
Disisi lain sovia tampak baru terjaga dari tidurnya. Dia kemudian melihat ponselnya dan terkejut karena panggilannya dengan david belum terputus. Dengan cepat sovia memutuskan panggilannya.
Astaga! Gara-gara keasyikan nelpon kerjaan gue jadi terbengkalai batin sovia. Dia segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Kemudian dia bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Sovia bekerja disalah satu perusahaan sebagai seorang sekretaris. Walaupun ia anak dari orang yang berada, dia tak mau bersangkut hanya pada ayahnya. Dia ingin berusaha untuk mandiri.
Ya ampun gue udah telat banget nih. Pasti pak hendro bakalan marah nih batin sovia yang kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sementara itu dikantornya reyhan tampak sibuk dengan pekerjaannya. Dia selalu ditemani oleh radit sekretaris pribadinya.
" Dit, bagaimana dengan anak itu? Apakah sudah ketemu?"
" Saya sudah mencari informasi tentang anak tersebut pak bos dan saya mendapat informasi bahwa anak tersebut telah meninggal dunia"
" Apa? Bagaimana bisa?"
" Anak itu sudah setahun yang lalu meninggal dunia pak bos. Ibu dari anak itu mengalami gangguan jiwa pak bos. Dia selalu membawa foto anaknya tersebut dan meminta tumpangan kepada orang untuk mengantarkan dirinya ketempat anaknya berada" jelas radit.
" Baiklah, silahkan kembali bekerja"
" Siap pak bos" seru radit yang segera pergi menuju ruangannya. Ketika ia keluar tampak seseorang yang tak asing baginya sedang menuju ruangan clarisa.
Itu kan ayahnya clarisa, sedang apa dia disini? batin radit bertanya-tanya.
Pria paruh baya tersebut masuk kedalam ruangan clarisa dengan wajah datar.
" Clarisa!" Panggilnya dengan suara keras.
__ADS_1
" Papa. Papa disini?" ujar clarisa yang terkejut melihat kedatangan ayahnya. Dia langsung berdiri menghampiri ayahnya " Ada apa pa? Tumben papa kemari?"
" Kamu masih nanya ada apa? Clarisa seharusnya papa yang nanya sama kamu ada apa? Kenapa sampai sekarang papa belum mendengar kabar baik kamu dan reyhan"
" Pa, kita bicara ini dirumah aja ya pa. Gak enak bicara disini kalau orang-orang sampai denger gimana pa?"
" Clarisa, papa mau secepatnya kamu harus bisa mendapatkan hati reyhan. Bagaimana pun caranya papa gak peduli. Kamu tau kan hanya dialah satu-satunya pemilik perusahaan terbesar dan berpengaruh di negara ini. Dia harus menjadi menantu papa dan harus menaikkan martabat keluarga kita"
" Iya pa, clarisa ngerti tapi clarisa gak tau gimana cara buat luluhin hati reyhan pa. Kenapa harus dia pa? Dia itu lelaki dingin berhati batu pa. Dia susah banget buat didapatin, clarisa selalu berusaha pa tapi apa? Dia selalu menolak clarisa pa" jelas clarisa.
" Ya kamu harus lebih berusaha lagi lah. Apa jangan-jangan kamu masih menjalin hubungan dengan sekretaris rendahan itu ha! Papa sudah berapa kali mengatakan pada kamu clarisa bahwa lelaki rendahan seperti dia tidak cocok dengan keluarga kita. Papa tekankan sekali lagi sama kamu! Kalau kamu berani menjalin hubungan lagi dengan dia papa gak akan segan-segan melakukan hal yang bisa membuat dia menderita selamanya" tegas ayahnya dengan raut emosi.
" Papa! Cukup pa. Clarisa capek pa! Selama ini clarisa selalu nurutin apapun yang papa mau. Pa, clarisa juga manusia yang punya hati dan jalan hidup sendiri pa jadi tolong pa jangan bilang begitu" jawab clarisa dengan mata yang berkaca-kaca.
" Clarisa! Kamu sudah berani melawan papa sekarang! Hanya demi laki-laki rendahan itu."
