
Sementara Arkan yang baru selesai dari kamar mandi mematung mendengar percakapan antara anak dan ibu itu, Arkan kemudian mendekati anak dan istrinya "Lagi ngomongin apa sih, sepertinya serius sekali?" tanya arkan pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
Kasih sangat terkejut mendengar pertanyaan suaminya, ia takut kalau Arkan akan marah karena mereka sudah membahas almarhumah istri dan anaknya. Kasih terdiam mulutnya seolah terkunci karena takut akan kemarahan suaminya, sedangkan Dara yang masih polos dengan cepat menjawab apa yang di tanyakan oleh papanya "Dara tadi tanya sama mama siapa Tante dan adik bayi yang ada di foto ini pa, mama bilang kalau itu istri dan anak papa dan mama bilang kalau mereka sudah ada di surga jadi tidak bisa tinggal bareng kita lagi, apa yang di katakan mama itu benar pa?" Dara mengulang apa yang di katakan mamanya tadi.
Detak jantung Kasih bertambah cepat bukan karena jatuh cinta tapi karena takut akan kemarahan sang suami, apalagi ada Dara di antara mereka. Kasih tidak mau putrinya itu melihat papa sambungnya marah yang akan membuat Dara ketakutan.
Kasih baru bisa bernapas lega ketika Arkan menggendong Dara dan mengatakan apa yang di katakan Kasih itu benar "Iya sayang, apa yang mama katakan itu benar Tante dan adik bayinya sudah bahagia di surga." ucap Arkan sambil mengusap rambut lurus Dara.
"Papa nanti kita juga foto sama mama, papa, Dara dan adik Ardi ya, baru deh fotonya di pajang seperti ini." pinta Dara dengan polos.
Sementara kedua manusia dewasa yang mendengarnya hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, Kasih terdiam karena takut Arkan marah dan merutuki mulut Putrinya yang lancar jaya seperti tidak ada remnya. Berbeda dengan Kasih, Arkan kini sedang hanyut dalam pikirannya mendengar permintaan putri sambungnya itu Arkan berjanji akan mengabulkan permintaan Dara dan ada sedikit rasa bersalah dengan istrinya karena masih memasang foto almarhumah istri pertamanya di kamar mereka, tapi ego di hati Arkan lebih mendominasi sehingga perasaan bersalah itu di tepis toh sampai saat ini Kasih tidak pernah protes pikirnya.
Tak ingin anaknya semakin banyak bicara Kasih segera mengajak keduanya untuk turun ke bawah "Dara udah dong sayang jangan aneh-aneh permintaannya, mas apa yang Dara ucapkan gak usah kamu turuti biasalah anak kecil banyak maunya." ucap Kasih.
"Apanya yang aneh Kas, permintaan Dara itu wajar kok dia ingin memiliki foto keluarga dan papa akan mengabulkan permintaan Dara nanti siang kita ke studio foto untuk foto keluarga." ucap Arkan yang membuat Dara berteriak karena senang.
Ketiganya kini menuruni anak tangga dengan Dara yang masih ada di gendongan Arkan kemudian di ikuti oleh Kasih yang berjalan di samping keduanya.
__ADS_1
Pagi itu semua keluarga sedang sarapan dengan tenang di meja makan, tapi nenek Murni merasa ada yang aneh dengan cucu menantunya itu "Kasih kamu sakit nak?" tanya nenek Murni melihat Kasih mengenakan sweater turtleneck padahal cuaca tidak dingin .
Kasih menggelengkan kepalanya tetapi Dara mengeluarkan suaranya "mama bohong nek, mama Dara sakit kok, kata papa mama digigit nyamuk makanya lehernya mama merah-merah." adu Dara yang membuat semua orang tersenyum penuh arti sedangkan Kasih dan Arkan terlihat salah tingkah dan menahan malu karena mereka yakin ketiga manusia yang sedang menertawakan mereka sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh... jadi mama di gigit nyamuk besar ya Dara, pasti nyamuknya ganas sekali itu sampe bikin leher mama kamu merah-merah begitu." tambah mama Risma.
