
Dikamar vira berusaha menenangkan suaminya yang begitu emosi terhadap arsen karena selalu membangkang padanya.
" Vir, kenapa kamu selalu bela anak pembangkang itu sih?"
" Mas, udah tenang dulu ya. Mendingan mas minum dulu" ujar vira sambil memberikan segelas air pada suaminya. Yuda segera meminum air tersebut dan melonggarkan dasinya. Dia menarik napas dalam berusaha meredam amarahnya karena dia tak ingin melampiaskannya pada istrinya.
" Mas, gimana? Sudah tenang" tanya vira.
" Iya vir. Kenapa kamu bolehin arsen bawa wanita itu kemari?"
" Mas, kamu kan tau kalau arsen putra semata wayang kita. Dia juga baru saja pulang kemari mas jadi aku hanya ingin melihat dia bahagia mas dan aku juga gak mau dia pergi lagi dari rumah ini mas"
" Vira, kamu selalu saja tunduk pada keputusan anak kamu itu. Aku gak akan biarin pernikahan mereka berlangsung vir, seharusnya kamu dukung aku bukan keras kepala anak itu. Kamu kan tau kalau kita sudah berjanji dengan arya ayahnya sovia untuk menikahkan anaknya dengan anak kita. Bukankah kamu juga setuju waktu itu dan bagaimana bisa kamu sekarang malah mendukung keinginan anak itu. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Sovia? Dia pasti terluka jika mengetahui hal ini" tegas yuda.
Vira sebenarnya juga dalam dilema yang besar ketika harus mengambil keputusan. Disatu sisi dia begitu menyukai sovia karena sovia sudah dianggap seperti putrinya sendiri sedangkan disisi lain dia juga menginginkan putra semata wayangnya bahagia.
" Mas, aku yakin sovia bisa mengerti mas"
" Mungkin sovia bisa tapi bagaimana dengan ayahnya vira. Sudahlah keputusanku sudah bulat selain sovia aku tidak akan menerima wanita lain lagi untuk menjadi menantu rumah ini. Mungkin dia akan menjadi istri arsen tetapi dia tidak akan pernah menjadi menantu rumah ini" jelas yuda. Vira tak menjawab perkataan suaminya tersebut karena jika semakin dia menjawab maka masalahnya akan semakin panjang.
Sementara itu diruang tamu arsen masih menggenggam tangan tika dengan erat.
" Tika, kenapa kamu diam aja sih? Jawab aku tik, jangan diam begini" ujar arsen khawatir melihat tika hanya diam sejak tadi.
" Arsen, sepertinya ayah kamu tidak menyukai aku"
" Sayang, dengar aku baik-baik ya. Walaupun papa gak setuju dengan hubungan kita, aku akan tetap menikahi kamu tika. Aku gak akan pernah lepasin kamu dari hidup aku tika" jelas arsen meyakinkan tika yang terlihat mulai ragu.
Arsen begitu sayang padaku, tapi bagaimana dengan ayahnya? Apakah aku harus tetap melanjutkan hubungan ini? Tika.. sadar! Perjuangan arsen selama ini sangat besar untuk kamu masa cuma masalah seperti ini kamu menyerah. Tidak... Aku tidak akan menyerah, aku akan menghadapi semuanya bersama-sama dengan arsen batin tika yang berusaha menguatkan dirinya.
" Arsen, kamu tenang aja ya. Aku gak akan pergi lagi kok dari kamu, kita akan hadapi masalah ini sama-sama. Aku akan berusaha bagaimanapun caranya agar ayah kamu bisa nerima aku sayang" ujar tika yang membuat arsen merasa lega. Dia kemudian memeluk tika dengan erat.
Sementara itu reyhan terlihat baru saja bangun dari tidurnya. Ketika melihat diana tertidur disebelahnya membuat reyhan tersenyum sambil memandangi wajah diana yang tertidur pulas.
Reyhan kemudian bergerak perlahan untuk turun dari atas ranjang agar tidak membangunkan diana. Tiba-tiba ratmi datang, reyhan langsung mengisyaratkan agar ratmi tidak mengeluarkan suara.
__ADS_1
" Diana kok bisa disini?" bisik ratmi.
" Reyhan juga gak tau bu, sepertinya dia sangat mengantuk bu. Biarkan dia tertidur disini ya bu"
" Baiklah. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
" Lebih baik bu."
