
Arkan membangunkan Kasih yang masih tertidur karena mereka akan pulang, dengan malas Kasih terpaksa membuka matanya, ia melihat sekelilingnya kemudian dan baru mengingat kalau ia tadi berada di ruangan suaminya. Kasih yang terkejut langsung melihat jam di dinding yang menunjukkan jam 17.00"Astaga kenapa aku bisa tidur selama itu, maaf ya mas." ucap Kasih.
"Kenapa harus minta maaf, kamu tidak salah. Ayo kita pulang atau kamu ingin kita menginap di sini?" tanya Arkan yang langsung dibalas gelengan kepala istrinya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo" ajak Arkan.
"Tunggu sebentar mas, aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Kasih beralasan padahal ia ingin melihat tampilannya. Apakah masih layak atau tidak, jangan sampai dia keluar dengan penampilan berantakan, ia tidak ingin membuat Arkan malu.
Setelah keluar dari kamar mandi kasih langsung mengajak Arkan untuk pulang karena Kasih sudah merindukan kedua buah hatinya.
Arkan meraih tangan istrinya agar mereka bergandengan, mereka bergegas pulang meninggalkan kantor. Banyak karyawan yang tak menyangka kalau bosnya yang sedingin es itu bisa hangat juga kepada istrinya.
Ada sepasang mata yang memperhatikan pasangan suami istri itu dari tadi, tidak menyangka kalau wanita yang dulu sangat mencintainya itu bisa move on dengan cepat dari dirinya. Raka hanya bisa meratapi penyesalannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
...*****...
"Papa, mama.... buka pintunya Dara mau masuk, mama papa kenapa pintunya di kunci." teriak Dara dari luar.
Sedangkan di dalam kamar Arkan harus mengurungkan niatnya untuk melakukan olah raga pagi bersama istrinya, Arkan turun dari ranjang kemudian memasang bajunya tak lupa memungut baju sang istri yang sudah mendarat di lantai akibat dari perbuatannya "Cepat pakai baju kamu, biar aku yang bukain pintu." suruh Arkan.
__ADS_1
"Maaf ya mas, Gara-gara Dara kita gagal lagi. maafin anak aku mas." ucap Kasih merasa tidak enak karena suaminya yang tadinya semangat 45 kini terlihat kecewa.
"Kamu ngomong apa sih, bukan anak kamu tapi anak kita dan satu lagi jangan minta maaf, aku gak marah cuma sedikit kecewa. Sebagai gantinya nanti malam kita harus lembur."
Kasih hanya menganggukkan kepalanya tak ingin suaminya kecewa lagi, Arkan membuka pintu kamarnya setelah Kasih selesai memakai bajunya "Papa ganteng kenapa lama buka pintunya, papa sama mama lagi ngapain di dalam?" tanya Dara yang sudah kepo.
"Papa dan mama tadi tidur sayang, makanya lama buka pintunya karena papa dan mama tidak dengar." ucap Arkan berbohong, dalam hati ia berdoa agar putrinya tidak lagi banyak bertanya. Dara yang masih polos hanya ber-oh ria saja sembari menaiki ranjang orang tuanya, ia menghampiri mamanya yang terduduk di ranjang gadis kecil itu memeluk mamanya dan memberikan ciuman selamat pagi "Selamat pagi mama cantik, Dara sayang mama" ucap Dara yang membuat Arkan protes.
"Jadi sekarang anak papa yang cantik ini cuma sayang sama mama cantik saja, kalau begitu papa ngambek aja deh. Papa gak mau temanin Dara berenang lagi." ucap Arkan duduk di samping istrinya dengan wajah yang cemberut .
