Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 216 "Ketahuan"


__ADS_3

Arkan membenarkan selimut Kasih, Arkan sangat bersyukur tidak terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya. Kasih sudah di pindahan keruangan VVIP rumah sakit tersebut. Dokter menyarankan agar Kasih di rawat sampai besok memastikan tidak ada masalah pada kehamilan Kasih.


Rendy sudah meninggalkan rumah sakit setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Rendy harus segera bertindak, bahkan ia langsung menghubungi pengacara keluarga Arkan dan mengambil bukti rekaman cctv agar besok ia sudah bisa membuat laporan ke kantor polisi.


"Iya ma, Kasih dan kandungannya baik-baik saja. Jangan khawatir besok kamu sudah boleh pulang. Mama dan yang lainnya tidak usah datang ke sini. Arkan titip anak-anak ya ma." Pinta Arkan.


Setelah selesai memberitahu kondisi istrinya baru Arkan kembali masuk ke dalam ruangan kasih. Lelaki itu sengaja keluar ruangan agar tidak menggangu sang istri yang sedang beristirahat.


"Sayang kamu sudah sadar?" Tanya Arkan yang melihat Kasih berusaha untuk duduk.


Arkan bahkan berlari mendekati istrinya, lelaki itu membantu Kasih untuk duduk, memberi beberapa bantal dibelakang punggung Kasih agar wanita yang dicintainya itu dapat duduk dengan nyaman.


"Aku dimana mas?" Tanya Kasih yang masih lemas dan pucat.


"Kamu lagi di rumah sakit sayang. Ini minum dulu pasti kamu haus." Arkan memberi segelas air putih untuk Kasih.


Kasih menerima segelas air yang diberi suaminya itu, sembari mengingat apa yang terjadi kepadanya sebelum berakhir di kamar rawat rumah sakit ini.


"Mas, bagaimana anak kita mas. Dia baik-baik sajakan?" Tanya Kasih setelah mengingat apa yang terjadi kepadanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah anak kita baik-baik saja. Kandungan kamu baik-baik saja, tapi kamu harus banyak istirahat." Ucap Arkan.


...*****...


Sheila mengikuti pengantar makanan tersebut dan memanggilnya.


"Mau mengantar makanan kemana mas?" Tanya Sheila basa basi.


"Ke unit yang itu mbak." Tunjuk pengantar makanan tersebut.


"Wah kebetulan saya juga ingin berkunjung ke unit itu, mengunjungi teman saja." Ucap Sheila agar pengantar makanan tidak curiga dan ia bisa melancarkan aksinya.


Ting tong...


Suara bel apartemen Anggun berbunyi membuat Raka terkejut dan sedikit takut. Anggun tertawa melihat kepanikan di wajah Raka.


"Siapa, Kamu bilang sugar Daddymu sedang di luar kota?" Tanya Raka was-was.


"Kamu takut bangat sih, itu pasti pengantar makanan. Tadi aku pesan makanan karena aku belum makan malam. Kamu juga pasti belum makan malamkan?" Tebak Anggun.

__ADS_1


Raka hanya menganggukkan kepalanya sambil menghidupkan sebatang rokok.


"Ya sudah tunggu sebentar, aku ambil pesanannya dulu." Ucap Anggun sembari memakai bathrobenya.


Ceklek....


Bunyi pintu terdengar diikuti keluarnya seorang wanita yang hanya memakai bathrobe saja.


Sheila tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan cepat ia mendorong pintu apartemen itu agar terbuka lebar, ia bahkan mendorong wanita yang berusaha menghalanginya itu.


Sheila menyisir semua ruangan tamu tapi tidak menemukan suaminya, kemudian matanya tertuju pada sebuah pintu yang sedikit terbuka, dengan langkah cepat ia memasuki ruangan tersebut dan mendapati Raka yang sedang asyik menghisap rokoknya dengan keadaan polos dan hanya tertutup selimut saja.


Raka terkejut melihat Sheila yang kini berdiri di pintu kamar dengan tatapan tajamnya.


"Siapa kamu, berani-beraninya masuk apartemen orang sembarang?" Tanya Anggun.


Mau lanjut lagi gak?


Kalau mau lanjut silahkan di like, komentar, vote dan hadiahnya. Supaya lelah author sedikit terbayar ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2