Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 47 "Menolong nenek Murni"


__ADS_3

"Maaf Bu, kita sudah sampai di tujuan." Ucap supir taksi menyadarkan Kasih dari lamunannya.


"Oh iya pak terima Kasih, Berapa pak?" tanya Kasih.


Setelah selesai membayar ongkos taksi mereka, Kasih dan putrinya masuk kedalam klinik menunggu antrian ternyata cukup banyak pasien hari ini.


Kasih merasa sedih ketika melihat ibu-ibu hamil di sekelilingnya yang di temani suaminya, ada rasa sakit di hatinya kepada Raka yang sudah berjanji menemaninya kontrol tapi tiba-tiba Raka membatalkannya.


Setetes air mata Kasih turun dengan sendirinya membasahi pipinya, ia segera menghapusnya karena tak ingin orang lain melihatnya.


Tiba-tiba ada seorang perempuan yang memanggil Kasih, setelah menoleh ke arah suara tersebut ternyata Sari istri kakak iparnya yang kedua.


"Kamu lagi kontrol Kas, sama siapa Raka dimana kok gak keliatan?" tanya Sari.


"Mas Raka sedang sibuk mba, banyak kerjaan katanya makanya gak bisa ikut." Ucap Kasih


Mendengar penuturan adik iparnya, Sari merasa Kasihan seharusnya Raka lebih peduli dan perhatian kepada istrinya apalagi Kasih sedang mengandung. Dalam hati Sari mengumpat adik iparnya tersebut, "Sesibuk apa sih kerjaan si Raka, sampai menemani Kasih tidak sempat. Biasanya dia gak akan membiarkan Kasih pergi sendirian apa jangan-jangan dia sudah, ah sudahlah tidak baik berburuk sangka pada orang."

__ADS_1


"Kalau mba sedang apa disini apa mba hamil lagi?" tanya Kasih.


Mendengar pertanyaan Kasih, Sari tertawa.


"Bukan mba yang hamil tapi teman mba, suaminya lagi Dinas di luar kota makanya minta di temani sama mba." Tutur Sari.


Sambil menunggu namanya di panggil Kasih dan Sari mengobrol. Sari sudah bersikap baik kepada Kasih, dia sadar Kasih memang wanita yang baik, dan penurut makanya mertuanya sayang kepada Kasih. Apalagi setelah mendengar nasihat dari suaminya agar membuang sifat iri yang ia miliki karena itu tidak baik untuknya.


Sebelum pulang Kasih dan putrinya tidak langsung pulang, mereka singgah sebentar di supermarket untuk berbelanja.


Tapi hari ini menantunya tersebut sedang tidak enak badan terpaksa nenek Murni pergi sendiri dan hanya di antar supir.


Ketika sedang asyik memilih belanjaannya Kasih melihat seorang nenek yang sedang memegangi kepalanya, tak tega melihatnya Kasih segera menghampiri nenek tersebut.


"Nenek kenapa, apa nenek sedang tidak enak badan?" tanya Kasih.


"Iya nak, tiba-tiba kepala nenek pusing" ucap nenek Murni lemah.

__ADS_1


Melihat wajah nenek Murni yang pucat Kasih mengajak nenek Murni untuk duduk di luar supermarket kebetulan di sana ada kursi.


Nenek Murni yang sudah tidak tahan dengan rasa pusingnya hanya dapat menganggukkan kepala.


"Nek, sebaiknya kita ke rumah sakit aku takut nenek kenapa-kenapa, nenek kesini sama siapa?" tanya Kasih.


Belum sempat nenek Murni menjawab pertanyaan Kasih,tiba-tiba datang seorang pria paruh baya menghampiri mereka dan langsung menanyakan keadaan nenek Murni.


"Nyonya tidak apa-apa? tanya pria tersebut yang ternyata supir nenek Murni.


"Saya pusing pak Budi, kita sebaiknya ke rumah sakit." suruh nenek Murni.


"Baik nyonya" ucap pak Budi.


"Nak maukah kamu ikut mengantarkan saya ke rumah sakit?" tanya nenek Murni.


Entah kenapa nenek Murni sangat tertarik dengan wanita yang sedang hamil tersebut, ia merasa wanita itu sangat cocok untuk Arkan.

__ADS_1


__ADS_2