
Setelah menutup tokonya Kasih naik ke lantai atas untuk beristirahat, memasuki kamar Kasih sudah melihat kedua anaknya dan Arkan tertidur di Kasur, tak mau menganggu Kasih langsung pergi membersihkan diri kemudian makan malam.
Selesai makan ia kembali ke kamar dan berbaring di samping Arkan karana hanya itu tempat yang tersisa. Belum sempat Kasih memejamkan matanya perempuan itu di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya. Arkan membalik posisi tidurnya sembari memeluk erat tubuh sang istri, Kasih berusaha melepaskannya tapi Arkan melarang "Jangan di lepas biarkan begini, aku nyaman." ucap Arkan kembali mengeratkan pelukannya. .
"Kenapa lama sekali masuk kamarnya, apa tokonya ramai ?" tanya pria itu
"Iya" jawab Kasih dengan ketus.
"Kalau begitu istirahatlah kamu pasti lelah atau mau aku pijitin," tawar Arkan.
"Tidak usah, sebaiknya kamu pulang saja karena kamar ini tidak nyaman untukmu." usir Kasih.
"Aku akan tidur di sini karena anak dan istriku juga di sini, aku akan menjaga kalian dan aku tidak mau mendengar penolakan."
"Terserah... aku mau tidur, jadi jangan menggangu." ucap Kasih mengingatkan.
Hening sejenak setelah Kasih mengingatkan Arkan untuk tidak bersuara lagi, tetapi lelaki itu masih tidak bisa memejamkan matanya. Arkan ingin menyelesaikan masalah mereka karena tidak tahan dengan sikap cuek dan dingin istrinya, walaupun ia seperti gunung es tapi istrinya itu lebih parah jika sedang marah.
Arkan membangunkan Kasih walau sudah tengah malam, karena sedari tadi ia mencoba untuk memejamkan matanya ternyata tidak berhasil. Arkan akan menuntaskan masalah mereka tapi tidak mungkin di dalam kamar karena kedua anak mereka sedang tidur, besar kemungkinan istrinya itu akan memaki dan berteriak seperti tadi pagi.
Kasih bangun dengan wajah juteknya karena suaminya itu minta di buatkan makanan karena lapar, tanpa Kasih tahu itu cuma akal-akalan Arkan agar bisa berbicara lebih leluasa dengan istrinya.
__ADS_1
"Mau makan apa, jangan minta yang aneh-aneh karena aku tidak akan menuruti permintaan mu, kalau mau aku akan masak mie instan," tawar Kasih sesampai di dapur .
Arkan hanya mengangguk patuh, sembari menemani Kasih memasak di dapur. Kasih memberi semangkuk mie instan ke hadapan suaminya beserta segelas air putih. Kasih hendak meninggalkan Arkan tetapi lelaki itu menahan tangan istrinya dan menyuruhnya duduk di sampingnya "Duduklah temani suamimu ini, kamu akan mendapat pahala yang besar ketika menemani suamimu makan." ucap Arkan.
"Tidak usah menceramahi, kamu saja tidak bisa menghargai ku sebagai istri." Jawab Kasih.
Arkan tidak bisa menjawab ucapan istrinya, ia langsung menikmati mie instan yang terasa lezat buatan sang istri. Setelah selesai menghabiskan makannya, Kasih membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas Arkan makan.
"Sudah kenyang, aku ingin tidur," ucap Kasih setelah selesai mencuci piring.
"Tunggu Kas, aku ingin bicara denganmu," Pinta Arkan sembari menarik Kasih duduk kembali.
"Apalagi sih mas, aku ngantuk lagi pula mas mau bicara apa?" tanya perempuan itu.
" Percuma kita memulai dari awal kalau kamu sendiri tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu kamu mas, kejadian itu akan terus terulang jika kamu masih menyimpan semua kenanganmu dengan Rena."
"Aku akan berusaha dan akan move on dari masa lalu Kas, aku janji. Hanya ada kita dan anak-anak kita kelak dan aku akan berusaha untuk membuat kamu tidak sakit hati dan menangis lagi."
"Apa yg kamu yakin mas, kamu bilang hanya ada kita dan anak-anak dan kamu tidak akan menyakiti aku. Jika aku mengatakan apa yang menyakitiku, apa kamu akan menghilangkannya?" tanya Kasih.
Arkan tersentak mendengar ucapan Kasih karena lelaki itu jelas tahu apa yang menyakiti istrinya itu. Melihat Arkan yang diam membisu membuat Kasih tersenyum kecut, ia sudah menduga kalau suaminya itu tidak sepenuhnya ingin berubah.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam mas, kamu tidak bisa. Sudah aku duga,." ucap Kasih berdiri dari duduknya.
Melihat Kasih yang akan pergi meninggalkannya Arkan segera mencekal pergelangan tangan Kasih "Aku akan menghilangkan apapun yang akan menyakiti kamu," ucap Arkan dengan terpaksa.
Mendengar ucapan suaminya, Kasih yang semula sudah membelakangi Arkan kembali berbalik dan menatap suaminya itu "Apa kamu yakin dan tidak akan menyesal?" tanya Kasih sekali lagi. Arkan mengangguk dengan ragu.
"Kalau begitu singkirkan barang-barang almarhumah istrimu, baik baju-baju, foto, alat make up, semua yang barang-barang Rena, karena itulah yang menyakiti hatiku."
Arkan terkejut dengan permintaan istrinya, karena itu Adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan. Arkan menggelengkan kepalanya " Tidak aku tidak bisa Kas, kamu boleh meminta apa saja tapi tidak dengan yang satu itu, aku mohon." pinta Arkan memelas.
Kasih hanya menatap nanar ke arah pria yang sudah beberapa bulan menjadi suaminya itu, dalam hati ia merasakan sakit seperti teriris silet karena suaminya itu tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Rena di dalam rumah tangga mereka. Sebegitu cinta dan berharganya wanita itu Sampai suaminya itu tidak menyisakan tempat sedikitpun untuk dirinya menempati hati Arkan.
"Oke kalau begitu, hiduplah dengan kenanganmu itu dan jangan urus hidupku lagi. Aku akan menunggu surat cerai darimu. Sekarang pergi dari sini karena aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi."
Kasih segera memasuki kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan ponsel suaminya itu. "Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi." usir Kasih meletakkan ponsel dan kunci mobil Arkan di meja.
"Tapi aku tidak ingin bercerai kas, aku ingin kamu yang akan menemani aku sampai tua dan kamu yang akan jadi ibu dari anak-anakku." ucap Arkan mencoba merayu Kasih.
"Jangan coba-coba merayuku, karena itu tidak akan mempan. Kamu kira aku pembantu dan pabrik anak yang akan menemani dan melahirkan anak-anak untukmu. Aku hanya akan hidup dengan Laki-laki yang bisa menghargai dan mencintaiku. Jangan kira aku akan tersihir dengan semua kekayaanmu, kerena semua itu tidak ada gunanya jika kamu tidak bisa mencintaiku. Aku bukanlah wanita lemah yang mengharapkan belas kasih orang lain, aku akan berusaha dan bekerja keras untuk menghidupiku dan anak-anakku. Jadi jangan kira aku takut berpisah darimu."
"Aku tahu aku salah dan kamu tidak bisa menerima semua perbuatanku, tapi aku mohon beri aku kesempatan aku janji akan berubah tapi beri aku waktu kas, karena ini tidak mudah bagiku."
__ADS_1
"Mau sampai kapan, kalau bukan dari sekarang, kapan kamu akan berubah. Sekarang pergi dari sini." teriak Kasih.