
Seminggu kemudian kini Kasih sedang ada di dalam pengadilan agama ia di dampingi pengacara, kedua mertua dan Kedua kakak iparnya. Kasih akan menghadiri sidang pertama perceraian mereka, Kasih tampil elegan dan penuh percaya diri sedangkan Raka hanya datang dengan pengacaranya.
Didalam persidangan hakim masih berusaha mendamaikan Kasih dan Raka. Tetapi Kasih menolak untuk berdamai dan rujuk.
Setelah tidak di temui titik terang untuk rujuk barulah hakim menyuruh Kasih membaca permohonan dan gugatan yang di barangi jawaban termohon atau tergugat.
Setelah itu hakim meminta Bukti-bukti perselingkuhan Raka, yang di serahkan oleh pengacara Kasih, setelah itu Raka diberi waktu untuk mengajukan pembelaan dan Hakim meminta saksi di hadirkan.
Pengacara Kasih menyuruh Riko dan 2 staf hotel menjadi saksi yang memperkuat gugatan Kasih.
Raka terkejut melihat Kasih yang di dampingi seluruh keluarganya dan seorang pengacara yang terkenal sering memenangkan Kasus.
Ditambah lagi Kasih mempunyai semua bukti-bukti yang memberatkannya, Raka juga tidak menyangka kalau Kasih mempunyai bukti perselingkuhannya waktu di Bali. Raka hanya bisa gigit jari setelah semua bukti dan saksi yang di hadirkan Kasih tidak main-main.
Setelah mendengar dari kedua belah pihak maka hakim mengatakan persidangan di lanjutkan 2 Minggu lagi yakni tentang kesimpulan dan putusan yang akan di berikan hakim.
Setelah Hakim menutup sidang, Kasih beserta keluarga keluar dari ruang sidang begitu juga dengan Raka dan pengacaranya.
Raka langsung menghampiri Kasih dan berkata "Aku tidak menyangka kalau kamu sampai sejauh itu menyelidiki aku dan Sheila." Ucap Raka.
"Kamu gak bisa nyimpan bangkai selamanya mas, suatu saat pasti akan tercium juga baunya. Makanya kalau mau bohong yang pintar dikit, sebelum pulang ke rumah periksa dulu saku baju atau celanamu siapa tau tertinggal nota pembayaran, dan satu lagi mas periksa dulu mobilmu aku bisa tau kamu ada di hotel itu juga gara-gara memasang GPS di mobilmu. Jangan kira aku wanita bodoh yang bisa dengan gampang kamu bohongi mas, tuhan tidak pernah tidur. Aku bersyukur Allah menunjukkan kelakuanmu dengan cepat mas, mungkin Allah sangat sayang padaku sehingga kebusukanmu cepat terbongkar." Ucap Kasih dengan senyum mengejek.
Raka langsung meninggalkan mereka, ia segera memasuki mobilnya dan mencari apa yang Kasih katakan dan benar saja setelah mencari di dalam mobilnya Raka menemukan apa yang dipasang Kasih.
"Sialan, kenapa aku bisa tidak menyadarinya. Jadi selama ini Kasih sudah curiga kepadaku tapi ia berakting seolah dia tidak mengetahui segalanya agar dia mendapatkan semua bukti. Kurang ajar, sialan kamu Kasih. Aku tidak menyangka kamu bisa seberbahaya ini." Ucap Raka prustasi sambil memukul stir mobilnya.
__ADS_1
...*****...
Sedangkan Sheila sedang menunggu Raka di apartemennya. Ia sudah tidak sabar mendengar cerita Raka, Sheila yakin kalau Raka akan menang melawan Kasih yang sebentar lagi jadi mantan istri Raka.
"Aku tidak menyangka secepat ini akan menyingkirkan wanita itu. Sebentar lagi mas Raka akan menjadi milikku seutuhnya dan aku akan menjadi istri mas Raka." Ucap Sheila bahagia.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka, Sheila langsung keluar dari kamar, ia sudah tahu kalau yang datang pastilah kekasihnya itu.
"Mas Raka sudah pulang, bagaimana hasilnya honey?" tanya Sheila sambil memeluk tubuh Raka.
Raka langsung melepaskan tangan Sheila, kemudian membuka dasinya dengan Kasar. Raka langsung mendudukkan bokongnya di sofa sambil menghidupkan sebatang rokok untuk mengurangi rasa stresnya.
Melihat Raka yang berantakan dapat Sheila simpulkan lelaki di hadapannya itu sedang tidak dalam mood yang bagus.
Mendengar ucapan Sheila membuat Raka menoleh dan menatap wanita di sampingnya itu, kemudian Raka menghembuskan napasnya kasar.
"Sepertinya aku akan kalah dalam persidangan, Karena ternyata Kasih di dampingi pengacara hebat dan ia mempunyai bukti-bukti dan saksi yang kuat. Kamu tahu Kasih mempunyai bukti cctv hotel ketika kita di Bali,dan ia mempunyai bukti cctv di mini market ketika kita membeli pengaman itu, kamu tahu itu semua karena nota pembayaran di minimarket sialan itu,dia mendapatkannya di saku celana aku dan yang lebih parahnya ia juga mempunyai foto-foto mesra kita ternyata dia sudah melihat semua isi ponselku, soal penggerebekan di hotel itu ia bisa mengetahui kita di sana karena dia telah memasang GPS di mobilku dengan diam-diam." Tutur Raka membuat Sheila terkejut dan tidak menyangka kalau Kasih adalah wanita yang diam-diam menghanyutkan.
...*****...
"Kasih mama dan papa mau bicara sama kamu nak." ucap mama Dewi.
"Mama dan papa mau bicara apa?" tanya Kasih.
"Sebaiknya kita bicarakan ini, sambil duduk di ruang keluarga." Ajak papa Adi.
__ADS_1
Kemudian mereka pergi ke ruang keluarga dan memulai pembicaraan dimana mama dan papa Raka, mengusulkan agar Kasih tinggal bersama mereka setelah bercerai dengan Raka, tapi sayang ternyata Kasih tidak setuju dengan alasan ia ingin mandiri dan membuktikan kalau ia bisa hidup tanpa di nafkahi laki-laki.
Kasih juga mengatakan akan membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidupnya dan kedua buah hati dan Kasih sudah memutuskan akan membawa Sarti dengannya agar ada yang menjaga anak-anaknya ketika ia bekerja.
Sedangkan kedua orang tua Raka hanya dapat mendukung apapun keputusan Kasih, mereka juga akan membantu jika Kasih membutuhkan sesuatu.
Kasih memang sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah berpisah dari Raka, ia sudah bertekad tidak akan meratapi nasibnya. Kasih sudah berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Raka menyesal dengan keputusannya menduakan Kasih.
...*****...
"Bagaimana sidang cerai Kasih dan suaminya ma. Apa perlu kita bantu ma?" tanya papa Arman ketika mereka sedang makan malam bersama.
"Berjalan dengan lancar pa, sepertinya tidak perlu pa karena semua bukti dan saksi yang di miliki Kasih sudah memberatkan suaminya dan mama yakin Kasih akan memenangkan Kasus ini." Jawab mama Risma yang di angguki nenek Murni.
Sedangkan Arkan hanya menikmati makanannya tanpa mau ikut mencampuri pembicaraan ketiga orang tua itu.
"Oh iya, kamu kapan tepati janji kamu?" tanya nenek Murni yang membuat Arkan mengernyitkan keningnya.
"Janji apa nek?" tanya Arkan balik bertanya.
"Gak usah pura-pura lupa, janji yang kamu ucapkan sebelum berangkat ke Jerman. Janji akan mencari cucu menantu untuk nenek. Kapan kamu memperkenalkannya kepada kami?" tanya nenek Murni.
Arkan hanya bisa menggarut kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau kamu belum ada calon, biar nenek dan mama kamu yang Carikan." Ucap nenek Murni.
__ADS_1