
Setelah film selesai Diana masih tampak diam.
" Diana, apa kamu baik-baik aja" tanya David.
" Aku baik-baik aja kok kak. Kita mau kemana lagi kak" Balas Diana.
David menggenggam tangan Diana dan membawanya kepasar malam yang tak jauh dari mall tersebut. Wajah Diana yang datar berubah seketika menjadi senyuman.
" Kita naik roller coaster yuk" ajak David.
" Yuk kak"
Mereka pun bersenang-senang dipasar malam tersebut tanpa menyadari berjalannya waktu. Diana begitu bahagia dan hati David begitu lega melihatnya.
Akhirnya Diana gak sedih lagi batin David.
Permainan terakhir yang mereka ingin mainkan adalah naik kincir. Ketika kincir mereka berada diatas tampak pemandangan begitu indah.
" Kamu suka na" tanya David.
" Suka banget kak"
" Diana ada yang mau aku bilang sebenarnya sama kamu tapi aku harap kamu gak akan marah"
" Bilang aja kak, kok nanya dulu sih"
" Diana sejujurnya aku suka sama kamu dari awal aku denger cerita tentang kamu dari Ririn dan rasa itu semakin dalam sejak pertemuan pertama kita. Aku tau ini mungkin terlalu buru-buru na tapi aku gak bisa nahan perasaan yang ada dihati aku lagi. Aku suka sama kamu Na. Aku sayang sama kamu" jelas David sambil menggenggam kedua tangan Diana.
Diana terkejut mendengar pengakuan David.
Aku harus jawab apa ya? Kak David emang baik sih tapi aku masih belum bisa buat buka hati ke yang lain karena rasa sakit yang Reyhan kasih batin Diana.
" Maaf kak" balas Diana sambil melepaskan genggaman David " aku lebih nyaman kalau kita temanan aja kak"
Jawaban Diana begitu menusuk dihati David tetapi ia hanya tersenyum.
" Oh iya gak apa-apa kok Na"
" Kakak gak apa-apa kan?"
" Gak apa-apa na. Udah lupain aja apa yang aku ucapin tadi ya. Habis ini kita kemana lagi" ujar David mengubah topik pembicaraan.
" Pulang aja ya kak soalnya ini udah larut banget kasihan Zahra nunggu aku dirumah"
" Iya na" jawab David sambil melihat kearah luar kincir.
__ADS_1
Aku tau kakak pasti kecewa dengan jawaban aku kak, maafin aku ya kak. Aku gak mau php in kakak karena perasaan aku saat ini masih gak jelas kak. Sekali lagi maafin aku kak batin Diana.
Mereka pun turun dari kincir dan menuju mobil. Lalu David mengantar Diana pulang. Didalam mobil suasana hening kembali. David hanya fokus menyetir mobil tanpa berbicara sepatah katapun.
Apa kak David marah ya sama aku? Kok dia diam aja dari tadi. Aduh aku jadi gak enak nih sama kak David. Apa aku tanya dia aja ya? Tapi kalau moodnya makin hancur gimana. Udah deh diam aja lebih baik kayaknya batin Diana.
Beberapa menit kemudian mereka sampai didepan pagar Diana. Diana segera turun dari mobil David.
" Makasih ya kak buat hari ini dan buat boneka pandanya"
" Iya sama-sama na. Kalau gitu aku pamit dulu"
" Gak mampir dulu kak"
" Kayaknya gak na soalnya udah larut juga kan gak enak sama tetangga kamu"
" Yaudah hati-hati dijalan ya kak"
" Iya. Kamu langsung masuk lho. Bye " ujar David melambaikan tangan lalu pergi.
Diana juga melambai hingga mobil David tak terlihat lagi. Ketika membuka pagar rumah tampak Reyhan, Zahra dan Bu Ratmi menunggunya disitu.
" Ibu, Zahra, Reyhan, kalian ngapain disini?" Tanya Diana yang mulai cemas.
" Kamu dari mana aja? Jam segini baru pulang " tanya Bu Ratmi.
