Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 117 "Terlambat bangun"


__ADS_3

Kini keduanya sudah berbaring di atas ranjang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang mereka dapatkan. Deru napas keduanya terdengar tak beraturan, keringat membasahi tubuh keduanya seolah membuktikan betapa panasnya percintaan yang baru saja mereka lewati.


Kasih yang sadar kalau ia masih polos segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, sedangkan Arkan masih berbaring dengan memejamkan matanya sembari mengumpulkan tenaganya yang habis terkuras, Arkan yang teringat sesuatu langsung turun dari ranjang memakai kembali boxernya dan berjalan menuju meja sofa, ia mengambil kantong plastik yang ada di sana dan tak lupa membawa sebotol air mineral dan berjalan mendekati istrinya yang sedang berbaring di ranjang.


"Kasih kamu jangan tidur dulu, duduklah dan minum ini." Suruh Arkan memberi pil pencegah kehamilan.


Arkan memang sudah mempersiapkannya ketika Kasih di kamar mandi ia menghubungi asistennya Rendi untuk membeli pil itu, dan dengan sangat terpaksa Rendi bergegas membelinya di apotek yang dekat dengan hotel.


Kasih sudah tahu pil apa itu, segera meminumnya tanpa banyak bertanya. Kasih juga tidak ingin hamil dalam waktu dekat ini. Selesai meminum pil itu Kasih langsung kembali berbaring dan memejamkan matanya, bukan karena ia mengantuk tapi lebih tepatnya ia yang tak sanggup menatap suaminya itu karena masih malu.


Apalagi ketika Kasih mengingat desah*nnya tadi, ia begitu menikmati sentuhan yang di berikan Arkan bahkan Kasih belum pernah menikmati bercinta senikmat itu ketika dulu bersama Raka. Kasih kini menyesali perbuatannya yang tidak bisa menahan diri "Seharusnya tadi kamu bisa mengontrol diri kas, kenapa kamu seperti wanita liar tadi bahkan kamu sangat agresif, apa yang akan di pikirkan mas Arkan dia pasti merasa jijik denganku." Sesal Kasih dalam hati.


Melihat tingkah istrinya Arkan paham betul kalau Kasih masih malu kepadanya, tak ingin membahasnya karena akan membuat istrinya itu semakin malu, Arkan juga ikut berbaring di samping Kasih setelah meletakkan botol air mineral di nakas samping ranjang mereka.


Pagi hari matahari sudah mulai menampakkan sinarnya semua manusia sudah terbangun dari tidurnya tapi tidak dengan pasangan pengantin baru itu, keduanya masih terlelap dengan pulas walau sinar matahari mulai masuk dari celah gorden , Arkan bahkan mengeratkan pelukannya pada Kasih mencari kehangatan di tengah dinginnya udara pagi.


Pasangan pengantin yang kelelahan akibat aktivitas mereka tadi malam apalagi Arkan yang meminta jatahnya tengah malam karena tidak tahan melihat Kasih yang tidur dengan lingerie seksi, maka terjadilah ronde kedua yang kembali menguras tenaga mereka.

__ADS_1


Dering ponsel keduanya yang dari tadi tidak berhenti berbunyi membuat keduanya terbangun. Arkan langsung mengangkat telepon yang ternyata dari mama Risma "Iya ma, ada apa?" Tanya Arkan.


"Mama dan yang lain pulang ke rumah duluan, kami sudah tidak sanggup menunggu pengantin baru yang asyik di kamar, sampai-sampai tidak tahu hari sudah hampir siang dan katakan pada Kasih agar tidak khawatir karena baby Ardi selalu anteng dengan mama. Kalau begitu silahkan lanjutkan acara kalian." Ucap mama Risma yang sudah mematikan teleponnya.


Arkan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mamanya meledek dirinya.


"Siapa mas?" tanya Kasih dengan suara seraknya.


"Mama" jawab Arkan meletakkan ponselnya kembali.


"Mama bilang apa mas?" tanya Kasih lagi.


