
Kasih merasa sungkan kepada mama mertuanya yang memberi beberapa pakaian, sepatu dan tas untuknya, apalagi setelah melihat apa yang di berikan mama mertuanya itu ternyata dari brand terkenal.
"Tapi ma, ini terlalu mahal untukku. Kasih gak biasa memakai pakaian mahal ma."
"Sayang, mama gak mau tahu kamu harus pakai, makanya pakai biar terbiasa dan ingat kamu harus tampil cantik agar suami kamu tidak di rebut pelakor. Kita sebagai perempuan harus serba bisa nak, agar suami tidak berpaling. Sekarang ganti bajumu mama tunggu di depan." Suruh mama Risma.
Kasih Menganti bajunya dengan pakaian yang di berikan mama mertuanya, memoles sedikit wajahnya dengan makeup tipis sehingga tampak lebih segar dan cantik natural. Setelah merasa cukup Kasih turun ke lantai bawah untuk menemui mama mertuanya.
Diruang keluarga nenek Murni, mama Risma, dan Sarti yang sedang menggendong baby Ardi menunggu kedatangan Kasih, mereka sudah tidak sabar melihat penampilan Kasih.
Setelah menunggu beberapa saat, Sarti yang melihat ke arah tangga ternganga melihat kecantikan majikannya itu, dengan tergagap ia memanggil mama Risma dan nenek Murni "Ne... ne... nek, ibu... lihat, cantik sekali" ucap Sarti yang terpana dengan penampilan Kasih.
Kedua wanita berbeda usia itu melihat ke arah tangga, mereka tersenyum bahagia melihat Kasih yang turun dengan penampilan yang sangat cantik, dengan malu- malu Kasih berjalan mendekati mereka "Ma apa ini tidak berlebihan?" Tanya Kasih yang kurang percaya diri dengan penampilannya.
"Tidak sayang, kamu cantik sekali. tapi tunggu sepertinya ada yang kurang, kamu tunggu sebentar." Ucap mama Risma dan memasuki kamarnya.
Mama Risma keluar dengan sebuah kotak perhiasan di tangannya, memasangkan sebuah kalung dan gelang berlian cantik miliknya untuk di pakai menantunya.
"Nah, kalau begini baru sempurna, ya sudah pergilah ke kantor suamimu, mama sudah menyuruh supir mengantarmu."
"Iya ma, Kasih berangkat dulu ma, nek, mba Sar. Kasih nitip Ardi dan Dara ya ma." Ucap Kasih mengambil bekal yang ada di meja.
Setelah mobil Kasih pergi, ketiga wanita itu bertos ria karena usaha mereka mendekatkan Kasih dan akan berjalan dengan baik "Ibu yakin nanti Arkan pasti akan klepek-klepek melihat istrinya secantik itu, mantan suami Kasih memang bodoh meninggalkan wanita seperti Kasih, dia mengatakan kalau Kasih itu tidak cantik lagi, padahal dia yang tidak ada modal mempercantik istrinya, pisau yang tajam saja kalau tidak sering di asah bisa jadi tumpul begitu juga dengan manusia kalau tidak di rawat ya akan berkurang kecantikannya." Tutur nenek Murni menatap kepergian cucu menantu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Benar ma, mulai sekarang kita buat Kasih tampil cantik dan elegan agar Arkan jatuh hati dan satu lagi agar mantan suaminya menyesal telah membuang Kasih." ucap mama Risma tertawa.
"Iya Bu, saya setuju. kalau istrinya mau cantik ya di modalin." tambah Sarti
...*****...
Di dalam mobil Kasih sangat gugup dan takut karena Arkan tidak menyuruhnya untuk datang ke kantor, tapi karena paksaan ibu mertuanya Kasih terpaksa menyetujuinya, terlebih apa yang di katakan mama Risma benar, jangan sampai suaminya di rebut pelakor untuk yang kedua kalinya, seperti kata pepatah jangan sampai terjatuh di lubang yang sama.
Kasih menarik napas dalam dan menyakinkan dirinya kalau nanti tidak akan terjadi apa -apa, Arkan akan menerima bekalnya dan mereka akan makan siang sama-sama.
