
Galang terlihat tak tega meninggalkan diana tetapi dia harus segera membawa kedua lansia itu keluar karena diana terus mendesaknya dan juga itu sangat berbahaya bagi mereka semua.
Diana terlihat berusaha mendorong bongkahan bangunan yang menimpa kakinya. Dia mengeluarkan semua kekuatan yang ia miliki. Dia menarik kakinya perlahan dan berusaha menahan rasa sakit.
Rasanya begitu sakit sekali! Reyhan sayang kalau aku sampai kenapa-kenapa disini, aku ingin minta maaf karena tak bisa menepati janji aku sama kamu rey tapi aku senang karena bisa menyelamatkan nenek dan kakek itu rey batin diana. Dia hanya bisa menangis menahan nyeri pada kakinya.
Sementara itu galang dan kedua lansia tersebut berhasil keluar dengan aman. Ririn tampak baru sampai dengan beberapa orang tim sar.
" Galang, diana mana? Kenapa dia gak ikut sama kamu?" Tanya ririn yang terlihat begitu khawatir.
" Diana masih didalam rin, aku harus segera kesana nolong dia. Kamu segera bawa kakek dan nenek ini menuju pengungsian ya" ujar galang yang kemudian langsung masuk kembali kedalam gedung tersebut.
Dia begitu terkejut melihat diana yang tidak sadarkan diri. Dia segera mengangkat bongkahan yang menimpa kaki diana dan memberikan pertolongan pertama terhadap kaki diana lalu ia segera menggendong diana menuju keluar. Dia terlihat begitu panik melihat kondisi diana yang kini tak sadarkan diri.
" Diana, aku mohon buka mata kamu na. Kamu gak boleh kenapa-kenapa na. Buka mata kamu na" lirih galang dalam kecemasannya.
Tak lama dia pun keluar dari dalam gedung tersebut. Ririn yang melihat diana tak sadarkan diri pun segera menghampirinya.
" Galang, Diana kenapa?"
" Udah Rin! Gak usah banyak tanya lebih baik kita kembali sekarang. Aku gak mau diana kenapa-kenapa!" Tegas galang lalu membawa diana tanpa mempedulikan ririn. Ririn begitu terkejut atas perlakuan galang padanya. Galang begitu perhatian dan sangat cemas pada keadaan diana.
Ririn terlihat berjongkok dan menangis.
Sepertinya aku salah sangka terhadap perhatian galang. Galang menyukai diana bukan aku batin ririn tersadar lalu ia pun menangis.
Dilain sisi reyhan tampak masih dikantornya. Dia begitu cemas pada diana. Tak tau kenapa perasaannya saat ini terus memikirkan diana.
Ada apa ini? Kenapa perasaan aku gak enak ya. Semoga diana baik-baik saja disana batin reyhan.
Reyhan terlihat menyiapkan segala sesuatu dengan matang agar bisa menang melawan clarisa dan adiknya besok. Reyhan juga telah memesan pengacara paling terkenal dan handal agar bisa memenangkan kasus tersebut.
Radit juga membantu reyhan untuk menyusun berkas-berkasnya. Semalaman mereka begadang untuk mempersiapkan sidang besok.
***
Pagi hari yang begitu indah bagi tika karena hari ini adalah ulang tahunnya. Saat dia terbangun dari tidurnya, ia tak menemukan arsen disebelahnya melainkan sebuah surat.
" Arsen kemana? Pagi-pagi gini kok udah gak ada" lirih tika pelan. Dia kemudian mengambil surat tersebut dan membacanya. Dalam surat tersebut berisikan perintah yang menyuruhnya untuk pergi ke ruang tamu. Tika segera bergegas kesana.
Kemudian dia menemukan surat lagi yang memerintahkannya untuk mengikuti pita yang ada didekatnya. Tika mulai menyusurinya hingga ia sampai dihalaman belakang. Dia begitu terkejut melihat karangan bunga yang begitu besar. Selain itu disitu juga telah dihias dengan bergitu indah.
Arsen kemudian memberikan karangan bunga pada tika.
__ADS_1
" Happy birthday sayang" ujarnya. Tika terlihat begitu excited. Dia tak dapat menggambarkan bahwa dia begitu bahagia kini.
" Makasih ya sayang" sahut tika memberikan sebuah ciuman hangat untuk arsen. Lalu mereka segera duduk ketempat yang telah disediakan oleh arsen. Tika terlihat berdoa terlebih dahulu sebelum meniup lilin. Lalu ia meniup lilin dan memeluk arsen dengan eratnya.
