
Melihat bukti pembayaran tersebut membuat Kasih kaget setengah mati, bagai tersambar petir suami yang ia percaya selama ini dengan tega mengkhianatinya, rumah tangga yang ia jaga selama ini hancur sudah, mimpinya meraup indahnya manis kehidupan berumah tangga sirnah sudah, seketika dunia Kasih menjadi gelap, karena tidak menyangka lelaki yang mencintainya itu tega berbohong kepadanya.
"Oh tuhan ujian apa lagi ini, kenapa harus aku tuhan, kenapa kamu memberikan aku ujian seberat ini." Ucap Kasih dengan tangis yang sangat pedih untuk di dengar.
Kasih yang terkejut mendapat kenyataan bahwa suami bukan ke Surabaya melainkan ke Bali terlebih di bukti pembayaran itu suaminya membeli barang yang semakin membuat kecurigaan Kasih benar bahwa suaminya berselingkuh.
"Kamu bohong mas kamu bukan ke Surabaya, dan apa ini mas kenapa kamu membeli kond**. Dasar laki-laki bajingan, kurang ajar, penghianat aku benci kamu mas." teriak Kasih yang sudah terduduk di lantai, Kasih sudah tidak dapat berdiri menopang tubuhnya setelah mengetahui suaminya membeli alat kontrasep** itu.
"Apa ya harus saya lakukan tuhan? bantu hamba Tuhan." Ucap Kasih.
Kasih yang teringat dengan kata-kata nenek Murni yang akan membantunya mengumpulkan bukti perselingkuhan Raka langsung menghubunginya.
...*****...
Kini nenek Murni dan kedua orang tuanya Arkan sedang bersantai di ruang keluarga tak ketinggalan Arkan juga ikut bergabung.
Arkan baru tiba tadi setelah Kasih pergi dari sana, semua orang rumah juga terkejut dengan kedatangan Arkan karena ia tidak memberi tahukan kalau ia akan pulang. Setelah selesai makan malam mereka sekeluarga berkumpul di ruang keluarga, Arkan mengatakan kalau ia sudah menyelesaikan masalah yang ada di perusahaan mereka yang ada di Jerman, dan ia akan kembali tinggal di Indonesia yang membuat mama Risma dan nenek Murni senang.
Ketika sedang asyik bercerita tiba-tiba ponsel nenek Murni berbunyi. Beliau melihat layar ponselnya ternyata Kasih yang menghubunginya.
"Siapa Bu?" tanya mama Risma.
"Kasih" jawab nenek Murni.
"Ibu tolong hidupkan loud speakernya supaya kita bisa mendengarnya." Suruh papa Arman.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan pak Arman menyuruh ibunya menghidupkan pengeras suara karena ia juga sudah berjanji membantu Kasih dalam masalah Kasih kali ini.
"Halo sayang, ada apa?" tanya nenek Murni.
Mereka semua terdiam mendengar tangisan pilu seseorang di seberang sana. Setelah mendengar suara nenek Murni, Kasih tidak mampu berbicara hanya tangisnya yang keluar.
Seolah tahu kini perempuan itu sedang rapuh dan butuh dukungan, nenek Murni kembali bertanya kepada Kasih.
"Kasih ada apa nak? jangan menangis seperti itu, ceritakan semuanya nak jangan pendam sayang, nenek selalu ada bersamamu, nenek, Tante dan om juga sudah berjanji membantu kamu kan sayang." Bujuk nenek Murni.
"Su...suamiku bu... kan ke Surabaya nek ta... pi ia ke ba... li nek." Ucap Kasih terbata-bata.
"Kamu tahu dari mana nak?" tanya papa Arman kali ini ia yang penasaran langsung bertanya langsung.
Mendengar perkataan Kasih papa Arman langsung menyuruhnya memfoto bukti pembayaran tersebut supaya mengirimkannya ke ponsel nenek Murni.
