
Suasana di dalam persidangan semakin tegang kala hakim ingin memutuskan Kasus perceraian Kasih dan Raka.
Setelah pembacaan keputusan hakim, terlihat wajah lega Kasih karena ia memenangkan hak asuh anak dan hari ini ia dan Raka resmi bercerai. Kasih dapat memenang kasus ini Karena bukti dan saksi yang di hadirkan Kasih sangat memberatkan Raka sehingga ia tidak bisa mengelak, walaupun Raka berusaha merebut hak asuh anak dengan alasan takut kehidupan anaknya tidak terjamin karena sang ibu tidak bekerja tidak di terima hakim karena walaupun Raka memiliki pekerjaan tapi perbuatannya berselingkuh di anggap tidak baik dan ia tidak layak mengasuh anak-anaknya, hakim memutuskan bahwa hak asuh jatuh pada ibu tetapi ayah harus memberikan nafkah kepada kedua anaknya setiap bulan dan ayah boleh bertemu anaknya dan ibu tidak boleh mempersulit hal ini dan hakim memutuskan harta Gono gini yang di miliki Raka dan Kasih hanya rumah saja, Raka dan Kasih sepakat akan menjual rumah tersebut dan hasilnya di bagi dua.
"Selamat ya sayang kamu sudah memenangkan perkara ini." Ucap mama Dewi memeluk mantan menantunya itu.
"Terima kasih ma, Karena mama dan keluarga selalu ada di samping aku dan selalu mendukung keputusan aku." Jawab Kasih.
Kasih dan keluarga Raka keluar dari ruang sidang tersebut begitu juga dengan Raka ia keluar bersama pengacaranya dengan langkah pelan, ada perasaan aneh di hatinya ia seolah tidak rela melepas Kasih. Sebenarnya ia tidak ada niat untuk menceraikan Kasih tapi Raka ingin berpoligami karena ia sudah tidak bisa meninggalkan Sheila, tentu itu tidak akan pernah di setujui mantan istrinya itu.
Sampai di luar Raka di sambut oleh Sheila, ia langsung menghampiri Raka dan bertanya bagaimana hasil persidangannya.
"Bagaimana hasilnya mas, apa mas sudah resmi bercerai?" tanya Sheila dengan manja sambil memeluk Raka.
Raka yang merasa malu atas perlakuan Sheila segera melepaskan pelukannya Sheila apalagi di sana masih ada mantan istrinya dan keluarganya.
Bukan Raka yang menjawab pertanyaan Sheila tapi Sari kakak iparnya Raka. Sari yang terkenal dengan mulut pedasnya langsung gatal ingin menyemprot pelakor tersebut dengan beraninya ia berkata "Dasar wanita gak tahu malu, urat malunya sudah putus kali. Bangga bangat jadi perusak rumah tangga orang, masih punya muka kamu muncul di sini. Dasar wanita gatal minta garuk ke suami orang, emang situ gak laku sampai harus sama suami orang." Sindir Sari.
__ADS_1
"Sari sudah nak, kamu gak usah ladeni mereka buang-buang tenaga dan waktu. Ayo kita pergi" Ucap mama Dewi.
Tiba-tiba Raka meraih tangan mamanya itu "Ma, mama kenapa ngomong seperti itu, bagaimana pun sebentar lagi Sheila akan menjadi menantu mama juga, jadi Raka mohon mama bisa menerima Sheila dengan baik." pinta Raka.
"Iya ma, Sheila bakal janji jadi menantu yang lebih baik dari mantan istrinya mas Raka." Ucap Sheila dengan tidak tahu malu.
Mendengar permintaan dua orang di hadapannya membuat mama Dewi tersenyum mengejek.
