
"Baiklah pa, Arkan akan membantu pak Danu. Kapan Arkan berangkat ke Jerman pa ?" tanya Arkan.
"Secepatnya. Lebih cepat lebih baik tapi sebelum kamu berangkat ke sana sempatkan lah berkunjung ke rumah, setidaknya kita makan malam bersama. Nenekmu selalu menanyakan kamu, nenek sangat merindukan cucu semata wayangnya yang tidak pernah lagi datang menjenguknya. Kamu tidak kasihan melihat nenek yang sudah tua kesepian di rumah." Tutur Arman.
Mendengar ucapan Papanya Arkan menghela napasnya mengingat nenek yang sangat menyayanginya. Sudah lama dia tidak datang menjenguk wanita yang sangat di sayangnya tersebut. Ada benarnya apa yang di katakan sang ayah, sebaiknya dia berkunjung ke rumah sebelum berangkat ke Jerman.
" Baiklah pa, Arkan akan berkunjung sebelum berangkat ke Jerman." ucapnya
"Kalau begitu papa pulang dulu. Papa sudah janji sama mamamu menemaninya shopping kalau papa sampai telat bisa-bisa mamamu marah sama papa." ucap Arman.
" cie... cie... suami takut istri nih ceritanya." Ledek Arkan.
" Bukan suami takut istri. Tapi suami sayang istri." Jawab Arman kemudian berlalu dari ruangan sang anak yang di ikuti oleh asistennya.
Setelah kepergian sang ayah Arkan menyuruh Rendy mempersiapkan keberangkatan mereka dan memesan tiket ke Jerman.
"Ren kamu siapkan tiket kita berangkat ke Jerman." Suruh Arkan.
"Saya juga ikut bos ?" tanya Rendy
"Ya iyalah kamu ikut saya, kamu itukan asisten saya jadi di mana saya di tugaskan disitu juga kamu bekerja." Jawab Arkan
" Baik bos, saya permisi dulu." ucap Rendy.
Seorang laki-laki tampak berdiri di dekat dua makam satu makam orang dewasa dan satu lagi makam anak kecil.
__ADS_1
Siapa lagi laki-laki tersebut kalau bukan Arkan. Dia pergi mengunjungi makam sang istri dan anaknya sebelum pergi ke Jerman. Arkan selalu datang berkunjung ke sana kalau dia sedang tidak banyak kerjaan minimal 2 kali dalam sebulan pasti dia akan datang mengunjungi makam sang istri dan anak tercinta.
Sambil membersihkan makam dan menaburkan bunga Arkan seolah berbicara dengan istri dan anaknya, walau kenyataannya dia hanya berbicara pada makam keduanya tanpa ada yang menjawab tapi tidak mengapa dengan melakukan hal tersebut sedikit mengurangi rasa rindunya pada kedua orang yang amat di cintainya itu. Tak lupa Arkan membawa bunga mawar putih kesukaan sang istri, Arkan meletakkannya di atas makam.
"Sayang aku datang lagi, maaf ya aku baru bisa mengunjungi kalian karena aku banyak kerjaan di kantor. aku sangat merindukan kalian, apa kalian juga merindukan aku. Pasti kamu sangat bahagia sayang bisa bersama putri kita. Aku akan berangkat ke Jerman besok untuk mengurus perusahaan kita yang sedang bermasalah di sana, aku gak tau seberapa lama aku di sana sayang. Sebenarnya aku sedih sayang karena tidak bisa lagi berkunjung kesini untuk sementara waktu. Tapi aku janji sayang, aku akan menyelesaikan masalah di sana dengan cepat supaya aku bisa ke sini lagi." ucap Arkan .
Melihat cuaca di sore hari itu yang semakin mendung pertanda hujan akan turun membuat Arkan mempercepat acara kunjungannya dari makam istri dan anaknya.
"Sayang sebentar lagi akan turun hujan, maaf aku gak bisa lama-lama disini sayang. Aku pamit pulang ya sayang, katakan pada putri kita aku sangat merindukannya dan sangat mencintainya. I Love you " ucap Arkan sambil meneteskan air matanya.
