
Raka kini sudah berada di apartemen Sheila, lelaki itu baru saja membersihkan badannya yang terasa lengket akibat terlalu banyak aktivitas yang ia lakukan bersama kedua buah hatinya siang tadi.
Mengingat kembali kebersamaan dirinya dan anak-anak membuat laki-laki itu terus menyinggung kan senyumnya, rasa rindu kepada kedua anaknya seolah terobati, apalagi setelah melihat cara Arkan memperlakukan kedua anaknya, membuat laki-laki itu merasa tenang karena Kasih memberi kedua anak mereka sosok papa sambung yang baik dan menyayangi anak-anaknya.
Tetapi ada rasa sesak di hati Raka kala melihat perlakuan Arkan kepada Kasih. Arkan memperlakukan Kasih seperti ratu dan tak canggung bertingkah mesra di hadapannya.
."Hahhh...." Raka menghela napasnya dengan kasar.
"Ini adalah hukuman untukmu Raka, karena kamu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Kasih, dia berhak bahagia dengan orang yang bisa menghargai dan mencintainya dengan tulus." Ucap Raka yang berbicara di hadapan cermin.
__ADS_1
Raka hanya seorang diri di dalam apartemen itu, semenjak kepulangannya Raka tidak melihat sosok sang istri di dalam apartemen. Raka yang sudah tak perduli dengan wanita yang kini menjadi istrinya itu, terserah Sheila ingin pergi kemana. Raka bertahan hanya karena kehamilan Sheila saja.
Kini raka pergi ke arah dapur, lelaki itu merasa lapar karena tadi ia menolak makan malam bersama Arkan dan Kasih, walau ia sudah lapar tapi Raka tidak ingin melihat kemesraan bos dan mantan istrinya itu.
Apalagi Raka pasti hapal akan kebiasaan Kasih yang selalu melayani suaminya ketika di meja makan. Raka tidak sanggup melihat pemandangan itu, melihat Kasih yang melayani Arkan dimana ia dulu juga di layani bak raja oleh Kasih.
Raka hanya mengusap dadanya kala tak menemukan makanan di dapur yang menandakan Sheila tidak memasak. Dengan langkah malas Raka pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa sembari mengutak-atik ponselnya guna memesankan makanan melalui aplikasi.
Sedangkan Sheila kini sedang ada di dalam mobilnya, wanita hamil itu sedang dalam mood yang happy karena seharian ia dapat menyenangkan hatinya dengan pergi berbelanja barang apa yang ia inginkan dan pergi ke salon kecantikan melakukan perawatan.
__ADS_1
Sheila yang tadi siang merasa kesal karena suaminya pergi untuk bertemu dengan anak-anaknya terpaksa memilih diam, percuma ia melarang karena sekarang suaminya itu sudah tidak mau mendengar ucapannya yang ada nanti posisinya yang akan terancam jika berani mengajak Raka ribut.
"Terserah kamu mau bertemu dengan anakmu mas, sekarang yang penting aku masih bisa menggunakan kartu kreditmu untuk berbelanja." Ucap Sheila setelah Raka pergi tadi.
Sheila memasuki apartemennya dengan kedua tangannya yang penuh dengan tas belanjaan, Sheila terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya tanpa memperdulikan Raka yang sedang menyantap makanannya di meja makan, melihat wajah suaminya ia masih kesal karena laki-laki itu sudah lancang pergi menemui anaknya.
"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang. Pergi gak izin sama suami." Tanya Raka dengan nada yang dingin.
"Kamu tidak lihat aku pulang dengan tas belanjaan ini, yang berarti aku habis berbelanja. Jika kamu sibuk bertemu dengan anak-anakmu maka aku sibuk membuat hatiku senang, bukannya Dokter mengatakan aku tidak boleh stres karena tidak baik bagi anak kita. Oleh karena itu aku ingin berbelanja untuk memperbaiki moodku." Jawab Sheila dengan enteng.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih