
Keluarga Arkan kini sudah sampai di rumah sakit bahkan Arkan sudah Menganti bajunya dengan baju yang di bawakan mama Risma. Mereka semua kini sedang menunggu Dokter yang masih berjuang di dalam sana. Raut wajah cemas, takut dan khawatir terlihat di wajah semua anggota keluarga, di tengah-tengah kecemasan menunggu hasil dari Dokter tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang UGD tersebut.
"Keluarga ibu Kasih?" Tanya suster tersebut.
"Iya sus, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arkan dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Luka istri bapak cukup parah, pasien mengalami pendarahan di kepala sehingga kami perlu melakukan tindakan operasi, tetapi pasien membutuhkan darah karena pasien mengeluarkan cukup banyak darah. kepada pihak keluarga tolong di carikan pendonor karena golongan darah pasien cukup langkah yaitu B- dan kami tidak memiliki persediaan darah itu, pihak rumah sakit juga sudah menghubungi PMI tetapi persediaan darah dengan golongan tersebut juga sedang kosong. Jadi kami minta keluarga segera mencari secepatnya karena nyawa pasien sedang kritis." Tutur suster tersebut.
Mendengar apa yang di katakan sang suster membuat nenek Murni shock berat, wanita tua itu langsung tak sadarkan diri, beruntung ada Bayu yang dengan sigap menangkap tubuh nenek Murni.
Semua keluarga panik melihat nenek Murni yang tak sadarkan diri tapi Bayu segera membawa sang nenek untuk di tangani oleh Dokter.
__ADS_1
"Papa, bagaimana ini keluarga kita tidak ada yang mempunyai golongan darah itu, sementara istriku sangat membutuhkan itu secepatnya. Kalau kita menunggu keluarga Kasih dari Medan akan sangat memakan waktu pa, sedangkan istriku harus di operasi, istriku kritis pa. Tolong aku pa, aku gak mau kehilangan Kasih pa, cukup sekali aku kehilangan orang yang aku cintai pa, aku tidak kuat jika itu terulang kembali. Tolong istriku pa, di mana aku harus mencari pendonor itu pa?" Tangis arkan kembali pecah, lelaki itu sudah seperti orang gila, ia tidak tahu harus berbuat apa sampai-sampai ia tidak sanggup untuk berpikir dengan jernih.
Papa Arman memeluk sang anak, dia tidak pernah melihat Arkan menangis separah ini. Arkan sudah seperti orang yang kehilangan arah, tidak bisa berpikir dengan tenang hanya ada ketakutan akan di tinggalkan oleh orang yang ia cintai lagi.
"Kamu harus tenang, jangan panik kamu harus kuat. Papa janji akan mencarikan pendonor untuk istri kamu. Kamu harus bantu dengan doa ya nak." Ucap papa Arman menguatkan, bahkan lelaki yang sudah tidak muda itu juga menitihkan air mata mengkhawatirkan menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Rendy beritahu semua karyawan di perusahaan kalau menantu saya membutuhkan darah B-, jika ada yang mau jadi pendonor akan saya beri hadiah uang 200 juta, Segera." Perintah papa Arman kepada asisten Arkan tersebut.
Dengan cepat Rendy langsung menginformasikan berita tersebut kepada seluruh karyawan dan menyuruh menghubunginya segera jika memiliki golongan darah yang sama. Papa Arman dan mama Risma juga menghubungi keluarga masing-masing mana tahu ada yang memiliki darah yang sama. Mereka juga tidak lupa mengabari keluarga Kasih di Medan dan ternyata tidak ada yang sama karena darah tersebut hanya di miliki ibunya Kasih saja, sementara ibu Kasih sudah lama meninggal.