
Happy Reading 😊
"Apa aku harus masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu agar aku bisa leluasa bicara dengan Regina?" Gumam Aland.
Aland berjalan mendekati pintu kamar Regina, ia membuka sedikit pintu itu dan melihat di dalam sana Regina tidak ada.
Kemana Regina? Pasti dia sedang di kamar mandi. Batin Aland.
Otak kotor Aland langsung bekerja, ia langsung membayangkan tubuh indah Regina saat tidak memakai selelai benang seperti waktu ketika meraka berada di Miami.
Malam yang tidak akan pernah Aland lupakan sepanjang hidupnya, bisa melihat indahnya tubuh gadis yang di cintai nya itu. Bahkan Aland sudah berhasil merasakan betapa lembut dan kenyalnya bagian tubuh Regina.
Tubuh Regina benar-benar menjadi sudah menjadi candunya. Untung saja Aland tidak keblabasan waktu, padahal saat itu hasratnya sudah di ubun-ubun, mungkin kalau orang lain pasti sudah melakukan itu melihat seorang wanita pasrah di bawah kita, tapi tidak dengan Aland. Pria itu merasa kasian dan tidak ingin menyakiti Regina.
Aland tahu kalau perbuatannya nanti akan membuat Reginae membencinya, Aland pah bagaimana karakter gadis itu. Regina selalu menjaga dirinya bahkan di usianya yang sudah dua puluh tiga tahun itu hanya Aland yang pernah menyentuhnya.
Saat ini Aland sudah seperti ayam jago yang mondar mandir mencari pasangannya.
Masuk tidak ya..?!
"Masuk, tidak,,, masuk, tidak?" Gumam Aland.
Pria itu melihat sekeliling, sepertinya Uncle Zack dan Aunty Daniella masih berada di lantai bawah. Sepertinya ia harus masuk untuk bisa bicara dengan Regina, karena kalau tidak dengan di paksa, Regina pasti tidak akan mau. Setelah Regina memutuskan untuk menjauhi Aland, gadis itu seakan menjadi keras kepala dan sulit untuk diraih.
Demi mempertahankan cintaku, aku akan masuk..!
Seketika itu Aland langsung membuka pintu kamar Regina dan masuk ke dalam. Tidak lupa pria itu mengunci pintu dan langsung mencabut kuncinya, kemudian ia masukan ke dalam saku celana.
Perasaan gugup segera menghantuinya, ini bukanlah seperti sifat Aland yang sebenarnya, pria itu tidak pernah bertindak konyol seperti ini.
Mengendap-endap masuk ke dalam kamar gadis hanya untuk ingin bicara dengan gadis itu.
Ada-ada saja putra Darren ini, sudah seperti maling saja, ini efek karma yang Aland rasakan ketika mengejar gadis yang di cintai. Butuh usaha dan perjuangan memang. Sebenarnya bukan Aland namanya kalau pria itu tidak bisa mendapatkan wanita pujaannya.
Ketampanannya mampu membuat para wanita bertekuk lutut dan mengemis cinta padanya. Seperti halnya Regina, dulu gadis itu sangat memujanya, tetapi Aland mengabaikannya, bahkan ia tidak sadar bahwa sebenarnya dia sudah mulai mencintai Regina.
Pria itu mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Apa Regina sedang mandi? tapi malam-malam begini masa Rere baru mandi. Aland membatin. Membayangkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
Kenapa otakku benar-benar gak bisa berfikir jernih?? Batin Aland kesal sendiri.
Gara-gara membayangkan tubuh Regina yang tanpa busana itu membuatnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Otaknya kotor terkontaminasi tapi ajaibnya dia hanya seperti itu dengan Regina saja.
Bahkan hanya dengan membayangkan saja senjatanya sudah langsung bangun. "Sial, burung tidak tahu tempat, jangan sampai kamu meminta lebih ya, sabun di kamar mandi yang ada di kamar tamu sudah hampir habis!" Aland ngomel-ngomel sendiri.
