
Sudah beberapa hari Kasih di rawat di rumah sakit keadaannya sudah membaik bahkan hari ini ia sudah bisa pulang ke rumah tapi Kasih harus berpisah dari putranya karena belum bisa membawa anak keduanya itu pulang.
Dokter mengatakan kalau kondisi bayinya belum stabil dan masih butuh perawatan kira-kira satu minggu lagi.
Mertua Kasih memutuskan akan tinggal di rumah Raka selama Kasih dalam masa pemulihan, mereka tidak mau anaknya bertingkah bodoh kepada menantunya itu.
Kedua mertua Kasih bahkan berjanji akan mendampinginya sampai putusan pengadilan menyatakan Kasih dan Raka resmi bercerai.
Setelah pembicaraan mereka pagi hari itu, papa Adi sudah memusyawarahkan kepada kedua anaknya tentang keinginan Kasih yang ingin berpisah. Riko dan Rian hanya bisa mendukung keputusan adik iparnya itu walau di hati mereka merasa berat melepaskan Kasih.
Bahkan papa Adi sudah menghubungi temannya yang berprofesi sebagai pengacara untuk menjadi pengacara Kasih dalam kasus perceraian ini.
Sedangkan Raka memilih tidak pulang ke rumah setelah kejadian itu, dia terus menginap di apartemen Sheila bahkan satupun dari pihak keluarganya tidak ada yang mencari atau menghubunginya. Keluarga Raka bukannya tidak tahu dimana Raka berada tapi dengan tingkah Raka yang seperti ini membuat Kasih semakin mudah menuntut Raka.
Kini Kasih sudah sampai di rumah dengan kedua mertuanya.
"Mama" ucap Dara berlari memeluk mamanya yang sudah beberapa hari ia tidak bertemu.
"Mama mana adik bayinya, kok mama pulang sendiri terus papa mana mama?" Tanya Dara yang tidak melihat papanya.
Kasih membalas pelukan putrinya itu. Mendengar pertanyaan Dara membuat air matanya menetes lagi karena sebentar lagi anaknya itu akan kehilangan Kasih sayang papanya.
"Mama kenapa menangis?" tanya Dara.
"Mama lagi sedih sayang karena adik bayi belum bisa di bawa pulang kata dokter kita bisa bawa adik bayi satu Minggu lagi. Nanti ikut mama jemput dedek bayi ya sayang. Kalau papa sedang bekerja di luar kota sayang makanya papa gak ikut pulang sama mama." Ucap Kasih berbohong.
Dia tidak mau memberi tahu keadaan yang sebenarnya, karena Dara masih terlalu kecil untuk memahami itu.
Mama Dewi sangat telaten merawat menantunya itu semua keperluan Kasih dia siapkan, bahkan mencuci pakaian dalam menantunya itu dia lakukan yang seharusnya Raka lah yang mengerjakan itu.
Tapi dengan Teganya anaknya itu tidak pulang-pulang dan malah sibuk dengan selingkuhannya itu.
...*****...
__ADS_1
"Risma kamu dimana sudah siap belum? Ayo buruan keburu sore ini." Panggil nenek Murni.
Kasih memang sudah menghubungi mereka dan menceritakan semuanya dan hari ini mereka akan pergi menjenguk Kasih ke rumahnya.
"Iya Bu, aku tadi ke toilet dulu. Ayo kita berangkat sekarang." Ajak mama Risma.
"Jangan lupa nanti kita mampir di toko buah membeli buah untuk Kasih." Ucap nenek Murni mengingatkan menantunya itu.
"Iya Bu." Jawab mama Risma.
Setiba di rumah Kasih mama Risma dan Nenek Murni di sambut mertua Kasih.
"Silahkan masuk Bu, Kasih ada di kamar." Ucap mama Dewi mempersilahkan tamu mereka masuk.
Kasih memang sudah mengatakan kepada mertuanya siapa nenek Murni dan mama Risma. Kasih mengatakan pernah menolong nenek Murni sehingga mereka sangat akrab sampai sekarang.
