
"Dari mana saja kamu?" tanya Arkan yang sudah emosi.
"Bukan urusanmu." ucap Kasih hendak keluar dari kamar tersebut.
"Kamu itu istriku, sudah sepatutnya kamu menghargai suami kamu. kamu bahkan tidak memberikan kabar dan meminta izinku kalau kamu pergi dengan lelaki lain. Istri macam apa kamu." Teriak Arkan yang sudah emosi.
"Bukan aku yang menyuruh Bayu untuk datang menjemputku, kenapa aku tidak mengabarimu itu karena ponselku kehabisan daya. Apa kamu bilang, Istri macam apa aku? seharusnya kamu berpikir apa yang membuat aku jadi seperti ini. Kamu ingin di hargai sementara kamu tidak bisa menghargai orang lain. Mas aku itu pergi dengan sepupumu dan itupun di suruh oleh mama, kami tidak hanya berdua tapi ada mba Sarti juga. Kenapa kamu marah hah. Apa kamu cemburu? Oh, astaga.... Kasih jangan terlalu berharap karena itu tidak akan pernah terjadi. Sampai aku lupa yang ada di hatimu cuma Rena Rena dan Rena." Teriak Kasih karena sudah muak dengan sikap suaminya itu.
__ADS_1
Setelah Kasih mengatakan apa yang ada di hatinya, wanita itu berjalan mendekati pintu kamar, tak mau berlama-lama di kamar tersebut karena hanya akan menambah luka hatinya. Melihat istrinya yang berniat akan meninggalkan kamar Arkan mengeluarkan suaranya "Apa kamu ingin tahu kenapa aku marah kepadamu. Ya, kamu benar aku cemburu melihat kamu dekat dengan orang lain. Jadi aku mohon tolong mengerti itu." Ucap Arkan jujur.
"Oke aku akan mengerti, tapi apa kamu juga bisa mengerti aku. Tolong hilangkan bayang-bayang Rena dari rumah tangga kita. Kalau kamu bisa aku akan menuruti permintaanmu itu."
Arkan hanya menatap Kasih tanpa mampu berbicara, Kasih hanya tersenyum miris karena lagi-lagi suaminya itu lebih memilih almarhumah istrinya. Kasih dengan cepat membuka pintu kamar itu dan pergi dari sana. Sedangkan Arkan menghancurkan apa yang ada di hadapannya. Bahkan laki-laki itu tidak sadar sudah menghempaskan semua alat make-up Rena yang tersusun rapi di meja rias itu. Arkan begitu takut kehilangan Kasih tapi ia belum bisa melepas Rena.
Setelah pertengkaran mereka baik Kasih dan Arkan tidak keluar dari kamar masing-masing, Arkan bahkan tertidur setelah lelah menangis. Ya, lelaki itu menangis ia sadar sudah jatuh cinta kepada istrinya itu, tapi kenapa masih berat lepas dari bayang-bayang Rena.
__ADS_1
Di dalam sebuah kamar kini sepasang manusia sedang sibuk mengatur napas masing-masing, keringat keduanya membasahi tubuh mereka seolah menandakan betapa hebatnya permainan yang baru saja mereka lewatkan.
"Terima Kasih ya Raka, karena sudah memuaskan aku. Gak nyangka ternyata kamu hebat banget, pantas istri kamu rela jadi pelakor walau uang kamu gak banyak-banyak amat." ucap Anggun.
"Tidak perlu berterima kasih, kita sama-sama butuh. Aku pulang dulu, kamu bilang sugar Daddymu akan datang. Bisa kacau kalau sampai ia tahu aku di sini." ucap Raka memakai kembali pakaiannya.
Lelaki itu sudah beberapa kali melakukan hubungan terlarang itu dengan Anggun temannya. Hubungan Raka dan Sheila semakin hambar semenjak Sheila yang tidak ingin hamil. Raka bahkan selalu pulang larut malam, terkadang ia lembur di kantor atau datang ke apartemennya Anggun. Raka malas pulang ke apartemen Sheila, karena setiap ia pulang hanya bertengkar dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu mas?"
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih banyak teman-teman.