"Iya nek, leher mama banyak bangat merah-merahnya, makanya papa nanti malam jangan lupa menutup jendela biar nyamuknya gak masuk kamar mama dan papa." titah Dara.
Melihat anak dan menantunya yang sudah memerah membuat papa Arman menegur mama Risma agar tidak membahas itu lagi, sedangkan Kasih sudah malu setengah mati. Ingin rasanya Kasih menghilang dari peredaran karena menahan malu.
Selesai sarapan Kasih pergi ke kamar baby Ardy melihat anak keduanya yang sedang bersama Sarti, sesampai di kamar Ardi kasih menyuruh Sarti untuk sarapan sedangkan Kasih menghabiskan waktu dengan Ardi. Arkan dan papa Arman sedang duduk di teras rumah, ayah dan anak itu sedang berbincang-bincang mengenai perusahaan, mengingat kejadian di meja makan membuat papa Arman memberi nasehat kepada putranya "Nak kalau bisa kalian jangan ceroboh seperti tadi jangan sampai Dara memergoki kalian, untung kalian bisa memberi alasan kepadanya kalau kalian tertangkap basah gimana? Dara itu anaknya cerdas, jadi kalian hati-hati kalau sedang ingin itu. Bagaimana kalau kalian bulan madu dulu agar kamu bisa puas berduaan tanpa gangguan anak-anak." usul papa arman.
sedang Dara yang sudah tidak sabar ingin berenang, ia mencari papanya ke sana kemari tapi tidak ketemu, hingga ia bertanya kepada Sarti yang sedang sarapan "Mba, apa mba tau dimana papa gantengnya Dara?" tanya Dara.
Sarti yang memang melihat kalau majikannya itu sedang berbincang di teras segera menunjuk ke arah teras.
Dara yang senang menemukan papanya langsung berlari ke teras setelah ia mengucapkan terimakasih kepada pengasuhnya itu.
__ADS_1
"Papa...." Teriak Dara berlari mendekati Arkan.
"Hati-hati sayang awas jatuh." ucap Arkan yang mengkhawatirkan putri sambungnya itu.
"Papa ayo kita berenang, papa tadi sudah janji mau mengajari Dara berenang." pinta Dara yang sudah merengek.
"Oke. Kita akan berenang supaya anak papa ini jago berenang."
Keduanya pergi meninggalkan papa Arman yang tertawa melihat tingkah lucu ayah dan anak itu. Papa Arman juga bahagia dengan kehadiran Kasih dan kedua anaknya membuat rumah mereka lebih berwarna dan hidup, orang-orang yang ada di dekatnya juga lebih bahagia, senyum istri dan ibunya selalu ia lihat setelah Arkan menikah kembali, sedangkan Arkan menjadi lebih hangat walaupun belum sepenuhnya tapi ia lebih sering berada di rumah dan sesekali tersenyum melihat kelakuan Dara.
Kasih mendatangi kolam renang dimana anak dan suaminya sedang asyik berenang. Sejenak Kasih melihat kebersamaan suami dan anaknya, keduanya tertawa bersama di mana Arkan dengan sabarnya mengajari Dara berenang, seutas senyum muncul karena Arkan sangat menyayangi kedua anaknya.
"Mas, Dara udahan berenangnya kalian sudah lama sekali berenangnya nanti Dara sakit lagi." ucap Kasih mengingatkan.
Keduanya kini menghampiri Kasih dan baby Ardi yang ada di gendongan Kasih.
"Aduh jagoan papa sudah ganteng." ucap Arkan sembari mencium pipi montok baby Ardi.
__ADS_1
"Kasih habis ini kita dan anak-anak jalan keluar yuk?" ajak Arkan.
Jangan lupa like, komentar, vote, dan, hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.