
Kasih yang kelelahan tertidur pulas setelah menolak makan bersama suaminya.
Jam dinding di kamar Kasih menunjukkan jam 23:45 Kasih terbangun karena rasa lapar, sebenarnya tadi ketika Raka mengajaknya makan malam dia sudah lapar tapi karena rasa kesalnya kepada Raka ia mengurungkan niatnya untuk makan malam.
Setelah berhasil membuka matanya sempurna Kasih melihat ke sampingnya ternyata kosong, dia tidak melihat suaminya di dalam kamar mereka, Kasih berjalan menuju Kamar mandi tetapi Raka juga tidak ada.
Kasih melihat jam di dinding di kamarnya, sudah tengah malam tapi suaminya tidak ada di kamar, rasa penasaran di hati Kasih semakin menjadi-jadi ia berjalan keluar kamar untuk mencari suaminya, diruang keluarga tidak ada, di kamar tidur putrinya tidak ada, diruang tamu juga demikian tapi karena rasa lapar yang sudah tidak tertahankan Kasih memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu.
Ketika Kasih sedang menyiapkan makanannya di dapur, sayup-sayup Kasih mendengar suara laki-laki yang sedang berbicara sambil tertawa sesekali. Mendengar suara laki-laki yang sangat familiar tersebut, membuat jiwa kepo Kasih naik 100 kali lipat.
"Bukannya itu suara mas Raka? Kenapa menerima telepon di taman belakang, terus ketawa lagi, mana mungkin orang kantor menghubunginya malam-malam begini." Ucap Kasih.
Dengan langkah perlahan Kasih mendekat ke arah Raka yang asyik bertelepon.
__ADS_1
"Kamu juga harus tidur supaya tidak sakit, aku juga merindu..." ucap Raka menggantung karena ia berbalik sehingga melihat Kasih yang sudah berdiri di belakangnya.
Tak ingin Kasih tambah curiga Raka tidak langsung mematikan telponnya, ia terus berbicara.
"Aku juga merindukan kalian, nanti kita atur kapan kita bertemu semoga kita bisa berkumpul semua kabari Didi, Putra, dan Dimas. Sudah dulu ratuku sudah terbangun. Kabari aku jika mereka bisa bertemu." Ucap Raka berusaha tenang padahal jantungnya sudah hampir melompat keluar.
Setelah mematikan sambungan telponnya, Raka berjalan mendekat ke arah istrinya,meraih pinggang Kasih kemudian memeluk perempuan yang sudah memberinya 2 anak itu.
"Sejak kamu berkata merindukan, siapa yang menelponmu malam-malam begini mas?" Tanya Kasih.
"Itu tadi Erik teman Kuliah mas dulu, yang pernah datang ke rumah kita ,dia bilang mau ajak mas bertemu." Jawab Raka.
"Kenapa harus di halaman belakang mas, seperti sedang menghubungi selingkuhan saja." Ucap Kasih.
__ADS_1
"Astaga sayang, mas menerima telponnya disini karena tidak mau membangunkan orang rumah kalau di rumah, apalagi ini sudah tengah malam. Kamu tahu sendiri kalau mas berbicara dengan sahabat mas kadang mas lupa diri sampai tidak bisa mengontrol suara mas." Ucap Raka beralasan.
"Oh..." ucap Kasih sambil berlalu meninggalkan Raka.
Raka mengekori istrinya yang ternyata berjalan ke arah dapur mengambil piring yang sudah berisi nasi serta lauk pauknya, kemudian ia mengikuti Kasih yang duduk di meja makan.
"Jadi bumil cantikku ini sedang lapar. Aduh anak papa lapar ya, mau papa suapi gak ?" Ucap Raka yang sudah mencium perut buncit Kasih.
Mendengar perkataan Raka rasa kesal di hati Kasih mereda karena suaminya menawarkan diri untuk menyuapinya.
Semenjak hamil Kasih sangat jarang mendapat perhatian Raka, ia segera menganggukkan kepalanya, Raka dengan telaten menyuapi istrinya.
Sedangkan di lain tempat seorang perempuan tengah tersenyum sinis.
__ADS_1