
Diana kemudian menatap sekitarnya mencari keberadaan reyhan. Dia terlihat diam terpaku karena semua tatapan tertuju padanya.
Astaga! Apa aku salah tempat ya? Tapi ini bener kok alamatnya sama kayak yang bibik bilang batin diana.
Zahra yang melihat kedatangan diana segera berlari kearahnya.
" Bunda!" Panggil zahra dengan wajah yang begitu gembira.
" Zahra" lirih diana pelan. Zahra kemudian memeluk diana erat.
" Bunda, kaki bunda kenapa?" tanya zahra sambil memperhatikan kaki diana yang dipasang gips.
Dari kejauhan reyhan juga terlihat datang menghampiri diana. Dia begitu khawatir saat melihat kaki diana yang dipasangi gips.
" Diana, kenapa bisa begini sih? Kamu kan janji gak akan terluka selama disana tapi kenapa malah begini jadinya. Kamu kapan sampai? Kenapa gak bilang-bilang sama aku? Kenapa kesini padahal kondisi kamu masih belum baikan kan. Kamu seharusnya tetap dirumah istirahat na" seru reyhan yang begitu cemas dengan keadaan diana.
Diana memandangi reyhan dengan tajam. Dia masih mengira bahwa ini adalah acara pernikahan reyhan dan clarisa. Hatinya begitu hancur dan rapuh.
" Reyhan! Kenapa kamu tega sih sama aku?" seru diana dengan mata berkaca-kaca. Reyhan terlihat bingung dengan perkataan diana.
" Maksud kamu apa na?"
" Aku kecewa sama rey, kamu janji bakalan nikah sama aku kan tapi kenapa kamu malah nikah diam-diam begini sama sekretaris kamu itu ha! Kamu juga gak ngasih tau aku kalau hak asuh zahra sekarang jatuh pada dion. Kenapa kamu begini sih rey? "
" Diana, kayaknya kamu harus dengerin penjelasan aku dulu deh"
" Penjelasan apa lagi ha! Jadi kamu nyuruh aku cepat pulang itu untuk lihat acara pernikahan kamu sama sekretaris kamu itu! Aku kecewa sama kamu rey, jangan pernah ganggu aku lagi" ujar diana yang kini meneteskan mata.
Reyhan semakin bingung saja karena diana selalu saja memotong perkataannya.
Tak lama clarisa datang menghampiri mereka.
" Rey, ada apa ini?" tanya clarisa penasaran.
Diana semakin kesal melihat clarisa yang kini berdiri disebelah reyhan.
" Diana, kaki kamu kenapa?"
Tahan diana, tahan... Jangan emosi. Disini rame bisa-bisa aku sendiri yang malu. Lebih baik aku segera pergi dari sini batin diana.
" Aku gak apa-apa kok, selamat ya buat kalian berdua. Semoga kalian bahagia" ujar diana yang membuat clarisa kebingungan.
Diana ngomong apa sih? Oh apa mungkin dia ngucapin selamat buat aku sama radit kali ya batin clarisa menerka-nerka.
" Oh iya, makasih ya na" jawab clarisa sambil tersenyum. Reyhan menatap clarisa dengan tatapan tajam yang membuat clarisa tak mengerti.
Aduh clarisa, kenapa malah bikin masalah makin runyam aja sih batin reyhan.
Tiba-tiba radit datang dari belakang sambil menggandeng lengan clarisa.
" Sayang, kamu disini. Ayo kesana, banyak tamu yang nungguin kita" ajak radit.
__ADS_1
Tunggu dulu deh, maksud radit ngomong gitu apa ya batin diana jadi semakin tidak mengerti.
" Radit, kenapa kamu menggandeng tangan clarisa?"
" Clarisa kan istri saya nona makanya saya menggandengnya" jelas radit yang membuat diana akhirnya mengerti. Dia kemudian merasa malu sendiri.
Reyhan hanya tersenyum melihat sikap diana yang merasa malu.
" Pak bos, nona diana. Kami kesana dulu ya" seru radit yang kemudian pergi bersama clarisa.
" Kenapa diam na?"
