Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 73 "Bolehkah saya mengazaninya?"


__ADS_3

"Astaga, kenapa kamu bisa kecolongan begini, Kasih itu sedang kacau bagaimana kalau ia pulang dengan motornya dengan keadaan seperti ini, bisa bahaya Rik." Ucap Rian yang semakin khawatir dengan keadaan adik iparnya itu.


Tanpa memperdulikan Raka dan Sheila lagi mereka berdua bergegas meninggalkan hotel untuk mencari kasih. Sesampai di parkiran mereka sudah tidak melihat sepeda motor Kasih yang membuat dua laki-laki itu semakin khawatir.


"Coba kamu hubungi ponselnya" pinta Rian.


"Ayo angkat Kasih Kamu di mana." ucap Riko yang terus menghubungi ponsel Kasih.


"Tidak di angkat bang" ucap Riko.


Karena Kasih tidak mengangkat telepon Riko, mereka memutuskan untuk mendatangi rumah Raka dan Kasih, tetapi Ketika sampai di rumah Kasih dan Raka mereka tidak menemukan Kasih yang makin membuat mereka panik.


Sedangkan di hotel, Raka memapah Sheila yang sudah tidak dapat menunjukkan wajahnya karena malu, Raka melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polos selingkuhan itu.


Mereka berjalan ke kamar mereka, jangan lupa umpatan dan makian di dapatkan mereka dari para tamu dan staf hotel yang melihat kejadian itu.


"Cantik sih cantik tapi murahan, dasar pelakor." ucap seorang ibu-ibu.

__ADS_1


"Dasar laki-laki bodoh, rela melepas berlian dan memilih batu kali." ucap salah satu staf hotel.


"Kalau gue punya istri secantik istrinya gue jadikan ratu, gue sayang dan setia bukan nyari WC umum." ucap bapak-bapak yang ada di situ.


"Sudah-sudah ngapain kita ngurusin sampah masyarakat, gak ada guna yang jelas apa yang kita tanam itu yang kita tuai, tuhan tidak tidur dan akan membalas perbuatan mereka, tinggal menunggu waktu saja. Ingat karma tidak semanis kurma." ucap seorang lelaki sambil menatap sinis kedua pasangan mesum itu.


Raka dan Sheila hanya dapat berjalan tertunduk dan menahan malu memasuki kamar mereka.


Sedangkan mereka langsung bubar meninggalkan tempat itu sambil beberapa dari mereka tetap mengumpat Raka dan Sheila.


Arkan dan Rendy masih setia menunggu Kasih di luar ruang operasi, tak perlu menunggu lama dari dalam ruangan operasi terdengar suara tangisan bayi yang membuat kedua laki-laki tersebut tersenyum.


"Bos bayinya sudah lahir" Ucap Rendi.


Arkan hanya tersenyum tipis, entah kenapa mendengar suara tangisan bayi tersebut membuat jantungnya berdetak kencang, ada rasa bahagia mendengar tangisan bayi itu.


Setelah selesai menangani Kasih dokter dan seorang perawat keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


"Keluarga pasien?" tanya Dokter tersebut.


"Iya Dok, bagaimana keadaan pasien dan anaknya?" tanya Raka.


"Operasinya berhasil, putra anda lahir dengan selamat tapi karena putra anda lahir secara prematur memerlukan perawatan intensif dan untuk istri anda sudah baik-baik saja dan kami akan memindahkannya keruangan rawat inap.Kalau begitu saya permisi dulu ya pak, sekali lagi selamat atas kelahiran putranya." ucap dokter itu kemudian pergi meninggalkan Arkan dan Rendi.


"Pak silahkan masuk, tolong bayinya di azani, dan temui istri anda." Suruh suster tersebut.


"Saya bukan suaminya dok, kami hanya menolong wanita tersebut." jawab Arkan.


"Jadi dimana suami atau keluarga pasien?" tanya suster itu.


Arkan dan Rendy menggelengkan kepala mereka tanda tidak tahu.


"Kasian sekali wanita itu, apalagi anaknya tidak ada yang mengazaninya." ucap suster tersebut.


Mendengar perkataan suster tersebut membuat hati Arkan sakit, entah Kenapa ia merasa sedih mendengar ucapan Suster itu.

__ADS_1


"Sus, bolehkan saya yang mengazani bayi itu?" tanya Arkan.


__ADS_2