" Makasih sayang, aku kira kamu lupa hari ini aku ulang tahun"
" Gak mungkin lupa lah sayang, ini kan hari istimewa kamu aku pasti ingat sayang" jawab arsen sambil tersenyum. Tika kemudian memotong kue dan memberikannya pada arsen. Tika pun jail dan mengoleskan cream pada wajah arsen lalu ia tertawa bahagia. Ketika arsen ingin membalasnya tika langsung berlari.
Mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil dengan kebahagiaan. Arsen pun menangkap arsen dengan susah payah. Dia juga mengoleskan cream pada wajah tika yang membuat wajah mereka berantakan karena cream.
" Arsen, lihat muka aku berantakan banget"
" Hahaha gak apa-apa sayang, kamu masih tetap cantik kok"
" Ih... Kamu apa-apaan sih masih ngegombal aja"
" Emang bener lho sayang"
Mereka kemudian saling menatap satu sama lain. Arsen kemudian menggendong tika.
" Arsen, turunin aku. Kamu mau bawa aku kemana?"
" Mandilah"
" Aku gak mau mandi bareng kamu"
" Arsen, aku lagi dapet sekarang"
Arsen kemudian mengehentikan langkahnya.
" Oh gitu, yaudah kamu mandi duluan aja" ujar arsen yang terlihat kecewa karena tak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Dia kemudian menurunkan tika. Tika kemudian mencubit kedua pipi arsen.
" Sabar ya sayang, jangan sedih gitu dong"
" Hmm.. iya sayang"
Tika kemudian mencium arsen lalu pergi untuk mandi.
Sementara itu ditenda pengungsian, diana terlihat masih belum sadarkan diri. Galang selalu menjaga diana dari semalaman bahkan ia tak tidur. Ririn pun datang menghampirinya.
" Galang, kamu istirahat aja ya. Biar aku yang jagain diana disini"
" Gak rin, aku aja yang jagain diana lebih baik kamu bantu yang lain buat nolong korban yang baru ditemuin"
__ADS_1
" Galang, kamu kenapa keras kepala banget sih? Kamu dari semalam gak ada tidur lebih baik kamu sekarang istirahat aja biar aku yang jaga diana disini" tegas ririn.
Galang tak menjawab perkataan ririn dan masih fokus memperhatikan diana sambil menggenggam tangannya. Ririn terlihat makin cemburu terhadap perhatian yang diberikan galang pada diana.
Diana terlihat mulai menggerakkan jarinya dan mulai membuka matanya secara perlahan. Dia melihat sekelilingnya dengan tatapan yang masih belum terlalu jelas.
" Aku dimana?" Lirihnya pelan.
" Kamu ada ditenda pengungsian na, gimana keadaan kamu na? Apa masih ada yang sakit?" tanya galang yang begitu khawatir. Melihat galang memegang tangannya diana segera melepaskan genggaman galang.
" Aku baik-baik aja lang. Kakek dan nenek itu bagaimana?"
" Kamu tenang aja ya, mereka baik-baik aja sekarang. Mereka juga udah dapat perawatan yang baik kok"
" Syukurlah kalau begitu"
Diana melirik kearah ririn yang terlihat cemberut.
" Rin, kenapa kamu disana ayo kesini" pinta diana sambil berusaha untuk duduk. Galang pun menolongnya yang membuat ririn semakin cemburu. Diana segera menjauhkan tangan galang darinya.
" Aku bisa sendiri kok galang" ujar diana yang berusaha duduk. Lalu ia melihat kondisi kakinya yang telah terpasang gips.
" Kaki aku"
" Kaki kamu patah na akibat ditimpa reruntuhan itu, tapi untung cepat dilakukan tindakan jadi aku rasa mungkin setelah beberapa minggu kamu akan baik-baik saja" jelas galang.
" Beberapa minggu tapi kita hanya punya waktu seminggu untuk menolong orang disini kan. Bagaimana aku bisa menolong mereka jika kondisi ku seperti ini"
" Diana, kamu tenang aja ya masih banyak dokter lainnya juga kan yang bakalan nolongin mereka. kamu tau na, ada satu kabar baik lagi buat kamu"
" Apa"
" Pasien yang kamu operasi kemarin dia udah sadar na dan kondisinya semakin membaik"
" Syukurlah kalau begitu lang"
" Iya na, kamu lebih baik istirahat saja ya na agar cepat pulih"
" Iya lang, makasih udah nolong aku"
Ririn kemudian mendekati diana dan duduk disebelahnya.
" Na, aku mau bilang sesuatu sama kamu"
__ADS_1
" Apa rin? Bilang aja"
Ririn menyorotkan matanya kearah galang yang menandakan dia ingin berbicara berdua saja dengan galang. Galang pun mengerti dan pergi keluar.