
"Sheila aku tidak melarang mu untuk berbelanja tapi aku mohon sama kamu, jangan terlalu sering. Aku bukanlah lelaki kaya raya yang bisa menuruti hobi belanja mu itu. Ingat shei sebentar lagi kita jadi orang tua, masih banyak hal yang lebih penting dari pada belanja barang-barang gak penting. Kamu pikir punya anak itu gampang, gak shei. Butuh biaya banyak." Ucap Raka dengan kesal.
"Kalau kamu ingin aku menuruti semua keinginan kamu, maka jangan pernah temui anak-anakmu mas." Ancam Sheila.
Raka tersenyum miring "kamu pikir ancamanmu itu mempan. Mau sampai mulut kamu berbusa, aku tidak akan mau menuruti inginmu itu. Kamu tahu sedari dulu aku punya anak, jadi jangan berani-berani menghalangi aku ketemu dengan anakku. Camkan baik-baik."
"Tapi aku sedang hamil mas, sebentar lagi kamu akan punya anak dari aku. Ini anak kandung kamu mas." Ucap Sheila dengan wajah kesalnya.
"Kamu pikir anakku dengan Kasih bukan anak kandungku. Mereka sama Sheila, jadi aku harus memperlakukan mereka dengan adil." Teriak Raka dengan emosi.
Setelah meluapkan amarahnya Raka pergi meninggalkan meja makan, lelaki itu sudah tidak nafsu untuk menghabiskan makanannya. Raka bergegas ke kamar mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Mau kemana kamu mas?" Tanya Sheila yang masih berdiri di tempat ia berdiri tadi.
__ADS_1
" Bukan urusanmu" Jawab Raka dengan ketus.
"Aku istrimu mas, jadi aku berhak tahu kamu mau kemana."
"Percuma aku disini, setiap kita bertemu selalu saja ribut. Aku capek shei, aku butuh ketenangan. Aku pulang ke rumah ingin istirahat bukan untuk ribut. Jadi jangan salahkan kalau aku tidak betah lama-lama di rumah ini, berada di dekatmu seperti berada di neraka." Ucap Raka dengan nada yang tinggi.
Sheila melemparkan semua belanjaannya ketika Raka tetap pergi walau tanpa izinnya.
"Baru sekali kamu bertemu dengan anakmu itu, tapi kamu sudah seperti ini. Aku yakin pasti si Kasih wanita murahan itu yang menghasut suamiku. Lihat saja aku pasti akan membalas kamu wanita murahan." Umpat Sheila dengan wajah yang sudah memerah.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu yang di nantikan Kasih sudah tiba karena hari ini wanita itu akan melepas gipsnya dan semoga ia bisa berjalan normal kembali.
Sedari tadi Kasih sudah siap menunggu sang suami untuk menjemputnya. Arkan menyempatkan diri di antara jadwalnya yang padat untuk sekedar menemani sang istri untuk control ke Dokter. Walau Kasih sudah melarang, dan mengatakan akan pergi ke rumah sakit dengan mama mertuanya saja, karena Kasih tidak ingin pekerjaan suaminya terganggu.
__ADS_1
Tetapi Arkan berhasil mengatakan kepada Kasih kalau kerjaannya tidak akan terganggu.
"Assalamualaikum, sayang kamu sudah siap belum?" Tanya Arkan yang sudah memasuki rumah.
Orang yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul juga, membuat Kasih yang sedari tadi menunggu tersenyum melihat kedatangan suaminya "Sudah mas, aku sudah siap dari tadi" Jawab Kasih dengan semangat.
"Oke, kalau begitu kita langsung berangkat." Ajak Arkan sembari mulai mendorong kursi roda istrinya.
"Ma, nek Kasih pamit dulu ya, doakan semoga kaki Kasih sudah sembuh dan bisa berjalan dengan normal."Ucap Kasih sembari berpamitan kepada mertuanya.
"Iya nak, nenek selalu mendoakan kalian," ucap nenek Murni dengan tersenyum melihat cucu dan cucu menantunya.
"Hati-hati ya sayang, Arkan jangan ngebut bahaya." Ucap mam Risma mengingatkan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote, dan, hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih.