
Rian dan keluarganya segera meninggalkan restoran tersebut. Raka hanya dapat melihat kepergian putrinya itu, Kata-kata yang di ucapkan Dara masih terus berputar di kepalanya. Raka tidak menyangka kalau akhirnya ia akan di benci oleh darah dagingnya sendiri. Sungguh sangat sakit melihat tangisan sang anak terutama saat kata kebencian itu keluar dari mulut mungil putrinya.
Melihat Suaminya yang masih menatap kepergian putrinya itu, Sheila mencoba menyadarkan Raka dan mengajaknya untuk pulang. Sheila yang ingin mengandeng tangan suaminya itu harus menahan malu karena Raka menghempaskan tangannya dan pergi meninggalkannya.
"Dasar pelakor, Gak tahu malu. Perusak rumah tangga orang dapat laki hasil mencuri bangga." Ucap seorang pengunjung dan di sertai sorakan dan hinaan untuk Sheila.
Sheila yang sudah tidak tahan segera pergi mengejar Raka.
Sesampai di mobil Raka diam saja dan Sheila mencoba berbicara "Honey kita belum sempat belanja tas yang aku pengen itu loh." Ucap Sheila.
"Sheila bisa diam tidak, dalam keadaaan seperti ini masih sempat-sempatnya kamu memikirkan soal tas. Bukannya merasa menyesal dengan kelakuanmu tadi." Bentak Raka.
"Kamu kenapa sih mas, bukannya semua yang aku katakan itu fakta. Lagian biar anakmu tahu dan tidak menggangu rumah tangga kita." Ucap Sheila.
__ADS_1
"Tapi dia masih kecil dan belum tahu apa-apa shei, tapi kamu sudah membuat anakku membenciku." Teriak Raka.
"Nanti aku akan memberimu anak, dan ketika itu terjadi jangan pernah temui anakmu itu lagi." Teriak Sheila yang terbawa emosi.
Mendengar perkataan Sheila membuat Raka semakin murka, ia melajukan mobilnya dengan cepat tanpa peduli Sheila yang sudah ketakutan.
...*****...
"Mama...." Tangis Dara menghambur kepelukan sang mama.
"Dara kamu kenapa sayang, kenapa menangis?" Tanya Kasih khawatir.
"Maaf dek, tadi ketika kami di restoran tidak sengaja bertemu dengan Raka dan perempuan itu sehingga membuat Dara menangis." Ucap Rian berkata jujur.
__ADS_1
"Mama apa benar mama dan papa sudah bercerai. Kata Tante jahat papa sudah tidak sayang mama dan papa menikah dengan Tante jahat itu. Kenapa papa tega ninggalin kita mama, Sekarang Dara dan dedek Ardi sudah tidak punya papa lagi. Dara benci dengan papa ma, papa Jahat." Aduh Dara yang masih terus menangis.
"Maafin mama ya sayang, walau papa sudah tidak bersama kita lagi. Mama janji akan membuat Dara dan dedek Ardi bahagia. Jadi jangan menangis lagi ya sayang." Bujuk Kasih.
Dara yang masih sedih terus menangis sudah berkali-kali di bujuk oleh Kasih, bahkan semua orang yang ada di sana sudah mencoba membujuk tapi tetap bocah itu masih menangis. Tidak tahan mendengar tangisan gadis kecil itu Arkan mulai mendekati Dara dan membujuk gadis kecil itu, siapa sangka Dara dengan mudahnya luluh dengan bujukan Arkan bahkan gadis kecil itu meminta Arkan untuk mengendongnya.
Rian dan keluarganya ikut bergabung karena Kasih tidak memperbolehkan mereka pulang. Kasih bahkan memperkenalkan Rian dan keluarganya kepada keluarga Arkan.
Rian sesekali mencuri pandang ke arah Arkan dan keponakannya itu, ia senang melihat Dara yang sudah ceria lagi. Ketika semuanya sedang Asyik bercerita tiba-tiba Dara bertanya kepada Arkan.
"Om ganteng, apa om ganteng mau jadi papanya Dara dan dedek Ardi?" Ucap Dara dengan wajah imutnya.
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.
__ADS_1