"Ayo kas kamu harus percaya diri, kamu itu istrinya jadi wajar kalau kamu mengantar makan siangnya." Ucap Kasih menyemangati dirinya sendiri.
Tidak terasa mobil yang membawa Kasih sudah sampai di lobby perusahaan. Pak supir yang mengantarkan Kasih memberi tahu majikannya kalau mereka sudah sampai, karena Kasih masih sibuk dengan lamunannya.
Kasih sampai di perusahaan suaminya berbarangan dengan jam istirahatnya karyawan, Kasih berjalan dengan Anggun melewati beberapa karyawan yang memberi hormat kepadanya, mereka yang sudah mengetahui kalau yang ada di hadapan mereka adalah istri dari bos mereka. Kasih tersenyum ramah menyapa karyawan yang menyapanya.
Beberapa karyawan wanita memuji kecantikan istri bos mereka "Wah... istrinya pak bos cantik bangat pantas pak bos mau walaupun janda, ini mah janda VIP janda berkelas." Ucap karyawan A.
"Cantiknya kelewatan, sepertinya istri pak Arkan bidadari tak bersayap, sudah baik, ramah, cantik lagi." ucap karyawan cowok.
Melihat sebagian karyawan berkerumun, staf dari divisi keuangan yang berjalan beriringan ke kantin menatap heran dan bertanya apa yang sedang terjadi.
Dion yang tingkat ke Kepoannya sudah mendarah daging segera mencari tahu apa yang terjadi "Ada apa kok rame-rame, emang ada pembagian sembako gratis ya?" tanya Dion ke salah satu karyawan yang ada di sana.
__ADS_1
"Bukan sembako gratis pak, tapi kita lagi melihat kecantikan istri pak Arkan yang seperti bidadari itu." Jawab karyawan tersebut.
Semua mata staf divisi keuangan melotot mendengar siapa yang sedang jadi pusat perhatian para karyawan, Raka dan Sheila juga tidak kalah penasaran melihat Kasih.
Kasih yang terus berjalan kini tepat ada di hadapan Raka dan staf keuangan.
"Kasih astaga ya Allah, kamu cantik sekali." puji Fitri memeluk Kasih.
"Ah... mba Fitri bisa saja, biasa saja kok mba." ucap Kasih merendah.
"Mau kemana kas?" tanya Anton.
"Mau nganterin bekal makan siangnya mas Arkan bang." Jawab Kasih.
"Wah enak benar sih jadi pak Arkan, punya istri cantik, pintar masak, perhatian lagi. Pak bos beruntung sekali." tambah Adam.
"Mas Adam bisa saja mujinya, bukan mas Arkan yang beruntung mas tapi kasih yang beruntung di jadikan istri sama mas Arkan." ucap Kasih menatap Raka yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Sedangkan raka tidak menyangka mantan istrinya itu sangat berbeda, kasih terlihat cantik, anggun, yang mengingatkannya kembali pada saat awal-awal mengenal wanita itu.
"Dasar norak, Sudah gak zaman kali bawa bekal untuk suami. Makan di restoran mewah dong, katanya istri orang kaya." ucap Sheila yang cemburu dengan penampilan Kasih yang terlihat cantik dengan dress selutut warna hitam dengan model Sabrina sangat pas di kulit putih Kasih, make up tipis serta rambut panjangnya yang di biarkan terurai, sepatu heels yang mempercantik kaki jenjang wanita itu dan jangan lupakan tas branded merek D*or di tenteng Kasih serta kalung dan gelang berlian yang menyilaukan jiwa dan hati Sheila. Sheila tak menyangka kalau Kasih menjelma menjadi wanita berkelas, sedangkan ia untuk mendapatkan keinginannya harus mati-matian merayu suaminya dulu dengan segala bujuk rayu itu pun belum tentu berhasil.
"Bu Sheila bagi saya makan di restoran mahal itu sudah biasa, tapi makan siang yang di bawakan istri saya di masak dengan penuh cinta dan Kasih sayang itu lebih mahal, bukan begitu pak Raka ? Oh... atau pak Raka tidak pernah di masakin bu Sheila?"
__ADS_1