"Jangan panggil saya mama, saya tidak Sudi punya menantu seperti kamu. Wanita penghancur rumah tangga orang, wanita yang menyebabkan dua orang anak yang tidak berdosa kehilangan Kasih sayang ayahnya. Jadi sampai saya mati pun saya tidak akan pernah merestui kalian dan ingat walaupun kamu menikah dengan bajingan ini jangan harap kamu akan bahagia, kamu akan di bayang-bayangi rasa takut kehilangan karena kamu mendapatkannya dengan cara mencuri. Jangan harap kamu akan bahagia di atas penderitaan wanita lain, karena ulah kalian ada 3 hati yang hancur. Ingat Karma itu selalu ada." Ucap mama Dewi.
"Benar papa dan mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian Raka, karena hubungan kalian di awali dengan kesalahan. Ingat kata-kata papa ini Raka suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal karena telah menyakiti Kasih demi wanita ini dan di saat itu kamu hanya bisa menangisi kebodohan kamu." Ucap papa Adi yang membuat Raka terdiam.
"Jangan di nikahi bukannya yang haram lebih enak, kalau sudah di halalkan Abang takut nanti jadi hambar kas. Otw janda lagi ni cewek." Ucap Riko yang mulutnya sama pedas dengan sang istri.
Sesampai di rumah Kasih segera membereskan barang-barangnya dan anak-anak. Kasih sudah menyewa sebuah ruko dimana di lantai satu ia akan membuat tempat usahanya dan lantai dua akan menjadi tempat tinggalnya. Kasih memang memiliki sedikit simpanan dan di tambah mertua dan kedua kakak iparnya memberi sedikit bantuan agar Kasih dapat menyewa ruko tersebut. Kasih juga sudah berencana hasil pembagian harta Gono gini mereka akan Kasih buat untuk modal usaha dan di tabung sebagian untuk jaga-jaga di kemudian hari.
Kasih juga sudah menghubungi nenek dan abangnya di kampung memberitahu kalau ia sudah bercerai dengan Raka. Awalnya sang Abang marah dan ingin menyusul Kasih ke Jakarta untuk memberi pelajaran untuk Raka tapi Kasih melarang ia sudah ikhlas dan lega bisa terbebas dari hubungan gila itu.
__ADS_1
Kasih juga mengatakan kepada nenek dan abangnya kalau mereka tidak pernah khawatir karena di sini banyak orang yang menjaga dan menyayangi mereka, tapi walau begitu nenek Kasih masih cemas dan kekeh ingin menyusul Kasih ke Jakarta. Kasih yang tidak bisa menolak lagi terpaksa mengiyakan niat neneknya itu.
Nenek Kasih langsung teringat dengan sahabatnya Murni yang tinggal di Jakarta juga, ia segera menghubungi dan mengatakan kalau ia akan berangkat ke Jakarta guna Menjenguk cucunya yang baru saja bercerai, nenek Kasih bahkan mengajak nenek Murni untuk bertemu dan di sambut baik oleh nenek Murni.
Sedangkan Kasih melanjutkan kegiatannya mengemasi barang-barangnya karena besok ia akan menempati rumah barunya dan jangan lupakan Kasih di bantu dengan mertua dan keluarga Raka.
...*****...
Di ruangannya kini Arkan sedang termenung memikirkan perkataan nenek dan mamanya yang mengatakan sudah menemukan calon istri yang cocok untuk dirinya.
Bahkan ia sudah tahu siapa yang akan menjadi istrinya kelak.
Arkan tidak habis pikir ia akan di jodohkan dengan wanita hamil yang ia tolong itu bahkan anak yang dia azani waktu itu sebentar lagi akan menjadi anak sambungnya.
"Haduh mama dan nenek ada-ada saja, mereka menjodohkan ku dengan wanita yang baru saja bercerai bahkan masa Iddahnya saja belum habis tapi mereka sudah merencanakannya, apa wanita itu akan mau menerima perjodohan ini. Kalau pun ia menerima itu akan mempermudah jalanku karena aku yakin wanita itu masih mencintai mantan suaminya dan masih terluka dengan begitu aku akan mudah mengatakan kalau aku hanya akan memenuhi kebutuhannya dan anaknya, tapi tidak untuk mencintainya." Ucap Arkan dalam hati.
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih.