
Sheila semakin menangis dengan perhatian yang di berikan Kasih, walau sudah disakiti olehnya tapi wanita itu masih berbaik hati membawakannya makanan dan beberapa buku.
"Hei, jangan menangis lagi. Kamu tidak boleh bersedih karena bayi kamu juga bisa merasakan kalau ibunya sedih." Tegur Kasih.
"Ini air mata bahagia mbak, aku gak bersedih. Aku bahagia dan lega sekarang mbak. Aku janji akan kuat dan sudah bisa menerima takdirku mbak. Terima kasih sudah memaafkan aku, aku senang bangat di bawain oleh-oleh sama mbak. Terima kasih bukunya mbak, pasti sangat membantu kalau aku sedang bosan atau jenuh. Terima kasih juga makanannya mbak." Jawab Sheila.
"Sama-sama, kamu harus memperhatikan kesehatanmu dan makan yang banyak agar kamu dan bayimu sehat." Ucap Kasih.
Petugas lapas memperingati mereka karena waktu berkunjung sudah habis. Arkan, kasih dan pengacara pamit untuk pulang.
"Kamu yang kuat ya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Jangan pernah menatap kebelakang lagi, lupakan semuanya dan perbaiki diri kedepannya. Dekatkan diri kepada Allah, karena hanya kepadanya tempat kita mengadu dan memohon. Kalau begitu mbak pamitnya." Ucap Kasih.
Sheila menganggukkan kepalanya, Kasih sudah berjalan keluar digandeng oleh Arkan. Saat Kasih dan Arkan sudah sampai di pintu, Sheila memanggil Kasih.
__ADS_1
"Mbak Kasih !" Seru Sheila.
Kasih dan Arkan serempak memutar badannya "Ya, ada apa Sheila?" Tanya Kasih heran.
"Bolehkah aku menganggap mbak sebagai kakak. Bolehkah aku memberi nama anakku nama mbak setelah ia lahir." Ucap Sheila yang memang sudah mengetahui jenis kelamin anaknya.
"Boleh, dan terima kasih karena telah memberikan namaku untuk anakmu, semoga kamu dan anakmu sehat selalu. Mbak pulang dulu ya, kalau ada waktu mbak akan datang lagi" Ucap Kasih.
Sheila langsung memakan makanan yang di bawakan Kasih, ia kembali terharu dan menitihkan air matanya. Makanan yang di bawa Kasih sangat banyak dan sangat enak-enak, bahkan ada dari beberapa makanan tersebut adalah makanan yang di inginkan oleh Sheila. Semenjak di tahan ia tidak bisa memakan makanan yang ia mau, padahal ia sering merasakan ngidam.
Sheila juga membagi makanan tersebut dengan teman-teman yang satu sel dengannya. Kini tak ada lagi Sheila yang arogan, sombong. Kini ia sudah berbaur dengan para tahanan, seperti janjinya ia akan merubah diri menjadi lebih baik lagi.
"Hei, kenapa kamu menangis Sheila. Ada makanan enak begini malah nangis, makan yang banyak ingat kamu sedang hamil, jarang-jarang kita bisa makan enak begini." Ucap teman satu sel Sheila.
__ADS_1
Sheila tersenyum dan menceritakan dengan siapa ia bertemu tadi. Sheila juga menceritakan semua tentang hidupnya tanpa ada yang ia tutupi. Sheila juga menceritakan seperti apa wanita yang baru saja mengunjunginya itu.
"Wah, hebat sekali wanita itu bisa memaafkan kesalahan kamu Sheila." Ucap teman Sheila yang lain.
"Ya, dia adalah wanita hebat yang pernah aku temui dan aku bersyukur mendapatkan maaf darinya. Aku juga beruntung karena ia memberi izin kepadaku untuk menamai anakku nanti dengan namanya." Ucap Sheila tersenyum sembari mengelus perutnya yang sudah buncit.
"Siapa?" Tanya teman-teman Sheila penasaran.
"Kasih" Ucap Sheila dengan bangga.
Lanjut.
Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya
__ADS_1