
" Kamu beneran gak cemburu rey?"
" Enggak"
" Oh, yaudah. Kalau gitu besok kalau aku mau jalan sama kak david boleh dong ya"
" Awas aja kalau kamu berani" jawab reyhan dengan tatapan tajam. Diana kemudian mencubit pipi reyhan.
" Uluhh..uluhh.. ngaku aja kali rey kalau cemburu. Gak usah sok cool gitu" ujar diana sambil tersenyum. Reyhan hanya diam saja sambil menggenggam kedua tangan diana. Dia menatap diana dengan tatapan hangat.
" Na, aku pengen bicara serius sekarang"
" Emang dari tadi kita gak serius ya"
" Diana"
" Iya reyhan"
" Aku beneran sekarang pengen bicara serius"
" Bicara apa rey?"
" Ingatan kamu kan udah balik nih, jadi kapan pernikahan kita bakal dilaksanain?"
Diana terdiam sejenak mendengar perkataan reyhan.
" Rey, aku aja masih dirumah sakit sekarang dan kamu malah bahas pernikahan. Tunggu sampai aku pulang dulu dong rey. Kita bicarain ini sama ibu dan mama kamu"
" Diana, kamu kan tau aku sayang banget sama kamu. Aku takut terjadi sesuatu lagi sama kamu na makanya aku mau kamu selalu ada disisi aku setiap saat. Kalau masalah itu aku juga udah pernah bilang sama ibu dan ibu juga setuju kan sama pernikahan kita" jelas reyhan.
" Mama kamu gimana?"
" Perempuan itu, aku gak peduli sama pendapat dia"
" Rey, kamu gak boleh gitu dong. Mau gimanapun tante karin itu mama kamu jadi kamu tetap harus dapat restu dari dia baru bisa menikah Rey"
" Tapi na, bukannya ibu dan dia waktu itu udah setuju sama pernikahan kita jadi gak usah ditanya lagi ya"
" Rey, kenapa sih kamu gak bisa maafin tante karin?"
" Kamu kan udah tau jawabannya na. Udah na, aku gak mau bahas itu lagi na"
" Reyhan"
__ADS_1
" Udah na, aku pengen istirahat aja. Kepala aku masih agak sakit" ujar reyhan yang kembali ke bednya lalu membaringkan tubuhnya membelakangi diana.
Reyhan, kenapa kamu gak bisa maafin mama kamu sih? Padahal mama kamu itu orang baik rey. Aku cuma berharap semoga kamu dan mama kamu cepat baikan rey batin diana.
Dilain sisi yuda dan vira telah sampai ketempat acara pesta teman yuda. Ketika mereka masuk, mereka bertemu dengan sovia dan ayahnya yang juga ada disitu.
" Yuda" ujar ayah sovia.
" Arya, kamu disini juga"
" Iya yud, aku baru pulang juga dari luar kota"
Mereka sibuk berbincang-bincang, sementara itu vira menghampiri sovia.
" Sovia, apa kita bisa bicara empat mata"
" Iya tante" ujar sovia. Lalu mereka segera pergi menepi kearah tempat yang tidak ada orang.
" Ada apa tante?" tanya sovia yang penasaran.
" Sovia, sebelumnya tante mau minta maaf dulu nak"
" Minta maaf kenapa tante? Tante kan gak ada salah apa-apa sama sovia"
Sovia mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh vira. Walaupun sebenarnya ia merasa begitu sakit dalam hatinya mendengar kabar pernikahan arsen dengan tika tetapi ia tetap mengulas sebuah senyuman pada vira.
" Kamu gak marah sayang?" tanya vira yang heran dengan sikap sovia yang terlihat biasa saja.
" Marah kenapa? Sovia udah tau semuanya kok tante dan sovia juga ngedukung hubungan mereka tante. Sovia ikut senang kalau arsen senang tante" jelas sovia.
" Makasih ya sayang kamu udah ngertiin arsen. Kamu memang anak yang baik sov, tante yakin diluar sana pasti ada pria yang disiapkan untuk kamu melebihi arsen" ujar vira. Sovia hanya membalas dengan senyuman lalu ia pamit keluar pada vira.