" Reyhan! Kenapa gak bilang sih kalau yang nikah itu bukan kamu "
" Gimana mau bilang kalau kamu selalu aja motong perkataan aku"
Reyhan kemudian menggendong diana yang membuatnya terkejut.
" Rey, kamu apa-apaan sih. Turunin aku sekarang"
" Kaki kamu itu masih sakit jadi gak boleh terlalu banyak jalan. Kita pulang aja ya"
Diana hanya menganggukkan kepalanya.
" Zahra, mau ikut ayah sama bunda atau mau tinggal sama oma disini"
" Zahra mau sama oma aja yah, disini juga ada teman-teman zahra"
" Siap yah" seru zahra yang kemudian pergi menghampiri ratmi.
" Rey,aku mau ketemu ibu dulu"
" Nanti aja dirumah sayang. Kaki kamu itu masih sakit, lagian aku gak suka orang-orang lihat kamu pakai baju begini. Dikirain pacarnya pelit nanti, masa iya pergi ke acara pernikahan pakai baju begini"
" Hmmm..."
Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan berangkat menuju rumah diana.
Diperjalanan reyhan tampak terus memperhatikan kaki diana yang dibalut gips.
" Kenapa kamu gak hati-hati sih sayang? Masih sakit gak" seru reyhan yang terlihat begitu peduli pada diana.
" Rey, aku baik-baik aja kok. Lagian ini gak terlalu parah banget palingan satu atau dua minggu juga sembuh" jawab diana menenangkan reyhan " Oh ya, rey kenapa kamu nyuruh aku pulang? Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa clarisa bisa nikah sama radit dan zahra bagaimana rey? kenapa kita ninggalin dia rey, kita harus balik sekarang jemput dia" ujar diana panik.
" Diana, kamu tenang dulu ya sayang. Zahra nanti bakalan dibawa pulang sama ibu kok"
" Maksud kamu rey?"
" Makanya kalau aku belum selesai bicara jangan dipotong dulu"
Diana pun terdiam, lalu reyhan menjelaskan semuanya pada diana yang membuat diana mengerti.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan papa clarisa rey?"
" Dia sudah aman sayang, aku tau bahwa papanya clarisa itu sangat gila tahta dan juga harta jadi aku melakukan kerjasama dengan dia dan berjanji akan menolong membangkitkan perusahaan dia yang hampir bangkrut "
" Oh begitu"
Sesampainya dirumah, reyhan langsung menggendong diana masuk kedalam rumah. Dia langsung mengantar diana kedalam kamarnya. Lalu reyhan menyuruh pembantu diana membuat makanan yang lezat untuk diana.
" Rey "
" Iya na"
" Kenapa kamu baik banget sih sama aku?"
" Apa itu sebuah pertanyaan na"
" Maksud kamu rey?"
" Aku sayang sama kamu na. Kamu cinta pertama dan aku harap kamu juga jadi cinta terakhir aku na" jelas reyhan.
" Aku juga sayang sama kamu rey" sahut diana.
Mereka terlihat begitu bahagia satu sama lain. Dilain sisi ririn merasa kesepian karena diana telah pulang. Beberapa orang wanita yang penasaran dengan pacar diana selalu mendatangi ririn. Ririn begitu kesal karena mereka sudah seperti wartawan yang memberinya banyak pertanyaan.
Saat sedang asyik menikmati makanannya tiba-tiba galang datang menghampiri ririn.
" Rin, sendiri aja nih"
" Iya mau sama siapa lagi coba"
" Kenapa gak gabung aja makan disana"
" Malas ih, bukannya makan aku nanti malah harus ngejawab semua pertanyaan dari orang-orang kepo itu"
" Hahaha ya apa salahnya dijawab"
" Kamu mah enak tinggal ngomong doang lah aku gimana? Harus jelasin satu persatu dulu sama mereka. Capek tau" celoteh ririn sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Galang hanya tersenyum melihat tingkah ririn.
" Ngapain kamu senyum-senyum lang" tanya ririn penasaran.
" Gak apa-apa kok, udah makan aja yang banyak"
" Hmm... Iya deh. Kamu sendiri gak makan?"
" Aku udah makan tadi"
" Oh gitu"
Ririn merasa begitu canggung karena galang yang terus memperhatikannya.
__ADS_1