
Arkan membawa kedua anak mereka ke atas tempat tidur agar bisa bermain dengan sang istri. Arkan tahu kalau istrinya itu sangat merindukan kedua anaknya, tapi karena saran dari Dokter Kasih harus bersabar demi kebaikan dirinya dan janin yang ada di dalam perutnya.
Kini keluarga kecil itu sedang asyik menikmati momen family time, Arkan dapat melihat wajah bahagia sang istri dengan kehadiran anak-anak mereka. Hingga tidak terasa mereka sudah bercengkrama selama setengah jam.
"Anak-anak sekarang mama harus istirahat lagi, mainnya besok lagi ya." Bujuk Arkan yang takut Kasih kelelahan.
"Tapi Dara masih mau main dengan mama pa. Sudah lama Dara tidak main dengan mama." Rengek bocah tersebut.
"Sayang mama sedang sakit jadi tidak boleh main lama-lama. Nanti adik bayi yang ada di dalam perut mama ikutan sakit." Ucap Arkan.
"Di dalam sini ada adik bayi lagi papa?" Tanya Dara.
"Ia sayang, sebentar lagi kamu dan Ardy akan punya adik bayi lagi. Jadi Dara harus jadi anak yang baik ya sayang." Kali ini Kasih yang menjawab pertanyaan sang putri.
Setelah mengetahui mamanya tidak boleh kelelahan barulah Dara mau di ajak Arkan.
__ADS_1
Malam harinya Kasih melihat suaminya terlihat gelisah terbukti dari tadi Arkan tidak bisa tidur dengan tenang, membuat Kasih juga ikut terganggu.
"Mas gak bisa tidur, Kenapa mas ada masalah?" Tanya Kasih sembari mengelus rahang Arkan yang sedang menatapnya.
Arkan hanya tersenyum kemudian mulai merangkai kata agar tidak membuat istrinya terkejut.
"Mas cuma ada masalah sedikit di perusahaan." Jawab Arkan.
"Masalah apa? cerita dong sama aku mas. Aku istri kamu mas. Jadi jangan sungkan untuk membagi ceritamu denganku." Ucap Kasih.
Kasih dengan cepat mengiyakan permintaan suaminya.
"Ada karyawan mas yang menggelapkan uang perusahaan." Ucap Arkan.
"Astaga, siapa orangnya mas?" Tanya Kasih penasaran.
__ADS_1
"Raka, karyawan itu adalah mantan suami kamu." Ucap Arkan.
Kasih terlihat terkejut dengan penuturan suaminya.
"Astaghfirullah, Apa perusahan mas rugi besar? Apa mas akan melaporkan mas raka kepada pihak yang berwajib?" Tanya Kasih penasaran.
"Sebenarnya perusahaan mas tidak rugi besar, tapi mas gak terima dengan perbuatannya. Mas akan melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib." Jawab Arkan.
Sedangkan di rumah orang tuanya, Raka sedang tidur di kamarnya, Laki-laki itu sengaja mengambil cuti agar dapat menenangkan hati dan pikirannya.
Raka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kasus yang menimpa istrinya, karena mau tidak mau dia akan ikut terseret juga.
Kini laki-laki itu sudah menyesali perbuatannya, ia sadar semua ini terjadi karena dirinya. Apalagi saat sang papa memberi nasehat kepadanya, nasehat tentang anak yang tidak pernah ia pedulikan kehadirannya.
"Lihat akibat perbuatan kamu, anak kalian yang ikut jadi korban. Kamu bahkan tidak menginginkan kehadirannya. Kalau bisa memilih ia pasti tidak akan mau terlahir dari orang tua seperti kalian. Mama dan Papa sudah putuskan kalau nanti bayi itu sudah lahir, kami akan membesarkannya." Ucap papa Raka.
__ADS_1
Raka merasa semakin buruk, karena tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Kenapa ia bisa membenci bayi yang tidak memiliki dosa tersebut. Raka juga tidak menyangka kalau orangtuanya mau mengurus anaknya padahal selama ini hubungannya dengan Sheila tidak di restui keluarganya.