Setelah mengantar Tamu menantunya itu ke dalam kamar Kasih, mama Dewi pamit ke dapur untuk memasak. Ia juga tidak ingin menganggu menantunya itu. Mungkin saja keberadaannya di sana membuat Kasih canggung untuk mengobrol.
"Kamu harus sabar ya sayang, mungkin ini ujian yang di berikan Allah. Nenek yakin Allah sudah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik di masa depanmu. Kamu jangan takut Allah akan selalu menjagamu, soal anak-anak kamu tidak usah takut Allah sudah mengatur rezeki Mereka." Ucap nenek Murni yang menenangkan Kasih.
"Kalau kamu butuh sesuatu atau bantuan jangan sungkan bilang sama Tante. Jadi apa langkahmu selanjutnya nak?" Tanya mama Risma.
"Aku akan menggugat suamiku Tante." Ucap Kasih.
"Apa kamu butuh pengacara nak?" tanya mama Risma.
"Tidak Tante karena papa mertua aku sudah menyiapkan pengacara untuk melawan suamiku." Jawab Kasih.
Setelah puas bercerita tidak terasa hari sudah mulai gelap. Nenek Murni dan mama Risma pamit kepada Kasih dan mertuanya.
"Kami pamit dulu ya mba sudah mau malam." Ucap mama Risma kepada mama Dewi.
"Aduh kok buru-buru mba, kita tidak makan malam dulu baru pulang saya sudah memasak loh mba." Ucap mama Dewi.
__ADS_1
"Aduh, tidak usah repot-repot mba lain kali saja." Tolak mama Risma dengan sopan.
Setelah di mobil mama Risma memberi usul kepada mertuanya.
"Bu, bagaimana kalau Kasih saja yang kita jodohkan dengan Arkan?" Usul mama Risma.
"Astaga ris, kamu ada-ada saja. Kasih itu masih istri orang belum resmi bercerai." Ucap nenek Murni.
"Sebentar lagi kan Kasih akan cerai Bu. Bukannya ibu yang bilang Kasih itu tipe istri yang sempurna daripada di ambil orang, mending kita susun strategi mulai sekarang." Tutur mama Risma.
"Memangnya kamu tidak malu punya menantu janda anak 2, Kasih juga berasal dari wanita biasa. Nanti kamu di ejek sama teman-teman kamu." ucap nenek Murni menguji menantunya itu.
"Kenapa harus malu bu, walaupun Kasih janda tapi dia janda terhormat orang dia tidak berbuat salah yang salah mantan suaminya. Kalau soal anak Aku malah senang nanti di rumah kita jadi ramai. Bukannya kita untung kalau menjadikan Kasih istrinya Arkan Bu. Ibarat beli satu gratis 2 Bu." Ucap Mama Risma tertawa.
"Kamu ini bisa saja, ibu juga ingin Kasih yang menjadi pendamping Arkan. Tapi kita jangan bicarakan ini sekarang kepada Kasih. Nanti setelah ia resmi bercerai pelan-pelan kita bicarakan yang penting sekarang kita jaga saja jangan sampai di tikung orang." Tambah nenek Murni.
...*****...
Beberapa hari kemudian kini Kasih sedang duduk di ruang tamu bersama papa Adi, mama Dewi dan seorang pengacara. Beliau adalah teman papa Adi yang akan mengurus Kasus perceraian Kasih.
"Mas Adi sudah memberitahukan perkara kamu menggugat suami kamu dengan alasan hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Jadi dalam Kasus ini apa yang kamu inginkan?" tanya pengacara.
"Saya menginginkan ketika bercerai hak asuh anak jatuh kepada saya itu saja pak." Jawab Kasih.
"Kasih kamu juga harus menuntut harta Gono gini dan nafkah kedua anakmu." Ucap papa Adi.
"Benar nak, itu kewajiban Raka. Biar si pelakor tahu rasa kalau Raka masih ada tanggungan kalau kalian sudah cerai." Tambah mama Dewi.
"Apa kamu mempunyai bukti yang memudahkan kita memenangkan perkara ini?"
Jangan lupa like, komentar, vote dan Hadiahnya agar author tetap semangat dan rajin up-nya.
Terima Kasih.
__ADS_1