
Siang harinya Raka sudah sampai di rumah Arkan, sesuai janji ia akan datang mengunjungi anak-anaknya siang hari. Raka kini sedang duduk di ruang tamu menunggu anak-anaknya datang, kemudian datang seorang asisten rumah tangga membawakan minum untuknya.
Arkan dan Kasih ingin menjumpai Raka yang sedang menunggu di ruang tamu, tadi seorang asisten rumah tangga datang memberitahu kalau Raka sudah sampai. Awalnya Kasih ragu ingin bertemu dengan mantan suaminya itu, tapi berkat bujukan dan nasehat suaminya ia memberanikan diri untuk bertemu sekaligus mengucapkan terima kasih karena sudah mau mendonorkan darah untuk dirinya.
"Maaf pak Raka sudah lama menunggu." ucap Arkan yang datang menghampiri Raka dengan mendorong kursi roda Kasih.
"Santai saja pak, saja juga baru sampai." Jawab Raka dengan sopan
Arkan membantu Kasih untuk duduk di sofa, lelaki itu langsung menggendong sang istri dan mendudukkannya di sofa yang ada di seberang Raka, kini mereka saling berhadapan. Ada rasa sakit melihat mantan istrinya itu di gendong oleh lelaki lain, tapi apa boleh buat karena lelaki itu sekarang suami dari wanita yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri bapak, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Raka kepada Arkan. Sebenarnya lelaki itu ingin menanyakan hal itu langsung kepada Kasih tapi Raka takut kalau Arkan akan tidak suka dengan tindakannya itu.
"Alhamdulillah istri saya sudah lebih baik dan Dokter mengatakan tidak ada masalah serius, hanya saja dalam waktu sebulan ini, istri saya harus menggunakan kursi roda karena Kakinya masih cidera pak Raka." Tutur Arkan sembari menggenggam tangan sang istri.
Melihat kemesraan mantan istri dengan bosnya itu membuat Raka sedikit canggung, dan Kasih menyadari itu.
Ketika Raka sudah meminum tehnya Kasih kembali bersuara "Mas Raka, terima kasih karena sudah mendonorkan darah mas untukku, aku gak tahu kalau waktu itu mas gak ada, mungkin aku sudah tidak di dunia ini lagi. secara golongan darahku termasuk langkah. Aku berhutang Budi kepada mas Raka. " Ucap Kasih membuat hati Raka menghangat.
Baru ini Raka mendengar kata-kata lembut itu lagi setelah ia dan Kasih bercerai. Semenjak Kasih tahu tentang perselingkuhannya, wanita yang semula selalu berkata lemah lembut kepadanya seakan berbanding terbalik ketika mengetahui pengkhianatannya. Tetapi hari ini Raka kembali mendengar suara lemah lembut Kasih kepadanya tanpa ada umpatan dan makian seperti yang biasa ia dapatkan setelah mereka bercerai.
__ADS_1
"Jangan merasa berhutang Budi, aku ikhlas menolongmu. Terlebih kamu adalah ibu dari anak-anakku dan mas tidak ingin anak-anak mas kehilangan ibunya, karena hanya kamu yang pantas menjadi ibu mereka." Ucap Raka terus menatap sang mantan istri.
"Baik mas, terima Kasih sekali lagi. Kenapa mas datang sendiri, apa istri mas tidak mau ikut?" Tanya Kasih yang sedikit kepo karena biasanya Sheila selalu menempel dengan Raka semenjak hubungan mereka terendus publik.
"Sheila di rumah istirahat karena dia sedang hamil muda." Ucap Raka yang tak enak memberitahu kabar itu kepada Kasih.
"Oh...., selamat ya mas. Semoga rumah tangga mas dan Sheila bahagia selalu dan awet." Ucap Kasih dengan enteng karena memang sudah tidak ada lagi dendam di hatinya, toh ia juga sudah bahagia dan di beri tuhan pengganti yang jauh lebih baik.
Like, komentar, vote, dan, hadiahnya, agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih.
__ADS_1