Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 138 "Gagal membujuk istri"


__ADS_3

Mendengar nama istrinya di sebut membuat lelaki itu menjadi semangat "Kenapa dengan istriku? cepat katakan jangan membuatku penasaran." Ucap Arkan.


"Istri pak bos sudah pulang ke rumah."Jawab Rendy.


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang asisten membuat Arkan girangnya bukan main, ia langsung bergegas pulang ke rumah agar dapat segera bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Rendy memang sengaja menyuruh seseorang untuk menjaga istri bosnya tanpa sepengetahuan Kasih ketika mereka tinggal di ruko, dari sanalah Rendy mengetahui informasi kembalinya Kasih ke rumah utama.


"Rendy, kamu bisa cepat gak bawa mobilnya. Kenapa lelet sekali, tambah kecepatannya lagi karena aku sudah tidak sabar bertemu dengan istriku." Perintah Arkan membuat Rendy berdecak kesal.


"Maaf ya pak bos, saya tidak akan menambah kecepatan karena itu dapat mengancam keselamatan nyawa saya. Maklum bos saya kan masih jomblo, belum pernah nikah dan belum merasakan nikmatnya surga dunia, berbeda dengan bos yang sudah dua kali menikah. Jadi kalau mau cepat di panggil tuhan jangan ngajak-ngajak deh bos." Jawab Rendy membuat Arkan menatap tajam asistennya itu.


Rendy yang tidak ingin berdebat lagi hanya diam karena takut sang bos memangkas gajinya bulan ini dan tanpa terasa mereka kini sudah sampai di rumah. Arkan berlari memasuki rumah tanpa menunggu Rendy yang berniat ingin numpang makan malam di rumah bosnya itu, hitung-hitung menghemat pengeluaran dan perbaikan gizi, maklum manusia seperti Rendy itu tipe yang kalau ada yang gratis sampai muntah juga di jabanin.


"Kasih, Dara, Ardy dimana kalian sayang...." Teriak Arkan melewati papa Arman yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Astaga Arkan kamu itu buat papa kaget tahu gak. Datang-datang bukannya memberi salam malah teriak, ini bukan hutan nak." Ucap papa Arman.


"Maaf pa, Arkan lagi nyari istri dan anak-anak Arkan, Rendy bilang mereka sudah pulang?" tanya Arkan.


"Ya, mereka sudah pulang dan lagi istirahat di kamar." ucap papa Arman memberi tahu putranya.


Arkan langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, sesampai di sana dia heran karena tidak ada istrinya, Arkan bahkan memeriksa kamar mandi tapi istrinya tetap tidak ada. Arkan kembali menemui papanya di ruang keluarga, dengan napas yang ngos-ngosan, sampai di hadapan sang papa.


"Kamu kenapa sih dari tadi lari-lari terus, sudah seperti di kejar setan saja." tegur papa Arman melihat anaknya itu menuruni tangga dengan berlari.

__ADS_1


"Papa bilang kalau Kasih ada di kamar tapi Arkan sudah ke sana, tidak ada siapa-siapa." ucap lelaki itu yang mulai kesal.


"Emangnya kamu cari istri kamu di kamar mana?" Tanya papa Arman dengan santai.


"Ya, di kamar Arkan dong pa, mau cari di mana lagi." Ucap Arkan dengan percaya diri.


"Pantas kamu gak ketemu, istri kamu ada di kamar ardy bukan di kamar kamu, makanya kalau orang lagi bicara di dengar sampai selesai bukan main tinggal saja."


"Kenapa harus di kamar Ardy, Kasih tidur sama aku jadi harus di kamarku dong pa?"


"Makanya belajar menghargai orang, mana ada perempuan yang betah tidur di kamar yang semua isinya di penuhi barang perempuan lain. Itu sama saja kamu menginjak-injak harga diri istrimu. Coba pikir kalau keadaannya di balik, Kasih yang gak bisa move on dari masa lalunya kamu terima gak?" Tanya mama Risma yang baru keluar dari kamar nenek Murni.


"Ma, aku itu butuh waktu untuk semua ini. Jadi aku mohon pengertiannya." Ucap Arkan membela diri.


"Mau sampai kapan? sampai Kasih benar-benar capek dan muak menghadapi kelakuanmu, jangan membuang waktu orang sia-sia hanya karena menunggu kamu move on, apa belum cukup empat tahun untuk melupakan Rena. Jangan jadi orang yang egois dan selalu ingin di mengerti, mama saja capek liat kelakuanmu apalagi Kasih."


"Biarin saja pa, mama muak liat kelakuan anak kita." Ucap wanita itu pergi meninggalkan kedua lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


Arkan kembali ke kamarnya, dia mengurungkan niat mencari istrinya dan memilih membersihkan diri karena sebentar lagi jadwal makan malam, pasti Kasih juga akan ikut makan malam pikir lelaki itu.


Semuanya sudah duduk di meja makan termasuk Bayu dan Rendy juga turut di sana, nenek Murni makan malam di kamar karena drama yang mereka ciptakan membuat wanita tua itu tidak dapat makan malam bersama, sedangkan Arkan belum juga turun dari kamarnya.


Kasih mulai menyendokkan nasi ke piring Dara, tiba-tiba Dara memanggil Arkan yang sedang berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Papa...., ayo sini duduk di samping Dara." Ucap bocah itu dengan polosnya.


Arkan mengembangkan senyumnya ketika ia dan Kasih beradu pandang, tetapi Arkan harus berbesar hati karena senyuman yang ia berikan tidak mendapat balas.


Semua menikmati makanan malam dengan tenang, tetapi Arkan merasa ada yang kurang karena sang nenek tidak ikut makam bersama.


"Nenek di mana ma, kok tidak ikut makan malam?" tanya Arkan.


"Sakit, gara-gara melihat kelakuanmu." Jawab mama Risma dengan ketus.


Setelah mengetahui apa penyebab sang nenek tidak ikut makan bersama, Arkan tidak lagi mengeluarkan suaranya. Lelaki itu dengan cepat menghabiskan makanannya kemudian ikut bergabung dengan para lelaki di teras samping, sedangkan Kasih segera pergi ke kamar Dara untuk menemani putrinya itu belajar.


Ketika Dara sudah tertidur barulah Kasih pergi ke kamar baby Ardy dan berniat tidur di kamar putranya itu. Belum sempat Kasih masuk ke dalam kamar itu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pundaknya.Kasih melihat ke belakang ternyata suaminya.


"Ada perlu apa? Aku mau istirahat." Ucap Kasih dengan dingin.


"Kalau mau istirahat ayo kita ke kamar." Ajak Arkan menarik tangan istrinya itu.


Kasih menyentak tangan suaminya "Kamar yang mana? Apa kamu ingin mengajakku ke kamarmu dan almarhumah istrimu itu. Agar aku mengetahui betapa bahagia dan cintanya dirimu dengan wanita itu. Aku kembali ke rumah ini bukan karena dirimu tapi karena nenek yang sakitnya kambuh karena mendengar pertengkaran kita. Jangan harap hubungan kita membaik sebelum kamu bisa melupakan masa lalumu, lagi pula aku sudah memberi pilihan untukmu, jika tidak sanggup silahkan ceraikan aku."


Arkan mengelus dadanya ketika pintu kamar ditutup istrinya dengan kuat. Arkan melangkah dengan lesu karena gagal membujuk istrinya, sedangkan Bayu yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu.


"Jangan egois Arkan, lupakan masa lalumu dan bahagiakan istrimu sebelum orang lain membahagiakannya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, vote, dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya.


terima kasih.


__ADS_2