
Setelah sarapan Arkan kembali ke kamar mereka untuk bersantai sejenak sebelum berangkat ke kantor. Beruntung hari ini jadwalnya tidak terlalu padat sehingga ia memutuskan untuk berangkat agak siangan.
Lelaki itu sudah menghubungi sang asisten, memberitahu bahwa dirinya sedikit terlambat datang ke kantor.
Sedangkan Kasih pergi menemui putranya yang berjemur di teras belakang dengan Sarti setelah bus sekolah Dara datang menjemput putrinya. Kasih sudah sangat merindukan putra kecilnya itu dengan cepat menghampiri baby Ardy dan pengasuhnya itu.
"Mbak Sarti sarapan dulu biar Ardy sama saya ." Ucap Kasih mengambil alih baby Ardy dari pangkuan Sarti.
"Siap mbak, tahu saja kalau saya sudah lapar mbak. Cacing di dalam perut saya sudah demo mbak karena belum di kasih jatah pagi ini." Ucap Sarti bercanda,membuat keduanya tertawa.
Sarti sangat beruntung bisa bertemu dengan majikan yang super baik seperti Kasih dan keluarga Arkan. Wanita itu merasa dianggap seperti keluarga dan merasa di hargai begitu juga dengan asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga Arkan.
Terbukti semuanya betah bekerja dengan keluarga Arkan, bahkan Ada yang sudah bekerja mulai sedari Arkan masih bayi hingga sekarang.
__ADS_1
Kasih memasuki kamarnya dengan sang suami dengan Ardy yang berada dalam gendongannya. Arkan menyambut kedatangan istri dan putranya itu dengan wajah tersenyum.
"Mas lagi ngapain, belum berangkat ke kantor?" tanya Kasih yang heran melihat suaminya masih dengan baju rumahannya.
"Mas berangkat agak siangan sayang. Hari ini tidak terlalu padat jadwal mas. Mas ingin beristirahat sebentar agar tenaga mas pulih kembali." Ucap Arkan menggoda istrinya.
Melihat tatapan mesum Arkan membuat bulu kuduk Kasih berdiri. Wanita itu jadi teringat betapa perkasanya sang suami tadi dalam menggaulinya. Bahkan Kasih di bawa terbang berkali-kali hingga ke langit ke tujuh oleh Arkan. Kasih terhanyut dalam angannya mengingat betapa panasnya malam yang mereka lewati tadi malam. Hingga ia tidak sadar menyunggingkan senyuman dan rona merah di pipinya pertanda ia sedikit malu.
Melihat tingkah laku sang istri, Arkan sangat tahu kalau saat ini pujaan hatinya itu sedang mengingat aktivitas ranjang mereka yang sang panas tadi malam. Seringai licik terbit di pikiran Arkan, dengan langkah pelan ia mendekati istrinya dan memulai aksinya untuk menggoda Kasih.
"Apaan sih mas, siapa juga yang mikirin itu. Percaya diri bangat sih." Ucap Kasih mengelak.
"Kamu gak usah bohong sayang, kamu tidak pandai dalam berbohong. Kalau kamu masih ingin, mas masih kuat kok." Ucap Arkan menahan senyumnya.
__ADS_1
"Mas...." Teriak Kasih yang sudah mulai kesal dengan tingkah suaminya.
Arkan hanya tertawa melihat wajah kesal istrinya, tak ingin membuat Kasih semakin kesal lelaki itu tidak lagi menggoda Kasih. Tetapi ia mengambil Ardy dari gendongan istrinya. Kemudian mengajak putranya itu bercanda di sofa kamar mereka.
Sedangkan Kasih membereskan ranjang mereka yang belum sempat di bereskan karena terlambat untuk sarapan tadi, setelah selesai membersihkan tempat tidur mereka, Kasih menyiapkan pakaian yang akan Arkan kenakan untuk berangkat ke kantor.
Sesekali ia memandang suami dan putranya yang sedang asyik bercanda. Ardy tertawa terbahak-bahak dengan tingkah lucu papanya.
Kasih terharu melihat kedekatan Arkan dengan kedua anaknya itu, kalau orang yang tidak mengenal mereka pastilah mengira jika Dara dan Ardy adalah anak kandungnya Arkan karena laki-laki itu sangat menyayangi kedua bocah tersebut.
Mau author up lagi?
Jangan lupa di like, komentar, vote, dan hadiahnya.
__ADS_1
Biar author semangat lagi, terimakasih.