"Kamu simpan bukti pembayaran itu ke tempat yang aman jangan sampai ia tahu kamu menemukannya dan satu lagi kamu jangan terpancing emosi dulu, kamu harus bersikap seolah-olah kamu tidak tahu apa-apa sampai kita memiliki bukti yang cukup. Om akan menyuruh anak buah om menyelidiki apa yang di lakukan suamimu di Bali." Tutur papa Arman.
"Kamu dengarkan apa yang di katakan om mu, jadi jangan menangis lagi, kamu harus ingat kamu sedang mengandung kalau kamu sedih dia juga pasti merasakannya. Kamu harus yakin Allah tidak akan menguji ummatnya kalau ia tidak mampu, itu artinya kamu mampu melewati semua ini, pasti ada hikmah dibalik ini." Ucap nenek Murni.
Kasih mengiyakan nasehat dari nenek Murni, ia harus kuat dan tetap berusaha waras karena ada 2 Malaikat kecil yang masih membutuhkannya.
Setelah selesai menelepon nenek Murni Kasih langsung mengambil air wudhu ia ingin mengadu kepada sang pencipta Atas apa yang sedang menimpanya, dalam sujudnya ia menangis dan dalam doanya ia meminta di kuatkan hatinya tak lupa Kasih mendoakan dia bisa melewati ini semua dan mendoakan yang terbaik untuknya dan anak-anak.
Sedangkan Arkan yang dari tadi bingung mendengar keluarganya terus membicarakan wanita yang menangis di telepon itu langsung menanyakan siapa itu kasih dan kenapa keluarganya sangat akrab dengan wanita tersebut dan bersedia membantu wanita itu.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan cucunya nenek Murni menceritakan awal ia bertemu dengan Kasih, dan setelah mengetahuinya Arkan hanya berkata "Oh seperti itu" yang membuat ketiga orang di hadapannya hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan sikap Arkan.
...*****...
Riko kini sedang berbicara dengan Rian kakak tertuanya mengenai fakta yang ia ketahui tentang adik mereka, tak mau sang adik melakukan kesalahan terlalu jauh sehingga ia akan menyesali perbuatannya dikemudian hari.
"Bang apa yang harus kita lakukan, Raka sudah berselingkuh bang, bagaimana caranya agar dia meninggalkan perempuan tersebut?"tanya Riko.
"Kita harus bicara dengan Raka, dan mencoba menasehatinya, tapi abang tidak yakin ia mau berubah karena biasanya kalau lelaki yang sedang berselingkuh apalagi sedang cinta-cintanya pasti sulit menerima nasehat dari orang lain. tapi tidak apa kita coba dulu." Jawab Rian.
Setelah selesai dengan pembicaraannya dengan sang adik, Rian segera menghidupkan mobilnya, ketika tadi Riko meneleponnya ia hendak ingin pulang Karena ia baru selesai tugas.
Nasib sebagai polisi yang jadwal tugasnya tidak menentu, apalagi kalau sedang darurat atau ada Kasus, seperti sekarang ini ia pulang jam 23.00 Karena tadi mereka ada operasi penangkapan sindikat nark***.
Ketika Rian berhenti di lampu merah tak sengaja ia menatap ke arah samping, dan ia melihat di dalam mobil tersebut sepasang manusia yang sedang bermesraan, dan yang membuat Rian tidak habis pikir lelaki yang ada di dalam mobil tersebut adalah adiknya Raka.
Rian segera menutup kaca mobilnya, dan setelah lampu berganti menjadi hijau ia segera mengikuti mobil Raka.
Ternyata mobil Raka menuju sebuah apartemen, Rian mengamati Raka dan Sheila dari dalam mobilnya.
Raka dan Sheila turun dari mobil, Raka meraih pinggang Sheila mereka berjalan bersama, sesekali Raka mencium bibi* kekasihnya itu.
Tak tahan melihat kelakuan adiknya itu, Rian segera turun dari mobilnya dan mulai mendekati sepasang kekasih yang sedang asyik bertukar Saliva itu.
tanpa mereka sadari kini Rian sudah berada di depan mereka, tidak mau melihat lebih lama kelakuan bejat adiknya Rian langsung bertepuk tangan membuat keduanya terkejut.
__ADS_1