Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 131 "Semua keputusan ada di tanganmu"


__ADS_3

Raka berangkat ke kantor setelah berdebat dengan Sheila, Laki-laki itu bahkan tidak menghabiskan sarapannya karena sudah tidak berselera lagi, Raka bahkan meninggalkan Sheila dan berangkat ke kantor sendiri. Sedangkan di rumah Arkan semua anggota keluarga sedang sarapan tapi sarapan kali ini terlihat hening, sunyi tanpa ada suara sedikit pun.


"Dara kamu sudah selesai sarapannya nak? Ayo mama bantu siap-siap berangkat sekolah." Ajak Kasih yang tidak ingin berlama-lama di meja makan.


Setelah Dara menganggukkan kepalanya Kasih langsung berdiri dan membawa Dara ke kamar putrinya itu.


Dara sudah siap, baby Ardy juga sudah siap begitu juga Kasih yang sudah tampil cantik dengan polesan makeup tipis yang membuat wanita itu semakin terlihat cantik. Ketiganya kini sedang menuruni tangga dengan perlahan, Arkan yang menunggu sedari tadi menampakkan senyum tipis kala melihat orang yang ia tunggu sudah datang.


"Papa kok masih di rumah, emangnya papa gak kerja. Nanti kalau papa tidak kerja kita tidak punya duit, dan papa gak bisa beliin Dara es cream lagi." ucap bocah itu dengan polosnya.


"Papa kerja kok sayang, tapi papa mau nunggu Mama dan Dara dulu baru papa berangkat." Jawab Arkan.


Kasih yang masih marah kepada suaminya itu segera mengajak Dara keluar " Dara ayo nak, sebentar lagi bus sekolahmu sampai jangan buat mereka menunggu sayang." panggil wanita itu. Dara segera bergegas keluar dan benar saja, baru saja mereka sampai di luar bus sekolah Dara sudah datang. Setelah berpamitan kepada mama dan papanya yang ikut mengantar, barulah ia masuk ke dalam bus sekolah tak lupa bocah menggemaskan itu melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya.


Setelah bus pergi Kasih segera memanggil pak sopir karena hari ini adalah jadwal baby Ardy untuk imunisasi. Melihat istrinya yang ingin pergi Arkan segera mencekal tangan Kasih.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Arkan pada sang istri.

__ADS_1


"Bukan urusanmu" ucap Kasih.


"Tentu urusanku karena kamu adalah istriku dan sepatutnya kamu meminta izinku jika ingin keluar rumah."


"Apa aku masih pantas disebut sebagai istri atau lebih pantas di sebut penghangat ranjangmu. Baiklah jika itu maumu, saya minta izin pergi ke dokter karena Anak saya ingin imunisasi."


"Biar aku yang mengantar kalian," ucap Arkan dan menarik tangan Kasih agar masuk ke mobilnya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Urus saja urusanmu dan saya mohon kedepannya jangan mencampuri urusan saya," ucap Kasih menyentak tangan Arkan.


"Apa maksud kamu? kita itu suami istri, apa yang jadi urusanmu jadi urusanku juga, karena kamu adalah tanggung jawabku."


Arkan mematung mendengar semua perkataan Kasih, ada rasa sakit di hati lelaki itu mendengar kata pengajuan gugatan ke pengadilan, Arkan yang sudah terbiasa dengan kehadiran Kasih dan anak-anaknya seolah tak rela melepas wanita itu, tanpa Arkan sadari rasa cinta itu sudah tumbuh walau masih sangat kecil.


Arkan masih berdiri di halaman rumahnya sembari menatap kepergian istrinya, papa Arman yang sedari tadi melihat pertengkaran itu mendekati Arkan "Semua keputusan ada di tanganmu nak, jika kamu memilih Kasih maka belajarlah mencintai Kasih dan move on dari masa lalunya, bukan berarti kamu melupakan cukup simpan kenangan itu di sudut hatimu beri sedikit tempat untuk menyimpannya dan berikan ruang yang lebih besar di hatimu untuk Kasih karena kamu akan hidup dengannya bukan dengan masa lalu, yakinlah kamu akan bahagia mempunyai istri seperti Kasih. Kalian adalah dua orang yang sama-sama terluka karena masa lalu, seharusnya kalian bukan saling menyakiti tapi saling menyembuhkan, lihatlah istrimu yang sudah mulai membuka hatinya untukmu jangan terus kau sakiti hatinya karena kalau sudah lelah pasti ia akan pergi. Kasih bukan wanita yang selalu bergantung dengan Laki-laki jadi sangat mudah baginya hidup tanpa Laki-laki." ucap papa Arman memberi nasehat.


Setelah mendengar nasehat papanya Arkan berangkat ke kantor karena Rendy sudah menghubunginya sembari mengingatkan kalau sebentar lagi akan ada jadwal rapat.

__ADS_1


Ketika rapat berlangsung baik Arkan dan Raka tidak fokus keduanya sedang memikirkan wanita yang sama, jika Arkan memikirkan semua ucapan Kasih dan Papanya lain hal dengan Raka yang memikirkan mantan istrinya itu, penyesalan yang semakin hari semakin dalam di rasakan Raka. Karena tidak bisa fokus Arkan menyuruh Rendy untuk tidak melanjutkan rapat itu, Arkan langsung keluar dari ruang rapat dan berjalan memasuki ruangannya tak lupa Sang asisten yang mengekorinya.


Melihat kelakuan bosnya membuat Rendy seolah menebak apa yang terjadi dengan bosnya hingga sampai tidak fokus kerja, ini bukan tipe seorang Arkan. Melihat Arkan yang duduk sembari memijat pelipisnya membuat Rendy gatal untuk bertanya "Apa pak bos sedang ada masalah?" tanya Rendy.


"Hmmm" Jawab Arkan


"Kalau boleh saya tahu Masalah apa pak bos? siapa tahu saya bisa bantu." tanya Rendy kembali.


Arkan menceritakan semua permasalahan rumah tangganya kepada Rendy, sahabat yang merangkap jadi asistennya. Rendy yang sudah mengetahui duduk persoalannya kemudian mengeluarkan pendapatnya sendiri dan berharap kali ini bos sekaligus sahabatnya itu bisa menerima nasehatnya agar lelaki itu tidak menyesal di kemudian hari.


"Kalau menurutku, apa yang di katakan papa Arman itu sangat benar, kamu jangan egois karena kamu bukan hidup dengan Rena tapi dengan Kasih. Jadi belajarlah mencintai istrimu, pantas saja mbak Kasih marah aku saja yang mendengar kamu salah menyebut nama saja sudah emosi tingkat tinggi, Sepertinya kamu butuh tenaga ekstra untuk membujuk istrimu lagi. Selamat berjuang pak bos." ucap Rendy mengejek kemudian meninggalkan ruangan bosnya tanpa peduli dengan Arkan yang mengumpatnya habis-habisan karena sudah berani mengejek dan menertawakan seorang Arkan.


Like


Komentar


Vote

__ADS_1


Hadiah


Terima Kasih sudah membaca karya author pemula, mohon maaf jika masih banyak kesalahan, terima kasih.


__ADS_2