" Syukurlah kalau begitu. Lho itu sarapannya kok belum dimakan rey"
" Iya bu tadi reyhan belum lapar bu makanya belum dimakan Bu"
" Yaudah sekarang ayo makan dari pada nanti makin sakit rey"
" Iya bu. Ibu mau kemana? "
" Ibu mau ngantar zahra les nak. Ibu titip diana ya, tolong jaga dia baik-baik "
" Iya Bu"
Zahra tampak datang menghampiri mereka.
" Ayah, zahra pergi les dulu ya" ujar zahra sambil mencium punggung tangan reyhan. Reyhan kemudian menggendong zahra.
" Iya sayang. Harus selalu ngikutin perkataan oma ya, terus rajin belajar. Ayah janji nanti bakalan bawa zahra jalan-jalan sama bunda"
" Yang bener ayah"
" Iya sayang"
" Oke ayah, zahra bakalan nurutin perintah oma dan rajin belajar ayah"
" Iya sayang. Ini baru anak ayah"
Melihat keakraban reyhan dan zahra membuat ratmi merasa bahagia. Karena tak ingin zahra telat les, mereka segera pergi menuju tempat les. Sementara reyhan menunggu makanannya dihangatkan kembali oleh pembantunya. Selagi menunggu reyhan menatap diana yang masih pulas tertidur.
__ADS_1
Dia pun berinisiatif untuk membaringkan diana diatas ranjang agar diana tidur dengan nyaman. Gerakan reyhan saat menggendongnya begitu perlahan karena tak ingin membangunkan diana.
Saat sedang dalam gendongan reyhan diana tiba-tiba terbangun dan menatap kearah reyhan. Dia kini masih dalam kondisi setengah sadar.
Ya ampun kenapa reyhan sampai ngikutin aku kedalam mimpi ya batin diana. Lalu ia tersenyum pada reyhan dan melingkarkan tangannya di leher reyhan.
Nyama banget sih digendong dia batin diana lalu ia pun tersadar seketika. Dia menatap reyhan pekat-pekat dan menyentuh pipi reyhan. Dia pun sadar kalau sekarang dia tidak sedang bermimpi. Diana segera meronta-ronta minta turun pada reyhan.
" Reyhan, kamu mau ngapain ha! Jangan macam-macam ya atau aku teriak" ancam diana.
" Teriak aja sayang, lagian gak ada orang kok disini" goda reyhan yang membuat diana merinding.
Diana terus meronta-ronta yang membuat reyhan akhirnya menurunkan diana diatas ranjang lalu ia menindih diana yang membuat fikirannya traveling entah kemana-mana.
" Reyhan, kamu mau apa sih? Pergi sana!" Pekik diana.
Tiba-tiba saja reyhan tak sadarkan diri dan pingsan dengan posisi berada diatas diana. Memang kondisinya reyhan belum sepenuhnya pulih, dia mengatakan baik-baik saja pada ratmi agar tidak terlalu khawatir padanya.
" Reyhan jangan becanda deh, kamu berat lho" pekik diana sambil mendorong reyhan ke sampingnya.
Ni cowok makan apa sih? Berat banget batin diana. Lalu ia memperhatikan reyhan yang tak bergeming sama sekali.
" Rey... Rey bangun woy! Reyhan bangun!" Pekik diana sambil menggoyangkan tubuh reyhan. Lalu ia kembali memeriksa suhu tubuh reyhan menggunakan telapak tangannya.
" Astaga! Panasnya makin naik aja. Gimana ni? " Ujar diana panik. Dia segera keluar untuk mencari bantuan.
" Bibik.... Bibik" panggil diana sambil berlari menuju kebawah. Diana yang panik tak terlalu memperhatikan jalannya sehingga dia pun terpeleset dari tangga dan kepalanya terbentur.
akhh... sakit banget, aku harus bisa bertahan demi reyhan batin diana. Diana merasakan begitu sakit tetapi dia masih memiliki kesadarannya. Dengan sekuat tenaga yang masih ia punya, dia menghampiri pembantunya.
" Astaghfirullah non, non kenapa?"
" Bibik, gak usah khawatirkan saya bik. Reyhan bik dia pingsan, ayo kita bawa kerumah sakit" seru diana yang menahan nyeri karena luka dikepalanya. Diana akhirnya melihat bayangan pria samar-samar yang selalu dilihatnya selama ini. Beberapa potongan ingatannya pun tampak sudah bisa dia ingat dan akhirnya karena tak kuat menahan nyeri dia pun jatuh pingsan.
Pembantunya yang khawatir segera meminta bantuan para pengawal untuk membawa mereka berdua kerumah sakit. Saking paniknya pembantu tersebut lupa bahwa diana tidak boleh dibawa keluar kalau tidak memakai masker atau penutup lainnya yang bisa menutupi wajahnya.
__ADS_1