
Sovia tak dapat menolak permintaan vira yang membuat dirinya pun ikut masuk kedalam gedung kantor tersebut bersama arsen.
Di lift vira berada ditengah-tengah arsen dan sovia. Sovia sengaja karena ia tak ingin dekat-dekat dengan arsen. Arsen terlihat menatap sovia yang sama sekali tak menoleh kearahnya.
" Tante, sebenarnya ada apa? " tanya sovia penasaran.
" Nanti kamu akan tau sendiri nak" jawab vira yang masih terlihat cemas.
Ada apa ya? Kenapa sepertinya tante khawatir banget. Apa ada masalah besar sama om? Ya ampun semoga om baik-baik aja deh batin sovia.
Akhirnya merekapun sampai pada lantai tujuan mereka. Mereka segera menuju keruangan yuda.
Betapa terkejutnya mereka melihat laura yang juga berada diruangan itu. Laura tampak langsung memeluk arsen erat.
" Beby, aku kangen banget sama kamu" ujar laura manja. Arsen dengan cepat melepaskan pelukan tersebut.
" Apa-apaan sih lo! Ngapain lo disini?" sungut arsen kesal.
Laura begitu kesal atas perlakuan arsen padanya tetapi ia mencoba untuk tetap tenang dan terlihat santai.
" Arsen, gak apa-apa sekarang kamu nolak aku tapi aku yakin sebentar lagi kamu bakalan mohon-mohon buat nikah sama aku" ujar laura dengan bangga.
" Lo ngomong apa sih cewek gatel? Ngapain lo disini ha! Gak ada kerjaan tau gak. Dari dulu arsen gak pernah suka sama lo karena sikap lo yang gatel itu" seru sovia membuka suara. Arsen menatap sovia lamat-lamat. Dia begitu senang sovia membelanya. Dari dulu sovia memang selalu membantu arsen untuk bisa lepas dari jeratan laura.
" Lo gak usah ikut-ikutan deh. Gue tau posisi lo sekarang sebagai istri sahnya arsen tapi lo juga gak bisa dong ngelarang arsen buat nikah sama gue" tegas laura. Semua orang yang berada diruangan tersebut terkejut mendengar perkataan laura karena setau mereka arsen menikah dengan tika bukan sovia.
Kenapa laura menyebut sovia istrinya arsen ya padahal arsen menikah dengan tika batin yuda bertanya-tanya. Sovia terlihat bingung harus menjawab apa.
" Maksud lo apa sih bilang kayak gitu? Kenapa lo bisa yakin banget gue mau nikah sama lo ha!" ujar arsen.
" Karena aku tau kamu gak bisa nolak aku sayang. Aku rasa kalian semua juga tau kalau papi aku itu pemilik 40% saham di perusahaan ini sementara ayah kamu hanya 30% saja. Jadi besar kemungkinan perusahaan ini milik aku dong dan yang lebih berhak jadi direktur disini adalah aku bukan papa mertua tapi kamu tenang aja beby aku gak akan turunin jabatan papa mertua kalau kamu nikahin aku. Aku gak apa-apa kok jadi yang kedua tapi setiap aku ingin kamu, kamu harus selalu ada buat aku" jelas laura dengan gaya sombongnya.
" Laura... Laura lo lupa ya kalau masih ada orang lain yang punya saham 30% lagi. Gimana lo bisa bilang kalau lo bakalan bisa lengserin bokap gue dari jabatannya" tegas arsen.
__ADS_1
" Arsen, kalau masalah 30% lainnya itu gak penting buat aku sayang karena sekretaris papa lagi bernegosiasi buat ngurus saham itu biar jadi milik aku"
Oh, aku paham sekarang kenapa tante pengen aku kesini batin sovia yang mulai mengerti.
Sovia terlihat tertawa yang membuat laura semakin kesal. Begitupun arsen yang terlihat kebingungan.
" Kenapa lo ketawa ha!" Sungut laura kesal.
" Lo gak akan bisa lengserin om yuda dari jabatannya cewek gatel"
" Maksud lo apa?"