Laki-laki itu selalu rapuh bila mengingat anak dan istrinya, walau sudah berjalan empat tahun tapi sakitnya masih sama. Sampai saat ini dia belum bisa membuka hatinya kepada wanita lain, dan Arkan berniat menduda seumur hidupnya.
Arkan tidak mau posisi almarhum istrinya di gantikan oleh wanita lain.
Arkan menghapus air matanya dan kembali memakai kacamata hitamnya dan berjalan meninggalkan pemakaman tersebut.
"Sudah selesai bos, setelah ini kita kemana bos ?" tanya Rendi setelah Arkan masuk ke dalam mobil.
"Kita pergi ke rumah papa, apa kamu sudah mendapatkan tiket pesawat untuk kita ren ?" tanya Arkan
" Sudah bos" ucap Rendy.
Setelah pulang kerja Raka langsung pulang ke rumah, tetapi rumah tampak sepi dia langsung bergegas mencari istri dan anaknya. Di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar Dara sudah Raka cari tapi tidak menemukan istrinya.
Raka langsung mencari istrinya ke kamar dan melihat istri dan anaknya sedang berbaring di kasur.
__ADS_1
Kasih sedang berbaring sedangkan putri mereka sedang asyik menonton televisi yang ada di kamar mereka.
Raka berjalan menghampiri mereka kemudian menghadiahkan sebuah kecupan di kening anak dan istrinya.
"Papa kira kalian lagi keluar, gak biasanya jam segini rumah sepi." ucap Raka
"Dara lagi jaga mama sakit papa, kata mama kepala mama pusing terus muntah-muntah. Dara kasian liat mama sakit papa." ucap Dara mengadu.
Setelah mendengar cerita anaknya Raka langsung meneliti wajah sang istri, benar saja wajah Kasih sangat pucat membuat Raka khawatir.
"Kamu sakit sayang. Benar yang di bilang Dara kalau tadi kamu muntah-muntah dan pusing?" tanya Raka dengan wajah yang khawatir.
"Iya mas, badan aku lemas bangat aku gak kuat buat bangun mas. Tenagaku habis mas, semua makanan yang masuk ke perutku keluar karena muntah mas. Sakit bangat mas, aku gak kuat mas." ucap Kasih yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
Merasa Kasihan melihat istrinya Raka segera memeluk Kasih dan memberi kekuatan agar Kasih lebih sabar mengahadapi kehamilannya kali ini.
"Kamu yang sabar ya, ada mas yang selalu di sampingmu. Kalau gitu kita berobat saja gimana?" tanya Raka
"Gak usah mas, kemarin waktu kita ke dokter sudah di kasih obat kan. Ini wajar kok mas dialami Sama wanita hamil." ucap Kasih
" Ya udah, kalau kamu udah gak kuat lagi jangan di tahan, bilang sama mas supaya kita berobat." ucap Raka.
Kasih hanya menganggukkan kepalanya. Melihat istrinya yang lemah Raka memastikan kalau istrinya belum memasak makan malam jangankan memasak rumah mereka saja masih berantakan. Raka berinisiatif untuk memesan makanan dengan aplikasi tak lupa dia menanyakan makanan yang di inginkan istrinya baru memesan makanan mereka.
" Ya udah kamu istirahat lagi mas mau mandi dulu, setelah itu mas akan bersihin rumah kita baru kita makan malam. Mas tadi sudah pesan makanan." ucap Raka kemudian mengajak Dara untuk mandi karena melihat penampilan putrinya itu Raka yakin kalau Dara belum mandi sore.
__ADS_1
"Maafin Kasih ya mas, rumah kita masih berantakan, Dara juga belum mandi, aku juga belum masak." ungkap Kasih merasa bersalah.
Raka tersenyum dan mengelus rambut sang istri."Tidak apa-apa sayang, kamu kan lagi gak enak badan. jadi sudah seharusnya mas yang melakukan pekerjaan rumah." jawab Raka.