" Clarisa!" Ujar ayahnya sambil mengangkat tangannya hendak menampar clarisa. Clarisa terlihat menunduk sambil memicingkan matanya.
Tiba-tiba radit datang yang membuat ayahnya clarisa segera menurunkan tangannya.
" Permisi, mohon maaf mengganggu waktunya clarisa. Ini ada beberapa laporan yang harus kamu revisi dan segera antar keruangan pak bos" seru radit sambil memberikan beberapa map laporan pada clarisa. Radit menatap clarisa pekat, dia melihat raut ketakutan yang ada diwajah clarisa dan ketika ia menoleh ayahnya clarisa terlihat raut emosi dan tak suka saat melihat kedatangannya.
" Iya dit, nanti akan saya berikan sama pak bos"
" Yaudah, saya permisi dulu" ujar radit yang segera keluar dari ruangan clarisa.
Setelah kepergian radit, ayah clarisa langsung mencengkeram erat lengan clarisa.
__ADS_1
" Awas saja kalau kamu membantah perkataan papa. Papa gak akan segan-segan lagi sama kamu"
" Sakit pa"
" Ini belum seberapa clarisa, kamu akan menerima rasa sakit lebih dari ini kalau kamu tak berhasil mendapatkan apa yang papa perintahkan" tegas ayahnya lalu pergi meninggalkannya. Clarisa terduduk lemas di lantai sambil meneteskan air mata.
Ayahnya begitu terobsesi dengan harta dan tahta. Dia tak pernah memikirkan bagaimana perasaan clarisa. Sejak kecil clarisa selalu berusaha keras agar bisa mendapatkan peringkat pertama karena jika tidak maka ayahnya akan menghajarnya habis-habisan.
Clarisa tak pernah bisa menolak apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia selalu diancam dengan berbagai hal yang membuatnya harus patuh pada keinginan ayahnya meskipun itu menyakitinya.
***
Siang harinya tika tampak terbangun dari tidurnya. Dia menatap arsen yang kini berada disampingnya sambil memeluknya. Lalu ia segera membersihkan dirinya.
Tika merasa begitu lapar, dia segera memeriksa meja makan dan tak ada makanan tersedia. Kemudian dia memeriksa kulkas tetapi tak ada makanan yang bisa dia makan karena isi kulkasnya hanya bahan yang harus dimasak terlebih dahulu. Tika menjadi bingung karena ia tak pernah masak sebelumnya. Dia selalu mendapatkan makanannya setiap pagi disebelah tempat tidur kalau tidak dimeja makan.
Ya ampun! Aku harus makan apa? Ini semua harus dimasak terlebih dahulu. Bagaimana cara masaknya ya? Aku kan cuma diajarin mama buat kue dan itupun masih belajar tapi memasak ini bagaimana caranya? batin tika yang kebingungan.
Tika memperhatikan bahan-bahan makanan tersebut. Dia kemudian melihat telur yang ada di pintu kulkas.
" Aku kan pernah lihat bibik masak ini, coba masak ini aja kali ya. Kayaknya ini lebih simpel deh" ujar tika pada dirinya sendiri.
Dia kemudian membawa beberapa butir telur karena dia ingin memasaknya juga untuk arsen. Ini adalah pertama kalinya tika melihat peralatan-peralatan dapur. Dia sangat bingung bagaimana cara menggunakannya.
" Gimana sih masaknya? ini kan alat yang biasa bibik pakai buat masak telur" ujar tika sambil mengambil sebuah teplon. Dia kemudian meletakkan teplon tersebut diatas kompor dan mulai memecahkan beberapa butir telur yang ditumpuk kedalam teplon. Dia merasa heran karena telurnya tidak berubah seperti yang dimasak oleh pembantunya.
Kenapa gak berubah ya? batin tika bingung sendiri. Kemudian dia pun memukul kepalanya pelan.
__ADS_1
" Pantesan gak berubah, kompornya belum aku nyalain" ujar tika segera menyalakan kompor dengan api yang besar. Dia kemudian mengaduk-aduk asal telur tersebut hingga bentuknya menjadi tak beraturan. Dia juga tak tau harus memasukkan bumbu apa jadi dia memasukkan asal bumbu-bumbu yang ada disitu.