Aland berusaha menetralkan otaknya yang sudah sangat kotor itu, sebenarnya dia bukan pria yang suka melakukan hal itu di dalam kamar mandi. Aland jarang bisa sangat bernaf_su, pria itu lebih menghindari dari pada harus di hadapkan oleh para mantan kekasihnya yang telan_jang di hadapannya.
Aland sejak remaja suka belajar bisnis dan ingin bisa menemani kakak iparnya, yaitu Arshel mengurus perusahaan SKY Grup yang saat ini tengah berkembang pesat.
Regina nampak keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai jubah handuk.
"Aaakkkk!!!" Regina berteriak dan spontan Aland langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Ssttt!! jangan berisik!" Bisik Aland.
Regina benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lakukan Aland di kamarnya.
"Kenapa kamu berada disini?" Tanya Regina setelah berhasil menarik tangan Aland dari mulutnya. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri.
"Aku hanya ingin bicara Re, aku janji tidak akan melakukan apapun padamu!" Aland memohon.
"Maafkan aku Re, ku mohon jangan bersikap acuh seperti ini." Regina menatap wajah tampan yang dulu sangat di pujanya itu.
Sepertinya Regina sudah mulai sedikit tercubit melihat sikap Aland yang benar-benar berusaha sangat kuat untuk bisa bicara padanya dan meminta maaf.
Regina mendesah kasar.
"Baiklah, aku akan memaafkan mu, Aland. Sekarang keluarlah dari kamarku!" Aland menahan tangan Regina yang akan mendorongnya.
"Aku juga ingin kamu memberi ku kesempatan, Re." Ucap Aland menatap Regina dengan mata yang sendu.
"Kesempatan apa?" Regina memicingkan matanya.
"Beri aku kesempatan untuk mengejar cintamu," Aland memegang bahu Regina dan semakin mendekat.
Please, jantung,,, kontrol dirimu agar tidak tidak berdebar. Batin Regina.
__ADS_1
Jantung Regina semakin menggila seiring wajah Aland yang semakin mendekat.
"Eghem,, baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk bisa membuatku jatuh cinta padamu lagi." Jawab Regina mati-matian menahan jantungnya yang sudah menggila.
Semoga saja Aland tidak mendengarnya..
"Tapi sepertinya kamu masih mencintaiku?" Regina membulatkan matanya.
"Apa? aku sudah tidak!" Jawab Regina memalingkan wajahnya.
"Tapi aku biaa mendengar detak jantungmu yang berdetak keras." Aland memegang dada Regina, merasakan alunan cepat dari jantung itu.
"Singkirkan tanganmu, Aland!" Regina sudah merasa malu karena tidak berhasil mengontrol diri.
"Aku sangan mencintaimu, Regina Alvares Dimitri. Mulai saat ini kamu adalah milikku " Aland memuk Regina etar.
Hatinya sungguh bahagia bisa mendapatkan wanita yang sangat di cintailah itu. Regina juga merasakan hal yang sama, sepertinya cinta Aland padanya benar-benar tulus.
"Jawab pertanyaan ku, sayang." Bisik Aland.
"Pernyataan yang mana?" Regina menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aland.
"Itu yang tadi, kamu harus menjawab pertanyaan ku,, aku mencintaimu, bagaimana denganmu?"
"Ehmmm ...!"
"Kelamaan," Aland menyentuh pipi Regina dan mencium bibirnya.
Bibir mereka saling terpaut, memagut dan membelitkan lidah. Regina terlihat sangat kaku karena memang belum pernah berciuman sebelumnya.
"Aku tahu ini ciuman yang pertama untukmu, sayang," pipi Regina semakin merona.
"Kamu memang orang pertama yang menciumku, tapi aku senang bisa memberikan ciuman pertama ku pada orang yang ku cintai." Jawab Regina.
Aland kembali mencium Regina, kali ini ciuman itu lebih menuntun dan lembut. Lidah Aland masuk ke salam dan mengabsen deretan gigi Regina. Pria itu semakin menekuk tengkuk Regina untuk memperdalam ciumannya.
Tok, tok, tok!!
__ADS_1
"Regina, sayang,!"
Bersambung.