
Setelah selesai berpakaian raka berjalan menuju meja makan, sarapan sudah terhidang di atas meja. Kasih dan Dara sudah duduk menunggu Raka.
Raka langsung mendudukkan bokongnya di kursi tanpa menyapa putrinya, ia masih kesal kepada Kasih.
"Pagi papa, kok Dara gak di cium sih pa?" tanya Dara.
Biasanya Raka selalu mencium putrinya ketika mereka ada di meja makan sebagai ciuman selamat pagi untuk putrinya.
"Maaf papa lupa sayang, soalnya papa sudah lapar." ucap Raka beralasan.
"Tidak apa-apa pa, nanti saja ciumnya kalau papa sudah mau berangkat kerja." Jawab Dara.
Raka hanya tersenyum tipis mendengar jawaban putrinya.
Sedangkan Kasih mulai melayani suaminya, ia menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya, walau Raka mendiamkannya dan terkesan ketus kepadanya tapi Kasih tidak menanggapinya.
Kasih tahu suaminya masih kesal atas penolakannya, apalagi dia tahu Raka sangat tidak bisa menahan hasratnya.
Sarapan pagi ini berlangsung hening dan terkesan dingin tidak seperti biasanya yang akan diwarnai canda tawa suami dan putrinya.
Melihat nasi goreng yang di piring raka sudah habis, Kasih menanyakan apakah Raka ingin nambah.
__ADS_1
"Mau lagi mas nasi gorengnya?" tanya Kasih.
"Sudah, aku lagi gak nafsu makan." Jawab Raka dengan ketus.
Setelah menghabiskan sarapannya Raka langsung berdiri dan menghampiri Dara. Raka mencium kening Dara dan berpamitan kepada putrinya. Kemudian dia segera berlalu tanpa pamit pada Kasih.
Melihat suaminya yang langsung pergi begitu saja, membuat Kasih segera menyusul suaminya ke teras. Sementara Dara dan Sarti melanjutkan sarapan mereka.
"Mas tunggu, kamu kok langsung pergi. Kok gak pamit sama aku dan cium kening aku?" tanya Kasih.
"Bukannya kamu mual kalau dekat aku, apalagi aku cium kamu." Jawab Raka dengan raut wajah yang kesal.
"Tapi kamu kan bisa pamit sama aku mas, pagi ini anak kita pengen di elus papanya." Pinta Kasih.
"Papa pergi kerja dulu ya" ucap Raka singkat setelah itu dia masuk kedalam mobilnya dan berangkat ke kantornya.
Kasih melambaikan tangannya sambil berkata " hati-hati di jalan ya mas, jangan ngebut." ucapnya.
Raka hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu dari halaman rumahnya.
...*****...
__ADS_1
Siang itu di dalam ruangannya Raka masih menekuk wajahnya, mengingat kejadian tadi pagi.Dia masih tidak habis pikir kenapa Kasih dengan teganya menendang miliknya.
"Sialan akh...." teriak Raka sambil melemparkan berkas yang ada di tangannya.
Sheila yang kebetulan masuk ke ruangan Raka terkejut melihat Raka yang kelihatan berantakan. Dengan langkah yang anggun dia berjalan menghampiri Raka dan mengelus bahu Raka.
"Mas kenapa ada masalah apa? cerita dong sama aku." Tanya Sheila.
"Kamu kapan Masuk, kok tidak ketuk pintu dulu." ucap Raka yang terkejut dengan kehadiran Sheila.
"Aku dari tadi sudah mengetuk pintu tapi mas gak dengar. Emang masalahnya berat bangat ya mas?" tanya Sheila.
"Hemmm" ucap Raka.
"Masalah apa mas, siapa tau aku bisa bantu?" Pancing Sheila sembari memijat pundak Raka.
"istriku gak mau mas sentuh, katanya ia takut melukai bayi yang ada di dalam kandungannya." Jawab Raka sembari menikmati pijatan Sheila sambil memejamkan matanya.
Mendengar curhatan Raka Sheila tersenyum senang dalam hati Sheila berkata ini adalah kesempatannya untuk menggoda Raka.
tanpa berlama-lama Sheila langsung mendudukkan bokongnya di pangkuan Raka.
__ADS_1
Raka yang terkejut langsung membuka matanya dan berusaha mendorong Sheila.
Tapi Sheila langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Raka.