" Kamu pergi sama siapa? Kemana?" Tambah Reyhan.
" Zahra, ibu dan Reyhan nanyanya satu-satu dong jangan langsung serbu kayak gini. Kita masuk dulu deh habis itu Diana jelasin semuanya didalam" jelas Diana sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Bu Ratmi, Zahra dan Reyhan mengikuti dari belakang. Mereka duduk diruang tamu memandang tajam pada diana. Diana menelan air salivanya karena ia akan berbohong lagi.
" Diana hari ini pergi kerumah Ririn gara-gara Ririn sakit dan tadi gak ada orang dirumahnya makanya Diana temanin dia sampai keluarganya datang"
" Oh begitu. Gimana keadaan Ririn sekarang na?" Tanya Bu Ratmi.
" Udah agak mendingan Bu"
" Syukurlah kalau begitu"
" Yaudah Bu Diana istirahat dulu ya soalnya Diana capek banget" ujar Diana hendak pergi tapi Reyhan mencegahnya.
" Tunggu dulu. Itu boneka apa Na"
Astaghfirullah kenapa aku bisa lupa sembunyiin boneka ini sih? Diana kamu **** bangettt batin Diana.
__ADS_1
" Oh ini. Ini boneka yang dikasih ibunya Ririn buat Zahra. Ini sayang" jawab Diana sambil memberikan boneka tersebut pada Zahra lalu ia pergi menuju kamarnya.
" Wah... Bonekanya bagus ya yah" ucap Zahra kagum pada boneka yang diberikan Diana.
" Iya sayang. Yaudah kamu bobok lagi ya, ini udah malam banget Lo besok kamu kan sekolah"
" Zahra mau tidur bareng bunda dan ayah"
Keinginan Zahra membuat Bu Ratmi dan Reyhan terkejut.
" Zahra, kamu tidur sama Oma aja biar ayah sama bunda tidur berdua ya" ujar Bu Ratmi.
" Gak mau Oma. Zahra mau tidur sama bunda dan ayah" jawab Zahra.
Bu Ratmi tak tau harus mengatakan apa lagi.
Zahra, kamu buat masalah terus ya buat bunda kamu. Aduh gimana cara jelasin ke Zahra ya. Diana dan Reyhan mana boleh tidur seranjang karena mereka belum menikah batin Bu Ratmi.
" Yaudah Zahra ke kamar bunda dulu sana ntar ayah nyusul" seru Reyhan.
" Oke ayah" jawab Zahra sambil berlari menuju kamar Diana.
Setelah Zahra pergi kini hanya ada bu Ratmi dan Reyhan di ruang tamu.
" Reyhan, kalian tidak boleh tidur seranjang. Kalian kan belum menikah"
" Iya Bu Reyhan tau Bu. Reyhan gak akan macam-macam sama Diana Bu. Reyhan cuma disana sampai Zahra tidur habis itu Reyhan bakalan langsung pergi Bu" jelas Reyhan.
" Beneran kamu gak akan macam-macam sama anak ibu"
" Iya Bu. Reyhan janji ke ibu" balas Reyhan meyakinkan Bu Ratmi.
" Yasudah kamu harus pegang kata-kata kamu ya "
" Iya Bu. Kalau gitu Reyhan nyusul Zahra dulu ya Bu" ujar Reyhan pergi menuju kamar Diana.
Dikamar tampak Zahra terbaring di pelukan Diana. Reyhan yang melihatnya begitu senang dan bahagia.
Andai ini adalah kenyataan bukan drama, aku pasti seneng banget batin Reyhan.
Menyadari kedatangan Reyhan, Zahra langsung memanggilnya dan menyuruhnya tidur disebelahnya.
" Ayah sini tidur disamping Zahra"
Aduh Reyhan ngapain kesini segala sih batin Diana kesal.
__ADS_1
Reyhan menuruti keinginan Zahra dan tidur disebelahnya. Zahra mengambil tangan Diana dan Reyhan lalu menyatukannya diatas tubuh Zahra.
" Zahra senang banget bisa tidur bareng ayah dan bunda"