Dara langsung melepaskan pelukannya dari Kasih dan segera memeluk Arkan karena takut tidak akan diajari berenang lagi "Papa jangan ngambek dong, Dara juga sayang papa ganteng. Dara datang ke sini buat ajak papa berenang, ini kan hari Minggu jadi papa tidak kerja papa mau kan?"
tanpa menunggu lama bibir imut nan menggemaskan itu sudah mendarat di pipi Arkan "Selamat pagi papa Ganteng, Dara juga sayang bangat sama papa ganteng jadi jangan ngambek lagi ya." bujuk Dara.
"Oke tuan putri papa yang cantik, hari ini papa akan menemani tuan putri papa berenang, tapi setelah kita sarapan dulu ya sayang." ucap Arkan mencium kembali pipi putri sambungnya itu.
"Oke papa ganteng," ucap Dara kemudian turun dai pangkuan Arkan, Dara kembali memeluk mamanya sedangkan Arkan ingin ke kamar mandi, tapi belum sempat ia berdiri dari duduknya sebuah pertanyaan keramat keluar dari mulut mungil Dara "Mama kenapa leher mama merah-merah, apa mama sakit?" tanya Dara yang sudah hampir menangis.
Kasih dan Arkan bingung memberi penjelasan kepada Dara, bocah itu sudah menangis karena takut mamanya kenapa-napa "sssst... jangan nangis sayang mama gak sakit kok, tadi malam papa lupa menutup jendela dengan benar makanya nyamuknya pada masuk ke kamar papa, jadinya mama kena gigit nyamuk deh tapi Dara tidak usah khawatir tadi papa sudah memberi obatnya jadi mama tidak apa-apa deh." Tutur Arkan yang tiba-tiba mendapatkan ide menjawab pertanyaan keramat sang anak.
__ADS_1
Dara berhenti menangis "Mama apa yang di bilang papa itu benar mama tidak sakit?" tanya bocah itu sembari mengelap ingusnya.
Kasih menganggukkan kepalanya, kemudian mereka bisa bernapas lega karena Dara sepertinya percaya dengan jawaban yang di berikan suaminya.
"Papa bilang papa lupa menutup jendela, tapi kenapa cuma mama saja yang di gigit nyamuk, Dara lihat papa tidak ada di gigit nyamuk, tidak ada merah-merah seperti di leher mama?" tanya Dara kembali.
"Oh itu,,, pa... papa eh, nyamuknya tidak suka sama papa karena darah papa pahit." jawab Arkan asal karena cuma itu yang terlintas di otaknya, dalam hati Arkan berkata "Begini nih kalau punya anak otaknya terlalu encer, kalau ada yang di tanya pasti sampai ke akarnya."
Kasih menyuruh Arkan untuk membersihkan diri ke kamar mandi sementara Dara sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar menunggu mamanya yang sedang membereskan tempat tidur. Dara mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar orang tuanya dan matanya menatap foto yang terpajang di dinding kamar tersebut ada foto papanya dan seorang wanita memakai baju pengantin mirip seperti baju yang dipakai mamanya waktu pesta pernikahan mama dan papanya, ada juga foto papanya dengan seorang perempuan yang menggendong bayi, Dara yang memang rasa ingin tahunya yang tinggi segera menanyakan hal itu kepada Kasih.
"Mama siapa Tante dan adik bayi yang berfoto dengan papa?" tanya Dara yang membuat Kasih bingung menjelaskannya.
"Sayang yang berfoto dengan papa itu adalah istri dan anaknya papa, papa juga punya istri dan anak dulu sama seperti Dara yang memiliki papa Raka." jawab Kasih.
"Tapi kenapa mereka tidak ada di sini tinggal bersama kita ma, apa Tante itu juga jahat seperti papa raka?"
"Karena mereka sudah berada di surga sayang, Tante itu tidak jahat kok sayang tapi Tante dan adik bayinya sudah bobo di surga jadi tidak bisa tinggal bersama kita lagi." Tutur Kasih menjelaskan.
Sementara Arkan yang baru selesai dari kamar mandi mematung mendengar percakapan antara anak dan ibu itu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.