Sovia kemudian duduk dibangku yang tak jauh dari lokasi pesta. Tempat itu lumayan sepi makanya sovia ke tempat tersebut. Dia meluapkan semua rasa sakitnya dengan air mata. Dia tak tau apa yang harus dia lakukan.
Aku harus apa? Senang? Sedih? Aku harus bagaimana ya Tuhan. Disatu sisi seharusnya aku senang karena arsen mendapatkan kebahagiaannya tetapi disisi lain aku juga harus merelakan kepergian arsen bersama wanita lain. Apa aku sanggup? batin sovia. Dia hanya menunduk bersedih.
" Udah jangan cengeng gitu deh, lo itu udah gede kali" ujar seseorang sambil memberikan sebuah sapu tangan pada sovia. Sovia hanya menutupi wajahnya dengan menunduk karena dia tak pernah ingin orang lain melihatnya dalam kondisi seperti itu. Sovia kemudian mengambil sapu tangan tersebut dan menghapus air matanya.
Lalu ia melirik ke arah orang yang memberikannya sapu tangan tersebut.
" David! Lo disini" ujar sovia.
" Iya gue disini, tadi gue lihat lo didalam. Pas gue mau nyamperin lo malah keluar dan nangis disini. Lo emang gak berubah ya dari dulu"
__ADS_1
" Apaan sih lo? Gue gak nangis kok" bantah sovia.
" Udah deh, gak usah bohong sama gue sov. Gue sama lo udah sahabatan dari lama lo jadi gak perlu gengsi segala" ujar david yang kini duduk disebelah sovia.
" Gue beneran gak apa-apa dav. Btw Lo ngapain disini?"
" Ini kan acara pesta ulang tahun pernikahan tante gue makanya gue kesini wakilin mama soalnya mama gak bisa datang" jelas david. Sovia pun teringat bahwa ayah david telah meninggal dunia.
" Dav, gue turut berdukacita atas kepergian bokap lo dan gue minta maaf ya karena gak hadir ke pemakaman bokap lo"
" Gak apa-apa sov"
Sovia merasa canggung tak tau harus berkata apa lagi. Memang sejak dulu dia tidak terlalu akrab dengan david walaupun mereka satu kampus.
" Lo kenapa nangis sov?" tanya david.
" Gue, itu gue gak nangis kok tadi mata gue cuma kelilipan doang" seru sovia berbohong. David hanya tersenyum mendengar perkataan sovia karena ia tau sovia berbohong.
" Yaudah deh kalau lo gak mau jujur sekarang, tapi gue kasih saran nih ya kalau ada masalah jangan dipendam sendiri aja karena itu bakalan buat lo sakit sendiri"
Sovia kemudian menatap david begitupun david. Bola mata mereka saling beradu pandang satu sama lain. Sovia seketika mengalihkan pandangannya ketika seseorang memanggilnya.
" Sovia" ujar seseorang yang membuat sovia langsung melirik kearahnya.
" Papa, ada apa pa?"
" Kamu ngapain disini sayang? Papa dari tadi nyariin kamu nak"
" Maaf ya pa, sovia gak izin papa dulu keluar. Sovia ngerasa gerah didalam makanya keluar pa"
" Dia siapa nak?" seru arya yang menatap tajam pada david. David segera berdiri disamping sovia dan memperkenalkan dirinya.
" Halo om, perkenalkan saya david temannya sovia om"
" David" ujar arya sambil mencoba mengingat karena ia merasa tak asing dengan wajah david " Kamu anaknya almarhum erik dan andin kan"
" Om kenal sama papa dan mama saya"
" Papa dan mama kamu itu sahabat baik almarhum mamanya sovia. Mungkin kamu gak kenal sama om karena dulu om dan almarhum mamanya sovia itu waktu berkunjung kerumah kamu, kamu itu masih berusia 3 tahun nak" jelas arya.
" Oh begitu om, maaf ya om david gak ngenalin om"
" Iya gak apa-apa nak"
__ADS_1
Mereka saling berbincang-bincang mengenai masalalu david yang membuat sovia tertawa. David hanya bisa terdiam malu mendengar arya bercerita.