Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 152 "Kasih sadar"


__ADS_3

"Tetapi saya sudah berjanji akan memberi hadiah kepada pendonor, saya tidak ingin mengingkarinya, jadi saya mohon pak Raka dapat menerimanya." Pinta lelaki itu.


"Maaf pak saya ikhlas, kalau memang bapak ingin menepati janji saya akan menerimanya tetapi hadiahnya saya berikan kepada kedua anak saya. Biarkan itu menjadi tabungan untuk mereka." Ucap Raka dengan tulus.


"Baik jika memang itu keinginan pak Raka, Rendy akan mengurusnya. Sekali lagi kami atas nama keluarga Kasih mengucapkan terima Kasih atas kebaikan pak Raka."


"Sama-sama pak, sebagai sesama manusia sudah sepatutnya kita saling tolong menolong." Ucap Raka.


Tiba-tiba ruang operasi terbuka dan beberapa perawat memindahkan Kasih ke ruang rawat VVIP yang sudah di pesan papa Arman, karena baginya kenyamanan bagi Kasih sangat penting. Semua orang mengikuti perawat yang membawa Kasih keruangan yang sudah di siapkan, setelah semuanya beres barulah para perawat pamit untuk keluar.

__ADS_1


Raka yang sadar dirinya bukan siapa-siapa Kasih lagi langsung pamit untuk pulang. Walau hatinya sebenarnya berat meninggalkan ruangan itu tapi apa boleh buat semuanya sudah berbeda, sekarang ada yang lebih berhak menjaga wanita itu. Melihat wajah Kasih saja sudah cukup baginya, yang terpenting keadaan wanita yang masih di cintainya itu sudah baik-baik saja.


"Pak Bu, semuanya kalau begitu saya pamit pulang dulu. Semoga Kasih cepat pulih kembali dan dapat berkumpul bersama keluarga kembali." Ucapnya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu...." Ucap Arkan dan mendekati Raka.


"Terima Kasih karena sudah mau mendonorkan darahmu untuk istriku, Aku berhutang Budi kepadamu. Jika kamu butuh bantuanku suatu saat nanti jangan pernah sungkan." Ucap Arkan kepada Raka.


Arkan tersenyum "Silahkan, aku tidak melarang kamu bertemu dengan anak-anak, kamu adalah ayah kandung mereka."

__ADS_1


"Terima Kasih, kalau begitu aku pamit. Nanti aku kabari kapan menjemput mereka."


Kini hanya Arkan dan Rendy yang masih berada di ruang rawat Kasih, sementara kedua orang tua, nenek dan sepupunya sudah pulang ke rumah. Mereka akan datang besok, sementara nenek Murni sudah pulih, beliau hanya mengalami shock saja.


"Ren, pulanglah dan beristirahat karena untuk beberapa hari ke depan sepertinya aku tidak bisa ke kantor. Aku menyerahkan semua urusan kantor kepadamu. Jadi istirahatlah dengan baik karena mulai besok tugasmu akan bertambah." Ucap Arkan kepada Asistennya.


Dengan patuh Rendy mengikuti perintah sang atasan, lelaki itu segera pergi dan kembali ke apartemennya untuk beristirahat, kini hanya ada sepasang suami istri di dalam ruangan tersebut. Arkan duduk di samping tempat tidur Kasih, lelaki itu menggenggam tangan sang istri bahkan Arkan berkali-kali mencium tangan itu.


"Kasih bangun sayang, jangan buat mas khawatir. Kamu harus sembuh Kasian anak-anak kita. Maafkan mas sayang, mas mencintaimu dan cepatlah sadar hanya itu yang mas inginkan." Ucap Arkan.

__ADS_1


Malam itu Arkan tidak dapat memejamkan matanya meski tubuhnya sangat lelah, Arkan takut ketika ia tertidur Kasih akan terbangun jadi ia memutuskan akan terjaga malam ini, dan benar saja tengah malam Kasih membuka matanya.


Jangan lupa like, komentar, vote, dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.


__ADS_2