia akan ke sini," Ucap Lula.


"Iya Aunty, Uncle. Hati-hati ya, tolong nanti suruh Arshel mengabari ku!"


"Iya sayang, sebenarnya dia sangat ingin menghubungi mu, tapi ponselnya Aunty sita, biar dia memulihkan diri dulu." Evelyn tersenyum mendengarnya.


Harapannya hanya satu, bisa segera menikah dengan pria yang di cintainya itu karena rencana Arshel menanam benih di rahimnya akhirnya berhasil tumbuh.


Bersambung.


Hai Akak reader 🥰


Maaf bab ini hanya sedikit 🙏 soalnya othor lagi tidak fokus sama sekali gara-gara naskah yang hilang 🤧🤧

__ADS_1


Mohon dukungannya terus ya4🙏


__ADS_2