" Karena pemilik saham 30% lainnya itu bokap gue jadi kalau saham papa arsen sama saham gue digabung itu bakalan lebih banyak dari lo cewek gatel" jelas sovia sambil tersenyum tipis. Laura terlihat malu sendiri dan begitu kesal. Lalu ia segera keluar dari ruangan itu dengan emosi yang begitu besar.
Yuda dan vira terlihat lega setelah laura pergi. Arsen terlihat semakin kagum pada sikap sovia yang sangat membela keluarganya sedangkan dirinya merasa sedih karena ayahnya memutuskan hubungan dengannya.
Arsen kemudian mendekati sovia yang membuat sovia merasa begitu tak nyaman.
" Iya sama-sama Ar"
" Gue boleh nanya satu hal"
" Apa"
" Kenapa laura nyebut lo istri gue?"
" Ceritanya panjang ar, intinya dia cuma salah paham aja. Dia ngira lo nikah sama gue karena gue cewek yang paling dekat sama lo. Maaf ya gue gak bilang ke dia yang sebenarnya karena gue takut dia bakalan gangguin tika. Gue gak ada maksud lain kok, gue cuma gak mau dia ngerusak hubungan kalian berdua" jelas sovia.
" Kamu lihat arsen, ini wanita yang kamu sia-siakan. Dia bahkan masih menolong kamu dan juga papa walaupun kamu telah begitu menyakitinya" pekik Yuda.
" Om udah jangan berantem sama arsen lagi ya. Sovia gak pernah merasa disakitin sama arsen kok, lagian sovia seneng bisa bantuin om sama tante" ujar sovia tersenyum tipis.
" Sovia, kamu wanita yang baik nak. Tante yakin kamu akan mendapat seseorang yang sama baiknya seperti kamu nak" ujar vira.
__ADS_1
" Amin. Makasih tante, kalau gitu sovia pergi dulu ya soalnya masih ada urusan" seru sovia yang langsung berpamitan lalu pergi keluar ruangan. Arsen terlihat mengejarnya dari belakang. Sovia mempercepat langkahnya agar tak terkejar oleh arsen tetapi saat ia memencet tombol lift agar segera tertutup, arsen terlihat menghalangi dengan tangannya dan ikut masuk kedalam.
Arsen menekan tombol lift dan kini hanya mereka berdua yang berada didalam lift tersebut.
" Kenapa buru-buru pengen pergi sov? Lo masih marah sama gue"
" Arsen, udah deh. Gue lagi gak mau bahas yang lalu-lalu ya"
" Kenapa sov? Lo suka sama gue kan. Gue juga sebenarnya juga suka sama lo sov dan gue juga udah bilang itu kan sama lo"
" Arsen! Cukup ya. Lo sekarang udah nikah! Lo udah punya seseorang disamping lo sekarang yang harus lo jaga dan lo sayangi. Kita gak akan mungkin lagi ar, karena gue cuma mau nikah sama david sekarang bukan suami orang!" Tegas sovia kesal.
" Apa lo bener-bener gak punya perasaan apa-apa lagi sama gue sov?"
" Enggak! Dihati gue sekarang cuma ada david" tegas sovia melirik kearah lain.
" Apa lo yakin?"
" Arsen, gue mohon banget sama lo jangan buat gue jadi benci sama lo sekarang! Lebih baik lo fokus sama tika aja"
Arsen terlihat semakin mendekati sovia yang membuat sovia menjadi panik.
" Lo mau apa arsen? Jauhin gue!" Pekik sovia.
Arsen semakin mendekat dan mencengkram pundak sovia dengan erat.
" Arsen! Lepasin gue!"
Arsen hendak mencium sovia tetapi sovia dengan cepat melayangkan sebuah tamparan kewajah arsen yang membuat arsen terdiam dan menatap kearah sovia dengan cermat.
Ketika pintu lift terbuka sovia dengan cepat lari menuju mobilnya.
Apa yang gue lakuin? Astaga! Kenapa gue begini sih? Gue harus minta maaf sama Sovia sekarang batin arsen yang tersadar bahwa dirinya salah.
__ADS_1