Kasih yang melihat ponselnya langsung terkejut karena mengetahui sekarang sudah jam sebelas "Ya ampun mas, ini sudah hampir siang tapi kita baru bangun, Apa kata kelurga mas kepadaku nanti, sudah jadi istri tapi malas bangun pagi." Ucap Kasih yang merasa takut.


"Kamu tidak usah takut begitu, mama dan yang lain pasti mengerti kalau kita kelelahan. Jadi ayo kita kembali tidur lagi karena aku masih mengantuk." Ucap Arkan yang sudah kembali memejamkan matanya.


"Kalau mas mau tidur ya silahkan, tapi aku tidak ingin tidur lagi. Aku mau mandi dan makan karena cacing-cacing di perutku sudah pada demo" ucap Kasih pergi memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Arkan yang tidak mengantuk lagi setelah mendengar istrinya sudah kelaparan segera menghubungi pihak hotel agar mengantarkan makanan ke kamar mereka.


Kasih yang sudah selesai mandi terlihat segar dengan handuk yang masih membalut rambutnya yang basah, Sedangkan Arkan langsung memasuki kamar mandi dan berpesan kepada Kasih kalau dia sudah memesan makanan mereka, dan mengatakan kalau pakaian istrinya itu sudah ada di dalam paper bag yang ada di sofa.


Arkan yang tidak lupa menyuruh asistennya membelikan pakaian untuk mereka karena tidak mungkin melihat Kasih pulang dengan lingerie tadi malam, cukup ia yang menikmati keindahan tubuh sang istri.


Mereka sarapan bersama setelah Arkan selesai mandi. Kasih yang meminta pulang karena sudah merindukan baby Ardi, terpaksa Arkan menyetujui permintaan istrinya, karena bagi Arkan tak akan ada bedanya mau di hotel atau di rumah, toh nanti ketika ia ingin lagi mereka akan melakukannya di atas kasur jadi apa bedanya pikirnya.


...*****...


Raka dari tadi uring-uringan di dalam ruangannya, ia bahkan dari tadi tidak fokus dengan pekerjaannya di tambah rasa ngantuk yang melandanya. Tadi malam laki-laki itu tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena terus memikirkan Kasih dan Arkan.


Raka bahkan tertidur di ruang TV dengan keadaan televisi yang menyala sampai pagi, yang membuat Sheila memarahinya sehingga terjadi perang di pagi hari karena Raka juga terpancing emosi.


Entah mengapa ia dan Sheila akhir-akhir ini sering bertengkar, ada-ada saja yang membuat keduanya adu mulut. Apalagi setelah bercerai dengan Kasih, Raka sudah tidak pernah di layani seperti raja lagi, Sheila tidak seperti Kasih yang menyiapkan semua kebutuhannya dan mengurus rumah dengan rapi berbeda dengan Sheila yang hanya tahu berdandan saja, Raka tidak pernah di layani dengan baik kecuali hanya di ranjang, wanita itu bahkan tidak pandai memasak mereka selalu memesan makanan, Sheila juga tidak suka membersihkan rumah wanita itu hanya rapi dengan penampilannya saja dan satu lagi Sheila sangatlah boros. Sheila selalu berbelanja barang-barang yang branded tanpa memikirkan untuk menyimpan sebagian uang mereka. Rasa menggebu-gebu ketika mereka selingkuh dulu juga sudah menghilang kini tinggal rasa penyesalan yang di rasakan Raka. lelaki itu kerap kali berandai-andai jika saja dia bisa menahan godaan itu, mungkin sekarang ia sudah bahagia hidup bersama Kasih dan kedua anaknya, tetapi semua itu hanya tinggal angan-angan saja karena Kasih dan anak-anaknya sudah menemukan penggantinya.


(Author ingatkan ya Raka kalau yang haram itu memang lebih nikmat, sekarang baru nyesal kalau ternyata Sheila itu zonk)

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terima Kasih teman-teman.


__ADS_2